Selasa, 21 Januari 2014

NEGARA ISLAM PADA PERIODE MODERN YANG MELIPUTI TURKI, MESIR, ASIA BARAT, IRAN, ANAK BENUA INDIA, EROPA DAN AMERIKA: KONDISI POLITIK, KEAGAMAAN, SOSIAL.
Oleh: Riyan Hidayat
NIM: 1123100029
10 Juni 2013 pukul 19:00


Abstrak
Disini hanya ada beberapa sumber yang dapat terangkum dalam pembahasan mengenai Negara Islam pada periode Modern. Pada masa Islam modern ini ada sebagian Negara yang memang dalam sejarah sering disebutkan dalam perkembangan peradaban, baik pasca runtuhnya Khalifah Utsmaniah ataupun sebelumnya. Seperti Turki itu sendiri, Masir Asia Barat, Iran, Anak Benua India, Eropa dan Amerika. Ada sebagian tokoh yang memang memberikan sebuah pernyataan akan adanya Islam modern melalui Negara yang dikuasainya. Mustafa Kemal, sosok ini tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan peradaban Islam yang berada di Turki. Dialah orang pertama kali yang memproklamasikan Turki sebagai sebuah Negara modern. Banyak tokoh lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Islam modern ini. Di bagian Mesir, Asia barat, Iran, Anak Benua India, eropa dan Amerika. Negara ini sudah berang pasti memproklamasikan dirinya sebagai Negara modern.

    A.    PENDAHULUAN
Pembaruan dalam Islam yang timbul pada periode-periode sejarah Islam mempunyai sebuah tujuan yang pasti dan nyata, yakni membawa umat Islam pada fase-fase kemajuan yang abadi, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan Islam itu sendiri. Perkembangan Islam dalam sejarahnya mengalami kemajuan yang sangat pesat dan juga kemunduran yang sangat menyakitkan dan mengenaskan. Pada pembahasan ini akan menguraikan perkembangan Islam pada masa modern dengan melibatkan beberapa Negara yang memang sudah diakui sebagai Negara modern. Pada masa itu, Islam mampu menjadi pemimpin peradaban. Mungkinkah Islam mampu kembali menjadi pemimpin peradaban?

Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat barat menggunakan istilah modernisme tersebut untuk sesuatu yang mengandung arti pikiran, aliran atau paradigma baru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun tekhnologi.

Islam yang secara posisi garis besar adalah pencetus dari kecanggihan ilmu barat khususnya Eropa, tentu mempunyai hak untuk kembali merebut sejarah yang sebenarnya.

B.     ISLAM DI TURKI
Dalam kaca mata barat, hampir semua negara Muslim seringkali dilihat sebagai Negara modern yang belum berhasil. Deretan fakta tentang kekurangan mereka misalnya dalam mengatur hubungan pemerintahan dengan rakyat yang dipimpinnya dan manajemen dalam mengatur kekuasaannya. Sehingga kediktoratan, nepotisme, korupsi, kolusi, dan rendahnya penerapan hak asasi manusia menjadi catatan “pinggir” dari Dunia Barat untuk Negara-negara Muslim. Singkat kata, Negara-negara Muslim bagi sebagian masyarakat Barat mempunyai reputasi sejarahnya sebagai negara modern. Padahal Dunia Barat sendiri dalam praktek kesehariannya bisa jadi tidak lebih baik, termasuk Negara-negara modern di Timur seperti Jepang, Korea dan sebagainya. Yang jelas dalam praktiknya, penerapan sistem kenegaraan modern terutama dalam menerapkan praktik demokrasi sangat tergantung pada siapa yang sedang berkuasa. (Ajid Thohir, 2004;217)
Karen Amstrong menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Islam: A Short History”(2002;185). Pengalaman dijajah dan bentrokan dengan eropa telah menyebabkan umat Islam tercabut dari akarnya. Dunia selalu berubah. Muslim menemui kesulitan dalam menanggapi Barat karena tantangan ini belum pernah ada sebelumnya.
Kejadian seperti itu pernah terjadi di Turki, bukan hanya di Negara-negara yang sebelumnya dikuasai oleh khalifah-khalifah Umayyah ataupun Abbasiyah. Pada masa Utsmani Islam mengalami puncak kemenangan dengan kuatan militernya yang luar biasa, namun pada akhirnya, kekuatan militernya mampu dikalahkan dengan kemajuan-kemajuan teknologi yang terjadi di eropa, sehingga pada akhirnya Turki Utsmani kalah.
Turki adalah jantung tepat salah satu kekhalifahan terbesar Islam, yakni Turki Utsmani. Oleh karena itu, keterikatan bangsa Turki terhadap Islam berlangsung sangat kuat sebab mereka adalah bangsa terkemuka di Dunia Islam selama berates-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang betapa pentinya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis, setiap orang yang bertempat tinggal di Turki adalah orang Turki, tetapi secara kebudayaan, orang Turki adalah hanya orang Muslim. (Ajid Thohir, 2004;218).
    C.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL TURKI PADA ISLAM MODERN

Untuk saat ini, apa saja yang terjadi dengan keadaan Islam yang terjadi di masa modern ini, khususnya di Negara yang sudah bertahun-memproklamasikan sebagai sebuah Negara modern? Tentunya pertanyaan seperti ini tidak akan lepas dari keadaan politik yang terjadi di Negara Turki di zaman modern ini.

Politik disini, selebihnya menjadi tangan basar untuk merangkul sebuah kepastian dari suatu keagamaan dan sosial yang terjadi pada fase-fase tertentu. Turki melalui politiknya, mampu membawa banyak perubahan yang baik terhadap dunia Islam, terutama melalui pertentangan dengan Mustafa Kemal.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Turki, golongan Islamis, sebagaimana diwakili oleh partai Refah (Kesejahteraan), meraih kemenangan besar politik ketika mereka menangguk lebih dari 21 persen suara rakyat dan 168 kursi dari 550 kursi di Majelis Nasional pada pemilu parlemen, Desember 1995. Semula, kedua partai secular kanan-tengah terbesar, Tanah Air dan dan Jalan Sejati, karena ditekan oleh militer yang kuat, tak mau memberi Refah buah kemenangannya dengan membentuk sebuah pemerintahan koalisi minoritas. Tapi setelah tiga bulan terjadi kelumpuhan politik, kawin paksa antara kedua pemimpin Tanah Air dan Jalan Sejati, masing-masing Mesut Yilmaz dan Tensu Ciller, ambruk pada Juni 1996, membukakan jalan bagi Refah guna membentuk pemerintahan gabungan bersama Jalan Sejati. Pemimpin Refah Necmettin Erbakan akhirnya bisa menduduki kursi perdana mentri. (Fawaz A. Gergez, 2002;249)
Hal yang mustahilpun terjadi: Negara paling Sekular di Timur Tengah dilanda oleh gelombang Islamis. Cita-cita Mustafa Kemal Ataturk tentang sebuah Negara modern dan secular berpola Barat dibayangi keruntuhan. Menengok kebelakang, seperti semua visioner, Ataturk gagal dalam ikhtiyarnya menciptakan seorang manusia baru yang tak dibayangi oleh warisan sejarah kekaisaran Ottoman yang berusia Lima ratus tahun. Rakyat Turki, meski terlambat, ternyata akhirnya bergabung juga dengan kerabat Arab dan Persia mereka yang relegius dalam upaya memadukan modernitas, agama dan keotentikan budaya. Tapi tak seperti para tetangga Muslim mereka, rakyat Turki melakukannya melalui institusi dan perangkat konstitusional yang dibangun oleh Negara Kemalis. Yang membedakan Turki dalam hal ini adalah Pluralismenya, yang membuat terpinggirnya kelompok-kelompok keras Islam di Turki, disbanding dengan oposisi Islamis bersenjata di Mesir dan Aljazair. (Fawaz A. Gergez, 2002;250)

Lalu apa saja yang menjadi pemicu, sehingga ti Turki ada Islamisasi yang membuat Mustafa Kemal resah dengan Ikhtiyarnya membuat manusia baru. Denny J.A., Fransiskus Surdiasis (2006;43) mencatat tiga kelompok utama yang menjadi pemicu islamisasi dalam dunia public di Turki. Pertama adalah kaum intelektual Islam yang banyak diinspirasi oleh pemikir Islam dunia seperti Mawdudi, Sayyid Qutub dan Ali Shariati. Para intelektual ini mempengaruhi opini umum melalui berbagai media tentang politik Islam sebagai altematif dari demokrasi Barat. Kedua, adalah para terdidik dari ilmu alam. Posisi mereka sangat penting dalam masyarakat karena merekalah yang menajadi tulang punggung perkembangan ekonomi dan industri. Ketiga, kaum wanita profisional. Melalui gerakan jilbab para wanita membawa symbol Islam ke dunia politik. Jibab yang mereka gunakan berfungsi sebagai penegasan identitas atas way of life masyarakat Turki yang semakin Barat dan Sekuler.

D.    ISLAM DI MESIR

Dalam catatan sejarah, Mesir pernah diduduki oleh beberapa kerajaan, yaitu dimulai daru masa firaun, Yunani, dan Romawi, khulfaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Mamlukiyah, dan Utsmaniyah. Menurut A.J. Butler, pendudukan Negara atau kerajaan tersebut telah menyebabkan Mesir jatuh dalam situasi yang tidak menguntungkan bahkan seluruh organisasi pemerintahan di Mesir diarahkan dengan tujuan memeras keuntungan bangsa terjajah untuk kepentingan penguasanya.  (Dedi Supriyadi, 2008;271)

Di satu sisi, banyaknya Negara yang menguasai Mesir membawa nilai-nilai positif, tetapi di pihak lain, mau tidak mau disitu telah terjadi asimilasi budaya dan politik. Lebih dahsyatnya lagi, asimilasi itu terjadi dalam aspek perundang-undangannya. Seperti yang dituturkan oleh Thaha Husainm, mereka yang berda dalam roda pemerintahan Mesir modern lebih cendrung mengikuti pola raja Louis di Perancis daripada mengikuti pola Abdul Hamid di Turki. Mereka membentuk pengadilan-pengadilan negeri dan memberlakukan hukum Barat daripada hukum Islam. (Dedi Supriyadi, 2008;271)

E.     POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN

Seperti digambarkan di atas, bahwa keagamaan dan kondisi sosial yang terjadi di suatu negara tidak terindikasi dari kondisi politik yang terjadi.
Di saat perhatian dunia terfokus pada konfontrasi yang berlarut-larut antara kelompok Islamis dan rezim Aljazair, para pengamat mengabaikan sebuah pertarungan yang lebih kuat memontumnya, yaitu antara pemerintah Mesir dan oposisi Islamis. Sejak awal era 90an, Mesir menyaksikan suatu perang skala kecil, pergesekan antara rezim dan kaum Islamis, yang memangsa lebih dari seribu nyawa dan menimbulkan kerugian miliaran dolar dari sektor pariwisata. Pada awal decade 1990an, para pejabat Amerika khawatir akan situasi keamanan Mesir yang makin rusak serta perbedaan kubu antara pemerintah dan masyarakat. Menurut sebuah laporan yang tidak dikonfirmasi, dimuat dalam harian Sunday Times Landon pada awal 1993, National Intelligence Estimate—yang merepresentasikan masukan kolektif dari semua dinas (agencies) amerika serikat—meramalkan bahwa “teroris-teroris fundamintalis Islam akan terus mengambil keuntungan diseluruh Mesir, dan mengarah ke penjatuhan pemerintahan Mubarak” (Fawaz A. Gergez, 2002;221)

Walaupun beberapa pejabat AS menampik penilaian itu, faktanya Amerika sangat khawatir akan perkembangan peristiwa di Kairo. Hanya di sedikit negara Timur Tengah  keterlibatan kepentingan Amerika sama seperti di Mesir. Mesir merupakan gerbang masuk ke dunia Arab dan jangkar dari kebijakan Amerika mengenai Timur Tengah karena kaitan eratnya dengan daerah Teluk penghasil minyak serta keterlibatan aktifnya dalam proses perdamaian Arab-Israel. Amerika telah menanam investasi besar-besaran di Mesir, memberinya bantuan ekonomi dan militer sebesar lebih dari US$ 2 miliar pertahun. Sejak 1979 Kairo telah menjadi sekutu dekat Washington—melalui proses perdamaian, memmfasilitasi negosiasi-negosiasi antara Arab dan Israel, meneguhkan koalisi pimpinan AS melawan Irak. Karena semua alasan ini, para petinggi Amerika berharap Mesir merupakan obor stabilitas di kawasan yang rawan itu. (Fawaz A. Gergez, 2002;222)
Kekhawatiran Amerika semakin berlarut-larut dengan adanya gerakan kelompok politik Islam yang sudah lama muncul dengan membawa misi dakwah Islam, yaitu Ikhwanul Muslimin. 

Di Mesir terdapat kelompok politik Islam Ikhwanul Muslimin dan di Paksitan terdapat Jamaat-i Islami. Gerakan politik Islam di Mesir hadir sebagai elternatif bagi warga Mesir, di mana pemerintah Mesir yang kerapkali memaksakan kebijakannya dengan cara-cara represif dan sangat korup, tidak popular dari sebagian warga Mesir. Gerakan politik Islam di Mesir menjadi semakin terargonisasi dan berkecimpung di bidang pendidikan, kesehatan dan gerakan sosial. Hal dapat dilakukan menjadi daya tarik bagi warga Mesir, karena pemerintah kadang kala tidak mampu untuk menyediakan sarana-sarana tersebut. Mubarak, seperti pemerintah-pemerintah lainnya di Timur Tengah, mengatakan bahwa tidak ada kelompok moderat di dalam gerakan politik Islam. Mubarok tidak segan-segan melakukan tindakan represif terhadap gerakan politik Islam. Lebih jauh lagi dia menyarankan agar kelompok intelektual-moderat Muslim untuk lebih menunjukkan gigi mereka. (Sihbudi, 2007;30)

Namun represif pemerintah itu musnah setelah adanya demontrasi besaran-besaran di Mesir, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2011. Para demontran menuntuk kepada Husni Mubarak untuk turun dari tahta kepresidenan dikarenakan dalam menjalani pemerintahan tidak pecus dan seringkali mencekal kondisi umat Islam di Mesir. Dengan terjadinya demontran dan tuntutan kepada Husni Mubarak untuk turun tahta akhirnya Mubarak jatuh kerezimannya terhadap masyarakat Mesir.

Pasca dari jatuhnya Mubarak, Ikhwanul Muslim tampil berani untuk menyerukan kepada masyarakat Mesir bagaimana Mesir dijalankan. Sehingga dari usaha itu mendapat banyak dukungan dari masyarakat Mesir dan akhirnya , pemerintahan Mesir dipimpin oleh Mohammed Morsi. Meskipun pada hakikatnya, tujuan dari menyerukan itu tiada lain hanya sekedar ingin berpartisipasi dalam demokrasi di Mesir bukan mendominasi dalam pemerintahan.

F.     ISLAM DI ASIA BARAT

Hampir semua negara di Asia Barat (kecuali Israel, Libanon, Cyprus) berpendudukan agama Islam. Di wilayah ini, Islam lahir pada abad ke-7 M, dan di sini pula dakwah Islam menyebar luas. Kawasan yang mayoritas terdiri atas bangsa Arab, memainkan peranan penting dalam segala peristiwa yang terkait sejarah dengan Islam. Karena itu, wilayah ini dikatakan sebagai “jantung dunia Islam”. (Dedi Supriyadi, 2008;276)

G.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN

Di Arab Saudi, tidak ada setu wilayah pun yang memiliki kedudukan khusus dan sejarah istimewa, kecuali setelah munculnya  Islam di Mekkah Al-Mukarramah. Raja-raja Islam secara bergantian telah menguasai Jazirah, sampai kemudian berakhir pada masa Saud.
Yaman, mayoritas beragama Islam (99%), hampir dari seperempatnya adalah pengikut Madzhab Syiah Az-Zaidiyah. Sejumlah revolusi telah terjadi di negeri ini. Pimpinannya Salim Rabi’ dicopot lalu di hukum mati. Seelah itu datang Abdul Fattah Ismail, yang dicopot dan di asingkan. Lalu, kekuasaan dipegang oleh Ali Nashir Muhammad. Kemudian kembali dipegang Abdul Fattah. Maka terjadi perang senjata antara kedua kekuatan ini pada tahun 1406-1407 H/1985-1986 M. Abdul Fattah terbunuh, sedangkan Ali Nashir melarikan diri.

Pada tahun 1994 M, telah disepakati undang-undang baru bagi Yaman  setelah dikembalikan lagi kesatuannya pada tahun 1420 H/1999 M. Pemilihan Presiden baru akan berlangsung, Yaman menderita karena hilangnya kekuasaan menyeluruh yang terlepas ke dalam kabilah-kabilah yang bersenjata. Saat ini, Yaman tengah menentukan garis batas dengan Saudi Arabia. Irak (negeri yang terletak di antara dua sungai) telah berdiri sejumlah peradaban kuno klasik. Irak tergabung masuk ke dalam pemerintahan Islamiah, setelah kemenangan besar Al-Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash pada tahun 14 H/635 M. Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja Islam (Umayyah dan Abbasiyah), lalu datang arus penyerbuan Monglia yang membumihanguskan negeri ini pada tahun 656 H/1258 M. Kemudian dikuasai oleh orang-orang Ustamaniyah pada masa antara tahun 941-1337 H/1534-1918 M. Pada tahun 1339 H/1920 M, wilayah ini berada di bawah otonomi Inggris. Pada tahun 1339 H/1921 M, Faisal bi Husein dinobatkan sebagai Raja Irak oleh Inggris dengan perdana mentrinya Nuri Kurdi pada tahun 1922-1932 M. Irak kemudian memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1531 H/1932 M.

Di Yordania mengalamai kekacauan setelah adanya rovolusi besar Arab  pada tahun 1335 H/1916 M dengan menyerang Ustamaniyah, setelah sebelumnya Yordania berada di bawah kekuasaam Utsmaniyah. Penyerangan ini di bawah pimpinan Husein Syarif yang berasal dari Mekkah dengan dukungan Inggris. Pada tahun 1340 H/1921 M. Yordania terbagi antara Perancis dan Inggris sehingga muncullah Yordania seperti wilayah merdeka, dikuasai oleh dua orang anak Asy-Syarif Husein Al-hasyimiyah yang memerintah di Yordania dan Irak.

Di daerah bagian Afganistan. Secara historis, diketahui bahwa nadir Shah setelah melakukan konslidasi di Persia, Nadr Quli Beg memusatkan perhatian ke wilayah timur untuk menyerang Heart (wilayah Afganistan). Pemimpin suku Abdali, Zulfikar Khan memohon bantuan kepada Kandahar, kemudian Saidal Khan, pemimpin suku Ghilzai mengirimkan bantuannya. Dalam peperangan di Kafir Kila, DEKAT PERBATAN Afghan, suku Afghan menderita kekalahan oleh penumpasan bangsa Persia pada tahun 1731. Nadir sendiri bersama pasukannya pada tahun 1732 menyerang kembali Heat. Ia menyerbun mati-matian, namun mengalami kekecewaan karena barisan kekuatan pasukan lawan memohon berdamai. Nadir dengan kesan penuh keberanian bicara kepada mereka dengan penuh rasa hormat, dan menarik pasukan tentara lawan menjadi barisan tentaranya. Ia terpilih menjadi Shah di Persia dengan nama Nadir Shah, pada tahun 1736. (Dedi Supriyadi,2008;283)

Sejak abad 16 sampai 18, Afghanistan tidak memiliki identitas politik dalam negeri dan merupakan bagian dari Kerajaan Mughal di India dan Kerajaan Safawi di Persia. Wilayahnya mencakup Kabul di utara sampai penugunangan Hindu Khus, Heart, dan Farah. Kandahar selama beberapa tahun diperselisihkan, namun suatu ketika Uzbek mampu mempengaruhi bagian utara dan barat. Secara berangsur-angsur mereka dapat mencapai tujuan kemerdekaan diikuti terbunuhnya penguasa Nadir Shah, yang memungkinkan tercapainya kemerdekaan di bawah penguasa Durani yang selanjutnya mendirikan kerajaan Durani pada tahun 1747. (Dedi Supriyadi, 2008;284)
Kebanyakan penduduk Afghanistan menganut agama Muhammad (Islam). Namun, mereka terbagi ke dalam beberapa suku yang berbeda, yang datang dari yemapt berbeda, serta memakai bahasa yang berbeda pula. Setelah melalui penaklukan, banyak tentara  yang menetap di sana dan melangsungkan pernikahan, selanjutnya membentuk suku-suku baru.

Walaupun Afghanistan merupakan salah satu pusat utama bagi penganut Budha, namun Islam telah menjadi dominasi sejak abad ke-10, bahkan Islam menjadi agama Negara yang dianut mayoritas penduduk. Muslim Afghanistan banyak menganut madzhab Hanafi atau termasuk sekte Sunni. Suku Hazzarat dan sebagian kecil penduduk lainnya menganut Sekte Syi’ah. Penduduk Nuristan tunduk terhadap Islam katika Amir Abdur Rahman Khan mengirim pasukan militer ke Gunung Valley pada tahun 1895. Sebelumnya, mereka termasuk kafir dan wilayahnya dinamakan Kafiristan.
      
     H.    ISLAM DI IRAN

Di Negara ini persentase pemeluk agama Islam sebesar + 98% (mayoritas adalah pengikut Syi’ah yang bermadzhab itsna Asyari atau Ja’fari) yang merupakan madzhab resmi negara. Di sana terdapt sedikit pengikut Sunni, Nasrani, Yahudi, dan Zoroaster yang jumlahnya tidak lebih dari 2%.
Iran muncul sebagai sebuah negara pada abad ke-10 H/16 M, dengan keluarga Syafawiyah sebagai penguasanya (907-1148 H/1502-1735 M) dengan mengumumkan madzhab Syi’ah sebagai madzhab Negara. Pada tahun 1135 H/1722 M. irna dikuasai oleh orang-orang Afghanistan. Kemudian dikuasai oleh Nadir Shah yang mengusir orang-orang Utsmaniyah dan Rusia.

I.       POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL IRAN PADA ISLAM MODERN

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah modern adalah Revolusi Islam di Iran. Revolusi ini penting dalam dua hal; pertama, ia adalah respons terbesar atas tantang hegemoni Barat;kedua, ia menyumbangkan sebuah model revolusi dalam sejarah dunia. Hassan Hanafi dengan tegas menyatakan bahwa kiri islam hasil yang nyata dari revolusi Islam Akbar di Iran. Yang menarik, ketika Hassan Hanafi menyebut revolusi Iran ia selalu menggunakan kata sifat “akbar”, yang dari situ kita dapat memperkirakan betapa besar dampak revolusi Islam itu ke dalam pemikiran Hassan Hanafi dan Intelektual Arab—muslim pada umumnya. Bagi Hassan Hanafi sendiri, Revolusi Iran adalah “Revolusi Islam yang terjadi di Iran.” Salah satu responsinya terhadap Barat adalah dengan cara memperkenalkan Revolusi Islam itu kepada khalayak muslim, namun  bukan berarti dengan demikian ia “menganjurkan” melakukan oposisi terhadap pemerintah, apalagi agitasi atau  pemberontakan di dalam suatu Negara. Kiri Islam sesungguhnya hanya melakukan investigasi terhadap gerakan revolusioneritu dan ingin melakukan teorisasi revolusi di kalangan muslim.  Revolusi yang dimaksud adalah Revolusi Tauhid. (Kazuo Shimogaki, 2003;51)

Revolusi Islam Iran dinilai sebagai kemenangan al-haq atas al-bhatil dan lambang kemenangan kaum tertindas (mustadh’afin) atas kaum penindas (mustakbirin), menimbulkan kepercayaan diri di kalangan gerakan Islam diberbagai negara Muslim, khususnya dikalangan Muslim Syi’ah yang tersebar diseluruh negara Arab . contohnya, kelompok Islam antimonarki di Arab Saudi (dikenal dengan nama “Gerakan Imam Mahdi”) pun berani unjuk kekuatan  dengan menduduki Majidil Haram Makkah (20 November 1979), disusul kemudian aksi demontrasi besar-besaran antimonarki di Hasa oleh kaum Syiah Saudi (29 November 1979). (Asep, 2000;98)

Diseluruh dunia Islam, revolusi Islam Iran menjadi model tentang apa yang mungkin dicapai oleh Islam politik. Pada revolusi itulah, pertama kalinya para pemimpin Islam mengambil alih kekuasaan di sebuah negara modern yang besar. Revolusi ini menjadi menjadi inspirasi bagi para aktivis politik Islam di mana-mana. Akan tetapi, apa yang didirikan di atas tradisi monarki  Iran tentu saja berbeda dari apa yang dapat didirikan di atas tradisi kesukuan Arab atau Afghanistan. (Antony Black, 2006;605)
Monarki Patrimonial di Iran, yang selamat dari Invasi Arab Muslim dan Mongol, runtuh pada abad ke-20. Setelah 1.300 tahun hidup berdampingan, Islam akhirnya menggantikannya dengan pranata politik-keagamaannya sendiri. Republik Islam Iran adalah sebuah fenomena unik. Bagaimana ia akan berkembang, mustahil diprediksi. Berkaca pada sejarah panjang naiknya Ulama’ Syiah ke panggung kekuasaan, tampaknya tidak mungkin mereka akan kehilangan kekuasaan dengan mudah. (Antony Black, 2006;605)

J.      ISLAM DI ANAK BENUA INDIA

Situasi India, secara kultural, saat Islam masuk sebeanranya sedang berada ddalam titik lemah, akibat konflik yang berkepanjangan antarkekuatan agama dan politik, yakni antara kasta Brahmanik-Hinduisme dan keyakinan Budha, serta munculnya berbagai elit politik, terutama dominannya elit Rajput dengan elit-elit politik Hindu. Dalam kondisi demikian, pemerintahan local mengambil peran yang lebih dominan dalam menanamkan pengaruhnya terhadap rakyatnya. Tidak hanya sebatas itu, berbagai kewenangan yang berlebihan dalam penggunaan kekuasaannya pun hampir mudah ditemukan di setiap wilayah. Anehnya, masyarakat India tetap saja setia pada kenyataan tersebut. (Dedi Supriyadi, 2008;301)

Gambaran umum tentang masyarakat India saat Islam memasuki wilayah ini, menunjukkan indikasi yang sangat sulit bagi proses Islamisasi. Ini menunjukkan bahwa betapa kuatnya pengaruh dan dominasi kultural yang telah dibentuk oleh pendahulu dan penguasanya dalam menciptakan ideology keagamaan dan sentiment kulturalnya. Melihat kondisi ini, seorang sejarawan Muslim terkemuka di Al-Baruni (wafat tahun 1048 di Ghazna, Afghanistan sekarang), dalam kapasitasnya sebagai pengamat sosial menjelaskan dalam karya Kitab Al-Hind yang ditulisnya pada tahun 1017, menyimpulkan bahwa ada lima hal penting yang menjadi titik perhatian pengamatannya, sekaligus menjadi cirri jhas masyarakt India, dalam menolak sesuatu yang dayang dari luar, yakni bahasa, agama, tradisi, dan kebencian terhadap orang asing, fanatisme, dan keangkuhan budaya. (Dedi Supriyadi, 2008; 301)

K.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL ANAK BENUA INDIA PADA ISLAM MODERN

Islam adalah agama monoritas di Anak Benua India sehingga kurang mempunyai ruang gerak  untuk membumikan dan mengukuhkan eksistensinya. Islam dan Hindu ibarat dua arus sungai yang mengalir dan bersumber dai muara yang berbeda. Walaupun penduduknya tetap hidup berdampingan bersama selama berbad-abad, namun pandangan mereka tetap hidup dan kehidupan merupakan batas pemisah yang tidak bisa dijembatani. (Zaenal Ali, 2008; 78)

Teori dua bangsa adalah konsep yang dirintis oleh Sayyed Ahmad  Khan, seorang tokoh Revivalis India. Teori ini berdasar pada realitas sejarah bahwa umat Islam dan Hindu merupakan dua bangsa dengan latar belakang budaya, beradaban, adat, literature, sejarah dan agama yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut telah memicu konflik internal antar-pemeluk agama yang sama-sama berusaha untuk menancapkan hegemoni politik di Anak Benua India. (Zaenal Ali, 2008; 78) Dengan bantuan dan dukungan dari Inggris, umat Hindu berhasil menggeser dan menyingkirkan umat Islam dari pos-pos penting pemerintahan sehingga mereka kehilangan hak-hak politik serta kebebasan dalam menjalankan perintah dan ajaran Islam. Kondisi ini semakin memburuk akibat dari sikap curiga pemerintah Inggris dan India terhadap umat Islam. (Zaenal Ali, 2008; 78)

Keterpurukan Umat Islam di India menjadi dampak yang sangat memprihatinkan dari ekonomi, pendidikan, dan politik. Dari kondisi inilah kemudian Umat Islam di India berkobar untuk memisahkan diri dari India dan membentuk sebuah negara yang melindungi identitas bangsa dan agama. Ini menjadi bukti bahwa Pakistan lahir dari sebuah komitmen ideologi yang berakar pada prinsip Islam.

L.     ISLAM DI EROPA

Secara historis, penyebaran imigran muslim di Eropa sekarang mencerminkan wilayah pengaruh penjajahan masa lalu. Kebanyakan imigran yang menetap di Perancis adalah orang Maroko, Aljazair, dan sejumlah muslim Afrika dari Selatan Sahara. Mereka semua, awalnya dijajah Perancis. Kebanyakan orang Indonesia menempati Belanda. Adapun Inggris banyak ditempati imigran dari Anak Benua India, Malaysia, dan sejumlah orang Yaman, Somalia, dan Afrika Utara. Sedangkan Jerman agak berbeda, imigran yang ada kebanyakan orang Turki, Maroko, dan yang lainnya tidak ada kaitan dengan pengaruh Jerman. Sekalipun mereka orang muslim, namun gaya hidup masing-masing sesuai dengan kebiasaan dan sikap hidup yang dibawa dari negeri asalnya menunjukkan perbedaan. (Dedi Suryadi, 2008; 308) Islam mempunyai banyak sumbangan atas kebudayaan Eropa. Mereka banyak menyimpan tulisan Yunani Kuno dan menerjemahkannya sehingga dapat dimamfaatkan oleh orang Eropa. Islam juga banyak memajukan bidang studi matematika dan kedokteran. System angka yang berasal dari Arab mulai diperkenalkan dan masih tetap dipakai hingga saat ini. (Dedi Suryadi, 2008; 308)

M.   POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL EROPA PADA ISLAM MODERN

Memprediksi jumlah penduduk Eropa sangatlah sukar sebab sangat sulit memperoleh data yang akurat. Tiap-tiap negara mempunyai catatan masing-masing yang sulit dipertanggungjawabkan nilai keakuratannya. Sebuah laporan penelitian menyebutkan, orang Muslim yang berada di Perancis [ada 1980-an ada sekitar 3 juta orang. Warga Muslim yang terdapat di Jerman Barat pada 1987 sekitar 1.650.000 orang. Sedangkan penduduk Muslim Inggris pada 1991 sekitar 1.200.000 orang. Kebenaran hasil sensus ini masih diragukan sebab mungkin sensus dilakukan berdasarkan negeri asal mereka, kemudian diinterpretasikan menjadi data yang menunjukkan penduduk Muslim mengingat semua imigran ti memeluk agama Islam. (Ajid Thohir, 2004;330)

Setelah para imigran Muslim terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu di suatu negara Eropa, mereka mulai merasa penting terhadap masjid dan organisasi sebagaimana mereka ketika berada di negara-negara asalnya. Jumlah masjid mulai berkembang. Di Inggris misalnya, pada akhir 1960, hanya tercatat Sembilan masjid sebagai tempat ibadah. Dan hanya bertambah empat masjid lagi selama lima tahun berikutnya, tetapi pada 1966, terdapat loncatan sehingga jumlah masjid terus bertambah delapan buah tiap tahunnya. (Ajid Thohir, 2004;331)

Setelah mereka berkenalan dengan proses birokrasi dari pemerintahan local, masjid baru bertambah terus sehingga tercatat penambahan sekitar 20 sampai 30 masjid tiap tahunnya. Pada akhir 1985, terdapat 329 masjid yang tercatat, dan diperkirakan banyak masjid yang didirikan tetapi tidak sempat tercatat. (Ajid Thohir, 2004;331)
Tantangan yang dihadapi umat Islam yang hidup di Eropa pada umumnya sama dengan mereka yang hidup di daerah-daerah lain sebagai kelompok minoritas. Tantangan ini ada yang datang dari luar dan ada yang datang dari dalam. (Dedi Supriyadi, 2008;314)
Politik, tentunya menjadi tantangan pertama dalam mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Eropa. Sebab kemajuan politik di sini, maka akan berpengaruh dengan perkembangan pendidikan dam ekonomi Islam di Eropa khususnya.

Tantangan dari luar adalah kondisi negara sekuler yang di satu pihak member kesempatan kepada setiap pemeluk agama untuk bebas menjalankan agamanya. Namun, di lain pihak segala sesuatu yang dapat merugikan umat Islam pun dapat berlangsung dengan bebas. Di Eropa Barat banyak para orientalis yang sering memutarbalikkan ajaran Islam sehingga citra Islam menjadi rusak. (Dedi Supriyadi, 2008;314)
Tantangan dari dalam berupa bagaimana menyatukan potensi yang dimiliki umat Islam, sehingga Islam tidak terkotak-kotak dalam aliran tertentu dan terlihat kompak dalam menghadapi segala problem dunia modern. Umat Islam harus mampu memberikan citra ideal pada bangs Eropa Barat, bukan sebaliknya, larut dalam kehidupan barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. (Dedi Supriyadi, 2008;315)

N.    ISLAM DI AMERIKA

Masuknya Islam ke Amerika masih bersifat spekulatif karena tidak ada teori yang tegas kedatangan Islam masuk ke Amerika. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa para pelaut muslim adalah orang-orang pertama yang menyeberangi samudra Atlantik dan tiba di pantai-pantai Amerika. Sebagian lain mengatakan, bahwa Cristoper Colombus telah dibimbing untuk mendarat di benua itu oleh navigator-navigator dan pembantu-pembantu muslim Andalusia atau Maroko yang jasa-jasanya telah dibayar oleh Colombus. (Dedi Supriyadi, 2008;315)

Adapun orang Amerika yang pertama sebagai pemeluk Islam yang tercatat adalah Reverend Norman, seorang misionaris gereja Methodisty di Turki yang memeluk Islam pada tahun 1970, pada decade berikutnya seorang Afro Amerika. Muhammad Alexandder Russel Webb yang masuk Islam ketika ia bertugas sebagai konsul jenderal AS di Filipina pada tahun 1887. Ia adalah pelopor yang pertama mendirikan organisasi Islam di negeri ini pada tahun 1893 dan menerbitkan The Muslim World sebagai sarana dakwahnya. (Dedi Supriyadi, 2008;317)

Memasuki abad ke-19, perdagangan budak diberhentikan, terutama setelah Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Emancipation Proklamation (Proklamasi kemerdekaan) tanggal 1 Januari 1863, yang menetapkan bahwa budak-budak di negara sebagian AS adalah merdeka. Dengan demikian, banyak orang Islam yang berasal dari Mesir, Yordania, Siria, Irak, Pakistan, India, Turki, Yugoslavia, Uni Soviet, dan Albania yang bermigrasi ke Amerika pada tahun itu kemudian disusul dengan gelombang imigrasi berikutnya. (Dedi Supriyadi, 2008;317)

O.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL AMERIKA PADA ISLAM MODERN

Menurut cendikiawan terkemuka Prancis, Maxime Rodinson, “Umat Kristen di Barat mempersepsi Dunia Muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam dilihat sebagai masalah nyata.” Pandangan ini disepakati oleh sejarawan Inggris Albert Hourani, yang berpendapat bahwa Islam sejak awal kemunculannya merupakan masalah bagi Eropa yang Kristen. (Fawaz A. Gerges, 2002; 47)
Tidak seperti Eropa, Amerika tak terlibat dalam hubungan panjang dan berdarah dengan negara-negara manapun masyarakat Muslim. Amerika tidak pernah secara langsung menguasai tanah Arab dan muslim ataupun membentuk system rumit penjajahan seperti yang dilakukan Eropa.

Perkembangan politik Islam di kawasan Amerika semakin berkembang terutama di kawasan Meksiko, Negara yang berada di kawasan Benua Amerika itu sendiri. Sejarah perkembangan Islam di negeri ini tidak lepas dari masuknya pengaruh asing berupa penjajahan bangsa Barat yang didominasi Kristen. Di antara pergolakan politik, Islam di Meksiko mulai menjalar dalam nuansa damai dan kekeluargaan. Perlahan-lahan, perkembangan Islam di Meksiko pun mulai tampak sejak tahun 1993. Dengan didirikannya pusat Kebudayaan Islam Meksiko (Centro Cultural Islamico de Mexico atau CCIM) di tahun 1994, beberapa penduduk no Muslim mulai mengenal Islam. Secara umum, respon di semua tingkat sosial cukup baik dan mulai menerima keberadaan Islam.

Politik yang terjadi di Amerika semakin membuat beberapa negara Muslim geram. Hal yang menjadi pemicu kegeraman adalah bentuk pernyataan terorisme yang disodorkan oleh Amerika kepada public Islam. Terorisme muncul sebagai salah satu isu politik terpenting di Amerika Serikat. Sebagian pejabat dan pengamat di AS mengaitkannya dengan dengan Militan Islam, khususnya Iran. Mentri Luar Negeri AS Warren Christopher mengatakan, “Iran adalah negara sponsor terorisme nomor satu di Dunia.”
Gejolak politik di Amerika semakin memanas setalah tragedy pengeboman World Trade Center pada Februari 1993, yang menyebabkan sepuluh Muslim dituduh menjalankan “perang terorisme Urban” melawan Amerika dan merencanakan pembunuhan Presiden (Mesir Mubarak. Beberapa pengamat semakin memanas-manasi situasi dengan memperingatkan tentang adanya suatu jaringan internasional yang terkordinasi dari kelompok-kelompok “teroris Islam” di seluruh Amerika Serikat dengan senjata tertuju kea rah kepentingan-kepentingan Barat.

Dari tragedi 1993 itulah, pencekalan demi pencekalan terjadi di Amerika terhadap kaum Muslim yang berada di sana. Penindasan dan pelecehan terus terjadi, dan umat Islam terasa di asingkan dari kehidupan Amerika.

Kegeraman dunia Islam terhadap Amerika adalah sikap Amerika kepada Islam ketika terkuak pelecehan Amerika terhadap Alquran dengan membakarnya. Sebagaimana dilansir di Liputan6.com, Springfiled: Pembakaran Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones, pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata pembakaran dilakukan oleh pengikut Terry, pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat.
Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan. Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan segelintir orang, yang sebagian besar dari media.

Namun seiring pekembangan Islam sekarang. Setelah naiknya Barrack Obama, Islam yang tinggal di Amerika ada di garis aman dan untuk sementara ini tidak ada gangguaan.
Menurut Ajid Thohir yang dilansir di http://www.rimanews.com/read/20130423/99918/perkembangan-islam-di-amerika-serikat-dari-masa-ke-masa, sejarah perkembangan Islam di Amerika dewasa ini terus mengalami peningkatan dengan adanya tiga faktor. Pertama, arus datangnya kaum imigran muslim semakin bertambah, dan keturunan mereka juga bertambah. Kedua, konversi agama di kalangan penduduk Amerika berkulit hitam. Ketiga, konversi agama di kalangan kulit putih.

P.       PENUTUP

Dari keterangan di atas diambil secara kesimpulan bahwa perkembangan Islam di masa modern ini masih belum bisa diunggulkan secara politik. Namun meskipun terbelakangnya sistem politik disini. Secara garis besar bahwa perkembangan Islam secara jumlah mulai meningkat dan terus meningkat dari setiap masa. Tidak kemungkinan, masa-masa selajutnya, dari jumlah yang mulai meningkat, mampu memenangkan panggung poltik yang sekarang belum begitu stabil.

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Supriyadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2008
Fawaz A. Gerges, Amerika dan Islam politik: benturan peradaban atau benturan kepentingan?, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2002
Denny J.A., Fransiskus Surdiasis, Catatan Politik, Yogyakarta; PT LKiS Pelangi Aksara, 2006
M. Riza Sihbudi, Menyendera Timur Tengah, Jakarta: Hikmah, 2007
Kazuo Shimogaki, Kiri islam: antara modernisme dan postmodernisme : telaah kritis pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta; PT LKiS Pelangi Aksara, 2003
Asep Syamsul M. Romli, Demonologi Islam: upaya Barat membasmi kekuatan Islam Kajian politik. Jakarta; Gema Insani Press, 2000
Antony Black, Pemikiran politik Islam: dari masa Nabi hingga masa kini, Jakarta; PT Serambi Ilmu Semesta, 2006
Zaenal Ali, Tragedi Banazir Bhutto, Yogyakarta; Narasi, 2008
http://news.liputan6.com/read/296609/pembakaran-alquran-ternyata-jadi-dilakukan 08 Juni 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar