NEGARA ISLAM PADA
PERIODE MODERN YANG MELIPUTI TURKI, MESIR, ASIA BARAT, IRAN, ANAK BENUA INDIA, EROPA
DAN AMERIKA: KONDISI POLITIK, KEAGAMAAN, SOSIAL.
Oleh: Riyan Hidayat
NIM: 1123100029
10 Juni 2013 pukul 19:00
Abstrak
Disini hanya ada beberapa sumber yang dapat terangkum dalam
pembahasan mengenai Negara Islam pada periode Modern. Pada masa Islam modern
ini ada sebagian Negara yang memang dalam sejarah sering disebutkan dalam
perkembangan peradaban, baik pasca runtuhnya Khalifah Utsmaniah ataupun
sebelumnya. Seperti Turki itu sendiri, Masir Asia Barat, Iran, Anak Benua
India, Eropa dan Amerika. Ada sebagian tokoh yang memang memberikan sebuah
pernyataan akan adanya Islam modern melalui Negara yang dikuasainya. Mustafa
Kemal, sosok ini tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan peradaban Islam yang
berada di Turki. Dialah orang pertama kali yang memproklamasikan Turki sebagai
sebuah Negara modern. Banyak tokoh lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari
sejarah Islam modern ini. Di bagian Mesir, Asia barat, Iran, Anak Benua India,
eropa dan Amerika. Negara ini sudah berang pasti memproklamasikan dirinya
sebagai Negara modern.
A. PENDAHULUAN
Pembaruan dalam Islam yang timbul pada periode-periode sejarah
Islam mempunyai sebuah tujuan yang pasti dan nyata, yakni membawa umat Islam
pada fase-fase kemajuan yang abadi, baik dalam ilmu pengetahuan maupun
kebudayaan Islam itu sendiri. Perkembangan Islam dalam sejarahnya mengalami
kemajuan yang sangat pesat dan juga kemunduran yang sangat menyakitkan dan
mengenaskan. Pada pembahasan ini akan menguraikan perkembangan Islam pada masa
modern dengan melibatkan beberapa Negara yang memang sudah diakui sebagai
Negara modern. Pada masa itu, Islam mampu menjadi pemimpin peradaban.
Mungkinkah Islam mampu kembali menjadi pemimpin peradaban?
Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu
dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat barat menggunakan
istilah modernisme tersebut untuk sesuatu yang mengandung arti pikiran, aliran
atau paradigma baru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang
ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun tekhnologi.
Islam yang secara posisi garis besar adalah pencetus dari
kecanggihan ilmu barat khususnya Eropa, tentu mempunyai hak untuk kembali
merebut sejarah yang sebenarnya.
B. ISLAM
DI TURKI
Dalam kaca mata barat, hampir semua negara Muslim seringkali
dilihat sebagai Negara modern yang belum berhasil. Deretan fakta tentang
kekurangan mereka misalnya dalam mengatur hubungan pemerintahan dengan rakyat
yang dipimpinnya dan manajemen dalam mengatur kekuasaannya. Sehingga
kediktoratan, nepotisme, korupsi, kolusi, dan rendahnya penerapan hak asasi
manusia menjadi catatan “pinggir” dari Dunia Barat untuk Negara-negara Muslim.
Singkat kata, Negara-negara Muslim bagi sebagian masyarakat Barat mempunyai
reputasi sejarahnya sebagai negara modern. Padahal Dunia Barat sendiri dalam
praktek kesehariannya bisa jadi tidak lebih baik, termasuk Negara-negara modern
di Timur seperti Jepang, Korea dan sebagainya. Yang jelas dalam praktiknya,
penerapan sistem kenegaraan modern terutama dalam menerapkan praktik demokrasi
sangat tergantung pada siapa yang sedang berkuasa. (Ajid Thohir, 2004;217)
Karen Amstrong menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Islam:
A Short History”(2002;185). Pengalaman dijajah dan bentrokan dengan eropa
telah menyebabkan umat Islam tercabut dari akarnya. Dunia selalu berubah.
Muslim menemui kesulitan dalam menanggapi Barat karena tantangan ini belum
pernah ada sebelumnya.
Kejadian seperti itu pernah terjadi di Turki, bukan hanya di
Negara-negara yang sebelumnya dikuasai oleh khalifah-khalifah Umayyah ataupun
Abbasiyah. Pada masa Utsmani Islam mengalami puncak kemenangan dengan kuatan
militernya yang luar biasa, namun pada akhirnya, kekuatan militernya mampu
dikalahkan dengan kemajuan-kemajuan teknologi yang terjadi di eropa, sehingga
pada akhirnya Turki Utsmani kalah.
Turki adalah jantung tepat salah satu kekhalifahan terbesar
Islam, yakni Turki Utsmani. Oleh karena itu, keterikatan bangsa Turki terhadap
Islam berlangsung sangat kuat sebab mereka adalah bangsa terkemuka di Dunia
Islam selama berates-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang
betapa pentinya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis,
setiap orang yang bertempat tinggal di Turki adalah orang Turki, tetapi secara
kebudayaan, orang Turki adalah hanya orang Muslim. (Ajid Thohir, 2004;218).
C. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL TURKI PADA ISLAM MODERN
Untuk saat ini, apa saja yang terjadi dengan keadaan Islam yang
terjadi di masa modern ini, khususnya di Negara yang sudah
bertahun-memproklamasikan sebagai sebuah Negara modern? Tentunya pertanyaan
seperti ini tidak akan lepas dari keadaan politik yang terjadi di Negara Turki
di zaman modern ini.
Politik disini, selebihnya menjadi tangan basar untuk merangkul
sebuah kepastian dari suatu keagamaan dan sosial yang terjadi pada fase-fase
tertentu. Turki melalui politiknya, mampu membawa banyak perubahan yang baik
terhadap dunia Islam, terutama melalui pertentangan dengan Mustafa Kemal.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Turki, golongan
Islamis, sebagaimana diwakili oleh partai Refah (Kesejahteraan), meraih
kemenangan besar politik ketika mereka menangguk lebih dari 21 persen suara
rakyat dan 168 kursi dari 550 kursi di Majelis Nasional pada pemilu parlemen,
Desember 1995. Semula, kedua partai secular kanan-tengah terbesar, Tanah Air
dan dan Jalan Sejati, karena ditekan oleh militer yang kuat, tak mau memberi
Refah buah kemenangannya dengan membentuk sebuah pemerintahan koalisi
minoritas. Tapi setelah tiga bulan terjadi kelumpuhan politik, kawin paksa
antara kedua pemimpin Tanah Air dan Jalan Sejati, masing-masing Mesut Yilmaz
dan Tensu Ciller, ambruk pada Juni 1996, membukakan jalan bagi Refah guna
membentuk pemerintahan gabungan bersama Jalan Sejati. Pemimpin Refah Necmettin
Erbakan akhirnya bisa menduduki kursi perdana mentri. (Fawaz A. Gergez,
2002;249)
Hal yang mustahilpun terjadi: Negara paling Sekular di Timur
Tengah dilanda oleh gelombang Islamis. Cita-cita Mustafa Kemal Ataturk tentang
sebuah Negara modern dan secular berpola Barat dibayangi keruntuhan. Menengok
kebelakang, seperti semua visioner, Ataturk gagal dalam ikhtiyarnya menciptakan
seorang manusia baru yang tak dibayangi oleh warisan sejarah kekaisaran Ottoman
yang berusia Lima ratus tahun. Rakyat Turki, meski terlambat, ternyata akhirnya
bergabung juga dengan kerabat Arab dan Persia mereka yang relegius dalam upaya
memadukan modernitas, agama dan keotentikan budaya. Tapi tak seperti para
tetangga Muslim mereka, rakyat Turki melakukannya melalui institusi dan
perangkat konstitusional yang dibangun oleh Negara Kemalis. Yang membedakan
Turki dalam hal ini adalah Pluralismenya, yang membuat terpinggirnya
kelompok-kelompok keras Islam di Turki, disbanding dengan oposisi Islamis
bersenjata di Mesir dan Aljazair. (Fawaz A. Gergez, 2002;250)
Lalu apa saja yang menjadi pemicu, sehingga ti Turki ada
Islamisasi yang membuat Mustafa Kemal resah dengan Ikhtiyarnya membuat manusia
baru. Denny J.A., Fransiskus Surdiasis (2006;43) mencatat tiga kelompok utama
yang menjadi pemicu islamisasi dalam dunia public di Turki. Pertama adalah kaum
intelektual Islam yang banyak diinspirasi oleh pemikir Islam dunia seperti
Mawdudi, Sayyid Qutub dan Ali Shariati. Para intelektual ini mempengaruhi opini
umum melalui berbagai media tentang politik Islam sebagai altematif dari
demokrasi Barat. Kedua, adalah para terdidik dari ilmu alam. Posisi mereka
sangat penting dalam masyarakat karena merekalah yang menajadi tulang punggung
perkembangan ekonomi dan industri. Ketiga, kaum wanita profisional. Melalui
gerakan jilbab para wanita membawa symbol Islam ke dunia politik. Jibab yang
mereka gunakan berfungsi sebagai penegasan identitas atas way of life masyarakat
Turki yang semakin Barat dan Sekuler.
D. ISLAM
DI MESIR
Dalam catatan sejarah, Mesir pernah diduduki oleh beberapa
kerajaan, yaitu dimulai daru masa firaun, Yunani, dan Romawi, khulfaur
Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Mamlukiyah, dan Utsmaniyah. Menurut A.J. Butler,
pendudukan Negara atau kerajaan tersebut telah menyebabkan Mesir jatuh dalam
situasi yang tidak menguntungkan bahkan seluruh organisasi pemerintahan di
Mesir diarahkan dengan tujuan memeras keuntungan bangsa terjajah untuk
kepentingan penguasanya. (Dedi Supriyadi, 2008;271)
Di satu sisi, banyaknya Negara yang menguasai Mesir membawa
nilai-nilai positif, tetapi di pihak lain, mau tidak mau disitu telah terjadi
asimilasi budaya dan politik. Lebih dahsyatnya lagi, asimilasi itu terjadi
dalam aspek perundang-undangannya. Seperti yang dituturkan oleh Thaha Husainm,
mereka yang berda dalam roda pemerintahan Mesir modern lebih cendrung mengikuti
pola raja Louis di Perancis daripada mengikuti pola Abdul Hamid di Turki.
Mereka membentuk pengadilan-pengadilan negeri dan memberlakukan hukum Barat
daripada hukum Islam. (Dedi Supriyadi, 2008;271)
E. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN
Seperti digambarkan di atas, bahwa keagamaan dan kondisi sosial
yang terjadi di suatu negara tidak terindikasi dari kondisi politik yang
terjadi.
Di saat perhatian dunia terfokus pada konfontrasi yang
berlarut-larut antara kelompok Islamis dan rezim Aljazair, para pengamat
mengabaikan sebuah pertarungan yang lebih kuat memontumnya, yaitu antara
pemerintah Mesir dan oposisi Islamis. Sejak awal era 90an, Mesir menyaksikan
suatu perang skala kecil, pergesekan antara rezim dan kaum Islamis, yang memangsa
lebih dari seribu nyawa dan menimbulkan kerugian miliaran dolar dari sektor
pariwisata. Pada awal decade 1990an, para pejabat Amerika khawatir akan situasi
keamanan Mesir yang makin rusak serta perbedaan kubu antara pemerintah dan
masyarakat. Menurut sebuah laporan yang tidak dikonfirmasi, dimuat dalam
harian Sunday Times Landon pada awal 1993, National
Intelligence Estimate—yang merepresentasikan masukan kolektif dari semua
dinas (agencies) amerika serikat—meramalkan bahwa “teroris-teroris fundamintalis
Islam akan terus mengambil keuntungan diseluruh Mesir, dan mengarah ke
penjatuhan pemerintahan Mubarak” (Fawaz A. Gergez, 2002;221)
Walaupun beberapa pejabat AS menampik penilaian itu, faktanya
Amerika sangat khawatir akan perkembangan peristiwa di Kairo. Hanya di sedikit
negara Timur Tengah keterlibatan kepentingan Amerika sama seperti di
Mesir. Mesir merupakan gerbang masuk ke dunia Arab dan jangkar dari kebijakan
Amerika mengenai Timur Tengah karena kaitan eratnya dengan daerah Teluk
penghasil minyak serta keterlibatan aktifnya dalam proses perdamaian
Arab-Israel. Amerika telah menanam investasi besar-besaran di Mesir, memberinya
bantuan ekonomi dan militer sebesar lebih dari US$ 2 miliar pertahun. Sejak
1979 Kairo telah menjadi sekutu dekat Washington—melalui proses perdamaian,
memmfasilitasi negosiasi-negosiasi antara Arab dan Israel, meneguhkan koalisi
pimpinan AS melawan Irak. Karena semua alasan ini, para petinggi Amerika
berharap Mesir merupakan obor stabilitas di kawasan yang rawan itu. (Fawaz A.
Gergez, 2002;222)
Kekhawatiran Amerika semakin berlarut-larut dengan adanya
gerakan kelompok politik Islam yang sudah lama muncul dengan membawa misi
dakwah Islam, yaitu Ikhwanul Muslimin.
Di Mesir terdapat kelompok politik Islam Ikhwanul Muslimin dan
di Paksitan terdapat Jamaat-i Islami. Gerakan politik Islam di Mesir hadir
sebagai elternatif bagi warga Mesir, di mana pemerintah Mesir yang kerapkali
memaksakan kebijakannya dengan cara-cara represif dan sangat korup, tidak
popular dari sebagian warga Mesir. Gerakan politik Islam di Mesir menjadi
semakin terargonisasi dan berkecimpung di bidang pendidikan, kesehatan dan
gerakan sosial. Hal dapat dilakukan menjadi daya tarik bagi warga Mesir, karena
pemerintah kadang kala tidak mampu untuk menyediakan sarana-sarana tersebut.
Mubarak, seperti pemerintah-pemerintah lainnya di Timur Tengah, mengatakan
bahwa tidak ada kelompok moderat di dalam gerakan politik Islam. Mubarok tidak
segan-segan melakukan tindakan represif terhadap gerakan politik Islam. Lebih
jauh lagi dia menyarankan agar kelompok intelektual-moderat Muslim untuk lebih
menunjukkan gigi mereka. (Sihbudi, 2007;30)
Namun represif pemerintah itu musnah setelah adanya demontrasi
besaran-besaran di Mesir, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2011. Para
demontran menuntuk kepada Husni Mubarak untuk turun dari tahta kepresidenan
dikarenakan dalam menjalani pemerintahan tidak pecus dan seringkali mencekal
kondisi umat Islam di Mesir. Dengan terjadinya demontran dan tuntutan kepada
Husni Mubarak untuk turun tahta akhirnya Mubarak jatuh kerezimannya terhadap
masyarakat Mesir.
Pasca dari jatuhnya Mubarak, Ikhwanul Muslim tampil berani untuk
menyerukan kepada masyarakat Mesir bagaimana Mesir dijalankan. Sehingga dari
usaha itu mendapat banyak dukungan dari masyarakat Mesir dan akhirnya ,
pemerintahan Mesir dipimpin oleh Mohammed Morsi. Meskipun pada hakikatnya,
tujuan dari menyerukan itu tiada lain hanya sekedar ingin berpartisipasi dalam
demokrasi di Mesir bukan mendominasi dalam pemerintahan.
F. ISLAM
DI ASIA BARAT
Hampir semua negara di Asia Barat (kecuali Israel, Libanon,
Cyprus) berpendudukan agama Islam. Di wilayah ini, Islam lahir pada abad ke-7
M, dan di sini pula dakwah Islam menyebar luas. Kawasan yang mayoritas terdiri
atas bangsa Arab, memainkan peranan penting dalam segala peristiwa yang terkait
sejarah dengan Islam. Karena itu, wilayah ini dikatakan sebagai “jantung dunia
Islam”. (Dedi Supriyadi, 2008;276)
G. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN
Di Arab Saudi, tidak ada setu wilayah pun yang memiliki
kedudukan khusus dan sejarah istimewa, kecuali setelah munculnya Islam di
Mekkah Al-Mukarramah. Raja-raja Islam secara bergantian telah menguasai
Jazirah, sampai kemudian berakhir pada masa Saud.
Yaman, mayoritas beragama Islam (99%), hampir dari seperempatnya
adalah pengikut Madzhab Syiah Az-Zaidiyah. Sejumlah revolusi telah terjadi di
negeri ini. Pimpinannya Salim Rabi’ dicopot lalu di hukum mati. Seelah itu
datang Abdul Fattah Ismail, yang dicopot dan di asingkan. Lalu, kekuasaan
dipegang oleh Ali Nashir Muhammad. Kemudian kembali dipegang Abdul Fattah. Maka
terjadi perang senjata antara kedua kekuatan ini pada tahun 1406-1407
H/1985-1986 M. Abdul Fattah terbunuh, sedangkan Ali Nashir melarikan diri.
Pada tahun 1994 M, telah disepakati undang-undang baru bagi
Yaman setelah dikembalikan lagi kesatuannya pada tahun 1420 H/1999 M.
Pemilihan Presiden baru akan berlangsung, Yaman menderita karena hilangnya
kekuasaan menyeluruh yang terlepas ke dalam kabilah-kabilah yang bersenjata.
Saat ini, Yaman tengah menentukan garis batas dengan Saudi Arabia. Irak (negeri yang terletak di antara dua sungai) telah berdiri
sejumlah peradaban kuno klasik. Irak tergabung masuk ke dalam pemerintahan
Islamiah, setelah kemenangan besar Al-Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin
Abi Waqqash pada tahun 14 H/635 M. Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja
Islam (Umayyah dan Abbasiyah), lalu datang arus penyerbuan Monglia yang
membumihanguskan negeri ini pada tahun 656 H/1258 M. Kemudian dikuasai oleh orang-orang
Ustamaniyah pada masa antara tahun 941-1337 H/1534-1918 M. Pada tahun 1339
H/1920 M, wilayah ini berada di bawah otonomi Inggris. Pada tahun 1339 H/1921
M, Faisal bi Husein dinobatkan sebagai Raja Irak oleh Inggris dengan perdana
mentrinya Nuri Kurdi pada tahun 1922-1932 M. Irak kemudian memperoleh
kemerdekaannya pada tahun 1531 H/1932 M.
Di Yordania mengalamai kekacauan setelah adanya rovolusi besar
Arab pada tahun 1335 H/1916 M dengan menyerang Ustamaniyah, setelah
sebelumnya Yordania berada di bawah kekuasaam Utsmaniyah. Penyerangan ini di
bawah pimpinan Husein Syarif yang berasal dari Mekkah dengan dukungan Inggris.
Pada tahun 1340 H/1921 M. Yordania terbagi antara Perancis dan Inggris sehingga
muncullah Yordania seperti wilayah merdeka, dikuasai oleh dua orang anak
Asy-Syarif Husein Al-hasyimiyah yang memerintah di Yordania dan Irak.
Di daerah bagian Afganistan. Secara historis, diketahui bahwa
nadir Shah setelah melakukan konslidasi di Persia, Nadr Quli Beg memusatkan
perhatian ke wilayah timur untuk menyerang Heart (wilayah Afganistan). Pemimpin
suku Abdali, Zulfikar Khan memohon bantuan kepada Kandahar, kemudian Saidal
Khan, pemimpin suku Ghilzai mengirimkan bantuannya. Dalam peperangan di Kafir
Kila, DEKAT PERBATAN Afghan, suku Afghan menderita kekalahan oleh penumpasan
bangsa Persia pada tahun 1731. Nadir sendiri bersama pasukannya pada tahun 1732
menyerang kembali Heat. Ia menyerbun mati-matian, namun mengalami kekecewaan
karena barisan kekuatan pasukan lawan memohon berdamai. Nadir dengan kesan
penuh keberanian bicara kepada mereka dengan penuh rasa hormat, dan menarik
pasukan tentara lawan menjadi barisan tentaranya. Ia terpilih menjadi Shah di
Persia dengan nama Nadir Shah, pada tahun 1736. (Dedi Supriyadi,2008;283)
Sejak abad 16 sampai 18, Afghanistan tidak memiliki identitas
politik dalam negeri dan merupakan bagian dari Kerajaan Mughal di India dan
Kerajaan Safawi di Persia. Wilayahnya mencakup Kabul di utara sampai
penugunangan Hindu Khus, Heart, dan Farah. Kandahar selama beberapa tahun
diperselisihkan, namun suatu ketika Uzbek mampu mempengaruhi bagian utara dan
barat. Secara berangsur-angsur mereka dapat mencapai tujuan kemerdekaan diikuti
terbunuhnya penguasa Nadir Shah, yang memungkinkan tercapainya kemerdekaan di
bawah penguasa Durani yang selanjutnya mendirikan kerajaan Durani pada tahun
1747. (Dedi Supriyadi, 2008;284)
Kebanyakan penduduk Afghanistan menganut agama Muhammad (Islam).
Namun, mereka terbagi ke dalam beberapa suku yang berbeda, yang datang dari
yemapt berbeda, serta memakai bahasa yang berbeda pula. Setelah melalui
penaklukan, banyak tentara yang menetap di sana dan melangsungkan
pernikahan, selanjutnya membentuk suku-suku baru.
Walaupun Afghanistan merupakan salah satu pusat utama bagi
penganut Budha, namun Islam telah menjadi dominasi sejak abad ke-10, bahkan
Islam menjadi agama Negara yang dianut mayoritas penduduk. Muslim Afghanistan
banyak menganut madzhab Hanafi atau termasuk sekte Sunni. Suku Hazzarat dan
sebagian kecil penduduk lainnya menganut Sekte Syi’ah. Penduduk Nuristan tunduk
terhadap Islam katika Amir Abdur Rahman Khan mengirim pasukan militer ke Gunung
Valley pada tahun 1895. Sebelumnya, mereka termasuk kafir dan wilayahnya
dinamakan Kafiristan.
H. ISLAM
DI IRAN
Di Negara ini persentase pemeluk agama Islam
sebesar + 98% (mayoritas adalah pengikut Syi’ah yang bermadzhab itsna
Asyari atau Ja’fari) yang merupakan madzhab resmi negara. Di sana terdapt
sedikit pengikut Sunni, Nasrani, Yahudi, dan Zoroaster yang jumlahnya tidak
lebih dari 2%.
Iran muncul sebagai sebuah negara pada abad ke-10 H/16 M, dengan
keluarga Syafawiyah sebagai penguasanya (907-1148 H/1502-1735 M) dengan
mengumumkan madzhab Syi’ah sebagai madzhab Negara. Pada tahun 1135 H/1722 M.
irna dikuasai oleh orang-orang Afghanistan. Kemudian dikuasai oleh Nadir Shah
yang mengusir orang-orang Utsmaniyah dan Rusia.
I. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL IRAN PADA ISLAM MODERN
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah modern adalah Revolusi
Islam di Iran. Revolusi ini penting dalam dua hal; pertama, ia
adalah respons terbesar atas tantang hegemoni Barat;kedua, ia
menyumbangkan sebuah model revolusi dalam sejarah dunia. Hassan Hanafi dengan
tegas menyatakan bahwa kiri islam hasil yang nyata dari revolusi Islam Akbar di
Iran. Yang menarik, ketika Hassan Hanafi menyebut revolusi Iran ia selalu
menggunakan kata sifat “akbar”, yang dari situ kita dapat memperkirakan betapa
besar dampak revolusi Islam itu ke dalam pemikiran Hassan Hanafi dan
Intelektual Arab—muslim pada umumnya. Bagi Hassan Hanafi sendiri, Revolusi Iran
adalah “Revolusi Islam yang terjadi di Iran.” Salah satu responsinya terhadap
Barat adalah dengan cara memperkenalkan Revolusi Islam itu kepada khalayak
muslim, namun bukan berarti dengan demikian ia “menganjurkan” melakukan
oposisi terhadap pemerintah, apalagi agitasi atau pemberontakan di dalam
suatu Negara. Kiri Islam sesungguhnya hanya melakukan investigasi terhadap
gerakan revolusioneritu dan ingin melakukan teorisasi revolusi di kalangan
muslim. Revolusi yang dimaksud adalah Revolusi Tauhid. (Kazuo Shimogaki,
2003;51)
Revolusi Islam Iran dinilai sebagai kemenangan al-haq atas al-bhatil dan
lambang kemenangan kaum tertindas (mustadh’afin) atas kaum penindas (mustakbirin),
menimbulkan kepercayaan diri di kalangan gerakan Islam diberbagai negara
Muslim, khususnya dikalangan Muslim Syi’ah yang tersebar diseluruh negara Arab
. contohnya, kelompok Islam antimonarki di Arab Saudi (dikenal dengan nama
“Gerakan Imam Mahdi”) pun berani unjuk kekuatan dengan menduduki Majidil
Haram Makkah (20 November 1979), disusul kemudian aksi demontrasi besar-besaran
antimonarki di Hasa oleh kaum Syiah Saudi (29 November 1979). (Asep, 2000;98)
Diseluruh dunia Islam, revolusi Islam Iran menjadi model tentang
apa yang mungkin dicapai oleh Islam politik. Pada revolusi itulah, pertama
kalinya para pemimpin Islam mengambil alih kekuasaan di sebuah negara modern
yang besar. Revolusi ini menjadi menjadi inspirasi bagi para aktivis politik
Islam di mana-mana. Akan tetapi, apa yang didirikan di atas tradisi monarki
Iran tentu saja berbeda dari apa yang dapat didirikan di atas tradisi kesukuan
Arab atau Afghanistan. (Antony Black, 2006;605)
Monarki Patrimonial di Iran, yang selamat dari Invasi Arab
Muslim dan Mongol, runtuh pada abad ke-20. Setelah 1.300 tahun hidup berdampingan,
Islam akhirnya menggantikannya dengan pranata politik-keagamaannya sendiri.
Republik Islam Iran adalah sebuah fenomena unik. Bagaimana ia akan berkembang,
mustahil diprediksi. Berkaca pada sejarah panjang naiknya Ulama’ Syiah ke
panggung kekuasaan, tampaknya tidak mungkin mereka akan kehilangan kekuasaan
dengan mudah. (Antony Black, 2006;605)
J. ISLAM
DI ANAK BENUA INDIA
Situasi India, secara kultural, saat Islam masuk sebeanranya
sedang berada ddalam titik lemah, akibat konflik yang berkepanjangan
antarkekuatan agama dan politik, yakni antara kasta Brahmanik-Hinduisme dan
keyakinan Budha, serta munculnya berbagai elit politik, terutama dominannya
elit Rajput dengan elit-elit politik Hindu. Dalam kondisi demikian,
pemerintahan local mengambil peran yang lebih dominan dalam menanamkan
pengaruhnya terhadap rakyatnya. Tidak hanya sebatas itu, berbagai kewenangan
yang berlebihan dalam penggunaan kekuasaannya pun hampir mudah ditemukan di
setiap wilayah. Anehnya, masyarakat India tetap saja setia pada kenyataan
tersebut. (Dedi Supriyadi, 2008;301)
Gambaran umum tentang masyarakat India saat Islam memasuki
wilayah ini, menunjukkan indikasi yang sangat sulit bagi proses Islamisasi. Ini
menunjukkan bahwa betapa kuatnya pengaruh dan dominasi kultural yang telah
dibentuk oleh pendahulu dan penguasanya dalam menciptakan ideology keagamaan
dan sentiment kulturalnya. Melihat kondisi ini, seorang sejarawan Muslim
terkemuka di Al-Baruni (wafat tahun 1048 di Ghazna, Afghanistan sekarang),
dalam kapasitasnya sebagai pengamat sosial menjelaskan dalam karya Kitab
Al-Hind yang ditulisnya pada tahun 1017, menyimpulkan bahwa ada lima
hal penting yang menjadi titik perhatian pengamatannya, sekaligus menjadi cirri
jhas masyarakt India, dalam menolak sesuatu yang dayang dari luar, yakni
bahasa, agama, tradisi, dan kebencian terhadap orang asing, fanatisme, dan
keangkuhan budaya. (Dedi Supriyadi, 2008; 301)
K. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL ANAK BENUA INDIA PADA ISLAM MODERN
Islam adalah agama monoritas di Anak Benua India sehingga kurang
mempunyai ruang gerak untuk membumikan dan mengukuhkan eksistensinya.
Islam dan Hindu ibarat dua arus sungai yang mengalir dan bersumber dai muara
yang berbeda. Walaupun penduduknya tetap hidup berdampingan bersama selama
berbad-abad, namun pandangan mereka tetap hidup dan kehidupan merupakan batas
pemisah yang tidak bisa dijembatani. (Zaenal Ali, 2008; 78)
Teori dua bangsa adalah konsep yang dirintis oleh Sayyed
Ahmad Khan, seorang tokoh Revivalis India. Teori ini berdasar pada
realitas sejarah bahwa umat Islam dan Hindu merupakan dua bangsa dengan latar
belakang budaya, beradaban, adat, literature, sejarah dan agama yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan tersebut telah memicu konflik internal antar-pemeluk agama
yang sama-sama berusaha untuk menancapkan hegemoni politik di Anak Benua India.
(Zaenal Ali, 2008; 78) Dengan bantuan dan dukungan dari Inggris, umat Hindu berhasil
menggeser dan menyingkirkan umat Islam dari pos-pos penting pemerintahan
sehingga mereka kehilangan hak-hak politik serta kebebasan dalam menjalankan
perintah dan ajaran Islam. Kondisi ini semakin memburuk akibat dari sikap
curiga pemerintah Inggris dan India terhadap umat Islam. (Zaenal Ali, 2008; 78)
Keterpurukan Umat Islam di India menjadi dampak yang sangat
memprihatinkan dari ekonomi, pendidikan, dan politik. Dari kondisi inilah
kemudian Umat Islam di India berkobar untuk memisahkan diri dari India dan
membentuk sebuah negara yang melindungi identitas bangsa dan agama. Ini menjadi
bukti bahwa Pakistan lahir dari sebuah komitmen ideologi yang berakar pada
prinsip Islam.
L. ISLAM
DI EROPA
Secara historis, penyebaran imigran muslim di Eropa sekarang
mencerminkan wilayah pengaruh penjajahan masa lalu. Kebanyakan imigran yang
menetap di Perancis adalah orang Maroko, Aljazair, dan sejumlah muslim Afrika
dari Selatan Sahara. Mereka semua, awalnya dijajah Perancis. Kebanyakan orang
Indonesia menempati Belanda. Adapun Inggris banyak ditempati imigran dari Anak
Benua India, Malaysia, dan sejumlah orang Yaman, Somalia, dan Afrika Utara.
Sedangkan Jerman agak berbeda, imigran yang ada kebanyakan orang Turki, Maroko,
dan yang lainnya tidak ada kaitan dengan pengaruh Jerman. Sekalipun mereka
orang muslim, namun gaya hidup masing-masing sesuai dengan kebiasaan dan sikap
hidup yang dibawa dari negeri asalnya menunjukkan perbedaan. (Dedi Suryadi,
2008; 308) Islam mempunyai banyak sumbangan atas kebudayaan Eropa. Mereka
banyak menyimpan tulisan Yunani Kuno dan menerjemahkannya sehingga dapat
dimamfaatkan oleh orang Eropa. Islam juga banyak memajukan bidang studi
matematika dan kedokteran. System angka yang berasal dari Arab mulai
diperkenalkan dan masih tetap dipakai hingga saat ini. (Dedi Suryadi, 2008;
308)
M. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL EROPA PADA ISLAM MODERN
Memprediksi jumlah penduduk Eropa sangatlah sukar sebab sangat
sulit memperoleh data yang akurat. Tiap-tiap negara mempunyai catatan
masing-masing yang sulit dipertanggungjawabkan nilai keakuratannya. Sebuah
laporan penelitian menyebutkan, orang Muslim yang berada di Perancis [ada
1980-an ada sekitar 3 juta orang. Warga Muslim yang terdapat di Jerman Barat
pada 1987 sekitar 1.650.000 orang. Sedangkan penduduk Muslim Inggris pada 1991
sekitar 1.200.000 orang. Kebenaran hasil sensus ini masih diragukan sebab
mungkin sensus dilakukan berdasarkan negeri asal mereka, kemudian
diinterpretasikan menjadi data yang menunjukkan penduduk Muslim mengingat semua
imigran ti memeluk agama Islam. (Ajid Thohir, 2004;330)
Setelah para imigran Muslim terkonsentrasi pada daerah-daerah
tertentu di suatu negara Eropa, mereka mulai merasa penting terhadap masjid dan
organisasi sebagaimana mereka ketika berada di negara-negara asalnya. Jumlah
masjid mulai berkembang. Di Inggris misalnya, pada akhir 1960, hanya tercatat
Sembilan masjid sebagai tempat ibadah. Dan hanya bertambah empat masjid lagi
selama lima tahun berikutnya, tetapi pada 1966, terdapat loncatan sehingga
jumlah masjid terus bertambah delapan buah tiap tahunnya. (Ajid Thohir,
2004;331)
Setelah mereka berkenalan dengan proses birokrasi dari
pemerintahan local, masjid baru bertambah terus sehingga tercatat penambahan
sekitar 20 sampai 30 masjid tiap tahunnya. Pada akhir 1985, terdapat 329 masjid
yang tercatat, dan diperkirakan banyak masjid yang didirikan tetapi tidak
sempat tercatat. (Ajid Thohir, 2004;331)
Tantangan yang dihadapi umat Islam yang hidup di Eropa pada
umumnya sama dengan mereka yang hidup di daerah-daerah lain sebagai kelompok
minoritas. Tantangan ini ada yang datang dari luar dan ada yang datang dari
dalam. (Dedi Supriyadi, 2008;314)
Politik, tentunya menjadi tantangan pertama dalam mengembangkan
ajaran-ajaran Islam di Eropa. Sebab kemajuan politik di sini, maka akan
berpengaruh dengan perkembangan pendidikan dam ekonomi Islam di Eropa
khususnya.
Tantangan dari luar adalah kondisi negara sekuler yang di satu
pihak member kesempatan kepada setiap pemeluk agama untuk bebas menjalankan
agamanya. Namun, di lain pihak segala sesuatu yang dapat merugikan umat Islam
pun dapat berlangsung dengan bebas. Di Eropa Barat banyak para orientalis yang
sering memutarbalikkan ajaran Islam sehingga citra Islam menjadi rusak. (Dedi
Supriyadi, 2008;314)
Tantangan dari dalam berupa bagaimana menyatukan potensi yang
dimiliki umat Islam, sehingga Islam tidak terkotak-kotak dalam aliran tertentu
dan terlihat kompak dalam menghadapi segala problem dunia modern. Umat Islam
harus mampu memberikan citra ideal pada bangs Eropa Barat, bukan sebaliknya,
larut dalam kehidupan barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. (Dedi
Supriyadi, 2008;315)
N. ISLAM
DI AMERIKA
Masuknya Islam ke Amerika masih bersifat spekulatif karena tidak
ada teori yang tegas kedatangan Islam masuk ke Amerika. Sebagian ahli sejarah
berpendapat bahwa para pelaut muslim adalah orang-orang pertama yang
menyeberangi samudra Atlantik dan tiba di pantai-pantai Amerika. Sebagian lain
mengatakan, bahwa Cristoper Colombus telah dibimbing untuk mendarat di benua
itu oleh navigator-navigator dan pembantu-pembantu muslim Andalusia atau Maroko
yang jasa-jasanya telah dibayar oleh Colombus. (Dedi Supriyadi, 2008;315)
Adapun orang Amerika yang pertama sebagai pemeluk Islam yang
tercatat adalah Reverend Norman, seorang misionaris gereja Methodisty di Turki
yang memeluk Islam pada tahun 1970, pada decade berikutnya seorang Afro
Amerika. Muhammad Alexandder Russel Webb yang masuk Islam ketika ia bertugas
sebagai konsul jenderal AS di Filipina pada tahun 1887. Ia adalah pelopor yang
pertama mendirikan organisasi Islam di negeri ini pada tahun 1893 dan
menerbitkan The Muslim World sebagai sarana dakwahnya. (Dedi
Supriyadi, 2008;317)
Memasuki abad ke-19, perdagangan budak diberhentikan, terutama
setelah Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Emancipation
Proklamation (Proklamasi kemerdekaan) tanggal 1 Januari 1863, yang
menetapkan bahwa budak-budak di negara sebagian AS adalah merdeka. Dengan
demikian, banyak orang Islam yang berasal dari Mesir, Yordania, Siria, Irak,
Pakistan, India, Turki, Yugoslavia, Uni Soviet, dan Albania yang bermigrasi ke
Amerika pada tahun itu kemudian disusul dengan gelombang imigrasi berikutnya.
(Dedi Supriyadi, 2008;317)
O. POLITIK,
KEAGAMAAN DAN SOSIAL AMERIKA PADA ISLAM MODERN
Menurut cendikiawan terkemuka Prancis, Maxime Rodinson, “Umat
Kristen di Barat mempersepsi Dunia Muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam
dilihat sebagai masalah nyata.” Pandangan ini disepakati oleh sejarawan Inggris
Albert Hourani, yang berpendapat bahwa Islam sejak awal kemunculannya merupakan
masalah bagi Eropa yang Kristen. (Fawaz A. Gerges, 2002; 47)
Tidak seperti Eropa, Amerika tak terlibat dalam hubungan panjang
dan berdarah dengan negara-negara manapun masyarakat Muslim. Amerika tidak
pernah secara langsung menguasai tanah Arab dan muslim ataupun membentuk system
rumit penjajahan seperti yang dilakukan Eropa.
Perkembangan politik Islam di kawasan Amerika semakin berkembang
terutama di kawasan Meksiko, Negara yang berada di kawasan Benua Amerika itu
sendiri. Sejarah perkembangan Islam di negeri ini tidak lepas dari masuknya
pengaruh asing berupa penjajahan bangsa Barat yang didominasi Kristen. Di
antara pergolakan politik, Islam di Meksiko mulai menjalar dalam nuansa damai
dan kekeluargaan. Perlahan-lahan, perkembangan Islam di Meksiko pun mulai tampak
sejak tahun 1993. Dengan didirikannya pusat Kebudayaan Islam Meksiko (Centro
Cultural Islamico de Mexico atau CCIM) di tahun 1994, beberapa penduduk no
Muslim mulai mengenal Islam. Secara umum, respon di semua tingkat sosial cukup
baik dan mulai menerima keberadaan Islam.
Politik yang terjadi di Amerika semakin membuat beberapa negara
Muslim geram. Hal yang menjadi pemicu kegeraman adalah bentuk pernyataan
terorisme yang disodorkan oleh Amerika kepada public Islam. Terorisme muncul
sebagai salah satu isu politik terpenting di Amerika Serikat. Sebagian pejabat
dan pengamat di AS mengaitkannya dengan dengan Militan Islam, khususnya Iran.
Mentri Luar Negeri AS Warren Christopher mengatakan, “Iran adalah negara
sponsor terorisme nomor satu di Dunia.”
Gejolak politik di Amerika semakin memanas setalah tragedy
pengeboman World Trade Center pada Februari 1993, yang menyebabkan sepuluh
Muslim dituduh menjalankan “perang terorisme Urban” melawan Amerika dan
merencanakan pembunuhan Presiden (Mesir Mubarak. Beberapa pengamat semakin
memanas-manasi situasi dengan memperingatkan tentang adanya suatu jaringan internasional
yang terkordinasi dari kelompok-kelompok “teroris Islam” di seluruh Amerika
Serikat dengan senjata tertuju kea rah kepentingan-kepentingan Barat.
Dari tragedi 1993 itulah, pencekalan demi pencekalan terjadi di
Amerika terhadap kaum Muslim yang berada di sana. Penindasan dan pelecehan
terus terjadi, dan umat Islam terasa di asingkan dari kehidupan Amerika.
Kegeraman dunia Islam terhadap Amerika adalah sikap Amerika
kepada Islam ketika terkuak pelecehan Amerika terhadap Alquran dengan
membakarnya. Sebagaimana dilansir di Liputan6.com, Springfiled: Pembakaran
Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones,
pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan
kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata pembakaran dilakukan oleh pengikut
Terry, pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman
belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat.
Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman
belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan.
Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan
segelintir orang, yang sebagian besar dari media.
Namun seiring pekembangan Islam sekarang. Setelah naiknya
Barrack Obama, Islam yang tinggal di Amerika ada di garis aman dan untuk
sementara ini tidak ada gangguaan.
Menurut Ajid Thohir yang dilansir di http://www.rimanews.com/read/20130423/99918/perkembangan-islam-di-amerika-serikat-dari-masa-ke-masa,
sejarah perkembangan Islam di Amerika dewasa ini terus mengalami peningkatan
dengan adanya tiga faktor. Pertama, arus datangnya kaum imigran muslim semakin
bertambah, dan keturunan mereka juga bertambah. Kedua, konversi agama di
kalangan penduduk Amerika berkulit hitam. Ketiga, konversi agama di kalangan
kulit putih.
P. PENUTUP
Dari keterangan di atas diambil secara kesimpulan bahwa
perkembangan Islam di masa modern ini masih belum bisa diunggulkan secara
politik. Namun meskipun terbelakangnya sistem politik disini. Secara garis
besar bahwa perkembangan Islam secara jumlah mulai meningkat dan terus
meningkat dari setiap masa. Tidak kemungkinan, masa-masa selajutnya, dari jumlah
yang mulai meningkat, mampu memenangkan panggung poltik yang sekarang belum
begitu stabil.
DAFTAR PUSTAKA
Dedi Supriyadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam,
Bandung, Pustaka Setia, 2008
Fawaz A. Gerges, Amerika dan Islam politik: benturan
peradaban atau benturan kepentingan?, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2002
Denny J.A., Fransiskus Surdiasis, Catatan Politik,
Yogyakarta; PT LKiS Pelangi Aksara, 2006
M. Riza Sihbudi, Menyendera Timur Tengah, Jakarta:
Hikmah, 2007
Kazuo Shimogaki, Kiri islam: antara modernisme
dan postmodernisme : telaah kritis pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta; PT
LKiS Pelangi Aksara, 2003
Asep Syamsul M. Romli, Demonologi Islam: upaya Barat
membasmi kekuatan Islam Kajian politik. Jakarta; Gema Insani
Press, 2000
Antony Black, Pemikiran politik Islam: dari masa Nabi
hingga masa kini, Jakarta; PT Serambi Ilmu Semesta, 2006
Zaenal Ali, Tragedi Banazir Bhutto, Yogyakarta;
Narasi, 2008
http://news.liputan6.com/read/296609/pembakaran-alquran-ternyata-jadi-dilakukan 08 Juni
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar