KONSEP MENDASAR PENDIDIKAN MENURUT PARA
FILOSOF TIMUR TENGAH
Di ajukan untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Ali Priyono, S.Ag., M.Pd.I
Oleh:
Titis Mufatikhah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BAHRUL
‘ULUM
(STAI-BU)
TAMBAKBERAS JOMBANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia.
Pendidikan (terutama Islam) dengan berbagai coraknya, berorientasi memberikan
bekal kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena
itu, semestinya pendidikan Islam selalu diperbaharui konsepnya dalam rangka
merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis, agar peserta didik dalam
pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati,
tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai
isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk
dipecahkan Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi)
dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam. Dewasa
ini, pendidikan Islam di seluruh dunia
sedang menghadapi tantangan yang sangat berat seiring dengan datangnya
era globalisasi dan informasi.
Menyikapi persoalan di atas telah banyak melahirkan sejumlah tokoh
di berbagai pelosok dunia islam seperti yang mewakili wilayah Timur Tengah
serta Asia Tenggara. Misalnya: Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ikhwan
Al-Shafa, Ibn Khaldun, Iqbal, Naquib al-Attas, Hasan Langgulung, Nur Cholis
Madjid, dan Rahmah El-Yunusiyah. Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan,
barangkali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Bagitu juga dengan
Al-Farabi. Al-Farabi adalah salah satu pemikir dalam pendidikan islam yang
dikenal juga sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Dimana dalam kehidupannya
Al-Farabi selalu menimba ilmu pengetahuan baik ilmu agama dan umum. Dengan
berbagai ilmu yang diperolehnya, Al-Farabi menjadi seorang ahli filosof yang
terkenal.
Al-Ghazali juga
punya peran yang luar biasa, spesial dalam bidang tasawuf, tetapi juga tidak
bisa terpisah dari keahliannya dalam berbagai ilmu. Tokoh lainnya seperti Ikhwan
Al-Shafa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak
memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Konsep pendidikan
yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya
terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka menjalankan
fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat.
Iqbal telah merekonstruksi sebuah bangunan filsafat Islam yang
dapat menjadi bekal individu-individu muslim dalam mengantisipasi peradaban
Barat yang materialistik ataupun tradisi Timur yang fatalistik. Jika diterapkan
maka konsep-konsep filosofis Iqbal akan memiliki implikasi-implikasi
kemanusiaan dan sosial yang luas. Naquib
Al-Attas, juga termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam
dengan ide-ide segarnya. Al-Attas juga pakar dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu
pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya.
Hasan Langgulung, yang berupaya untuk memberikan kontribusinya
dalam mengembangkan pemikiran pendidikan islam sebagai langkah konkrit dalam
ikut menyelesaikan berbagai problematika sistem pendidikan islam dan menghendaki
adanya keutuhan “sistem pendidikan islam modern”. Nurcholis Madjid adalah tokoh
pembaharu yang tidak asing lagi untuk banyak orang. Pemikiran-pemikirannya tak
luput dari sorotan banyak ahli baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tidak
jarang banyak pemikirannya yang dijadikan sebagai rujukan dalam pembahasan
terkait keIslaman, keIndonesiaan, Politik bahkan Pendidikan. Adapun filosof
wanita yaitu Rahmah El-Yunusiyah dalam memajukan pendidikan, ia berpendapat bahwa
pendidikan tidak diperuntukkan oleh orang laki-laki saja namun wanita juga
mempunyai hal yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan sejajar
dengan kaum laki-laki.
Berlandaskan dari penuturan di atas, maka makalah ini akan membahas
pemikiran mendasar para filosof tentang konsep dasar pendidikan yang mewakili
wilayah Timur Tengah dan Asia Tenggara.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Sina?
2.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Farabi?
3.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Ghazali?
4.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Ikhwan Al-Shafa?
5.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Khaldun?
6.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Iqbal?
7.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Naquib Al-Attas?
8.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Hasan Langgulung?
9.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Nur Cholis Madjid?
10. Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Rahmah El-Yunusiyah?
C.
Tujuan
Pembahasan
1.
Untuk mengetahui
pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Sina.
2.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Farabi.
3.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Ghazali.
4.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Ikhwan Al-Shafa.
5.
Untuk mengetahui
pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Khaldun.
6.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Iqbal.
7.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Naquib Al-Attas.
8.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Hasan Langgulung.
9.
Untuk mengetahui
pendidikan Islam dalam pemikiran Nur Cholis Madjid.
10. Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Rahmah
El-Yunusiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Ibn Sina
1.
Riwayat Hidup
Ibn Sina
Nama lengkapnya adalah Abu ’Ali al-Husyn ibn Abdullah. Penyebutan
nama ini telah menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari bahasa latin,
Avin Sina, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari
kata Al-Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina. Selain itu ada juga pendapat
yang mengatakan bahwa nama tersebut dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya,
yaitu Afshana.
Dalam sejarah pemikiran islam, Ibnu Sina di kenal sebagai
intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Ia lahir pada tahun 370 H. Bertepatan
dengan tahun 980 M, di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat bukhara, di
kawasan Asia Tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Belkh, suatu kota yang
termasyhur dikalangan orang-orang Yunani, kota tersebut sebagai pusat kegiatan
polotik, juga sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan.
Adapun Ibu Ibnu Sina bernama Astarah, berasal dari Afshana yang
termasuk wilayah Afganistan. Namun demikian, ia ada yang menyebutkan sebagai
berkebangsaan Persia, karena pada abad ke-10 M, wilayah Afganistanini termasuk
daerah Persia. Tampilnya Ibnu Sina selain sebagai ilmuwan yang terkenal
didukung oleh tempat kelahirannya sebagai ibu kota kebudayaan, dan orang tuanya
yang dikenal sebagai pejabat tinggi, juga karena kecerdasannya yang luar biasa.
Sejarah mencatat, bahwa Ibnu Sina melalui pendidikannya pada usia lima tahun di
kota kelahirannya Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali ia pelajari ialah
membaca al-qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu
agama islam seperti tafsir, fiqh, ushuluddin dan lain-lain. Berkat ketekunan
dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-qur’an dan menguasai berbagai
cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.
Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut
pemikirannya tentang falsafat ilmu. Menurut Ibnu Sina terbagi menjadi 2, yaitu:
ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal. Ilmu yang kekal dari peranannya
sebagai alat dapat disebut logika. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat
dibagi menjadi ilmu yang praktis dan ilmu yang teoritis. Sejarah mencatat
sejumlah guru yang pernah mendidik Ibnu Sina diantaranya:
Mahmud al-Massah (ahli matematika). Abi Muhammad Ismail ibn al
Husyaini (ahli fiqh). Abi Abdillah an-Natili (ahli manthiq dan falsafah). Selanjutnya
dengan cara otodidak, ibnu sina mempelajari ilmu kedokteran secara mendalam,
hingga ia menjadi seorang dokter yang termasyhur pada zamannya. Hal ini
didukung oleh kesungguhannya melakukan penelitian dan praktek pengobatan.
Berkenaan dengan ini sebagian para penerjemah menduga bahwa ibnu sina
mempelajari ilmu kedokteran dari ‘Ali abi Sahl al-Masity dan Abi mansur
al-Hasan ibn Nuh al-Qamary. Dengan cara demikian, ilmu kedokteran mengalami
perkembangan yang didukung oleh keluasan teori dan praktek.
Karya Ibnu Sina dalam bidang kedokteran antara lain Al-Qanun fi
Al-Thibb. Dalam bidang filsafat As-Syifa dan An-Najab. Dalam bidang fisika Fi
Asam al-‘alum al-‘aqliyah. Bidang logika Al-Isaquji. Bidang bahasa Arab Lisan
Al-‘Arab.
2.
Konsep
Pendidikan Ibn Sina
a.
Tujuan
Pendidikan
Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada
pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya
yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain
itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya
mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama
dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat,
kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dilmilikinya.
Khusus pendidikan yang bersifat jasmani, ibnu sina mengatakan
hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu
yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga
kebersihan. Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai
kebahagiaan. Melalui pendidikan jasmani olahraga, seorang anak diarahkan agar
terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan pendidikan
budi pekerti di harapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan santun dalam
pergaulan hidup sehari-hari. Dan dengan pendidikan kesenian seorang anak
diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya hayalnya.
Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat
keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dan
sebagainya. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang
mampu mengerjakan pekerjaan secara professional.
Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut
tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil (manusia yang
sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi diinya secara seimbang
dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara
optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam
melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di masyarakat.
b.
Kurikulum
Konsep Ibn Sina tentang kurikulum didasarkan pada perkembangan usia
anak.
Ø Untuk anak usia 3-5 tahun, menurut Ibn Sina perlu diberikan mata
pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, kesenian.
Ø Untuk anak usia 5-14 tahun, menurut Ibn Sina adalah mencakup
pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an, pelajaran agama, pelajaran syair,
dan pelajaran olah raga.
Ø Untuk anak usia 14 tahun keatas, pelajaran yang diberikan amat
banyak jumlahnya tapi perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat anak.
c.
Metode
Pengajaran
Suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dijelaskan kepada
bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja melainkan harus dicapai dengan
berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Metode pengajaran yang
ditawarkan Ibn Sina diantaranya talqin, demonstrasi, pembiasaan, teladan,magang
dan penugasan.
d.
Konsep Guru
Guru yang baik ialah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui
cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh
dari berolok-olok dan bermain-main di hadapan muridnya, tidak bermuka masam,
sopan santun, bersih, dan suci murni.
e.
Konsep Hukuman
Ibn Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra
hati-hati, dan hal itu hanya bolah dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak
normal, sedangkan dalam keadaan normal hukuman tidak boleh dilakukan.
B.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Al-Farabi
1.
Riwayat Hidup Al-Farabi
AL-Farabi nama
lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkan ibn Auzalagh. Dikalangan
orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia
lahir di Wasy, distrik Farab (sekarang dikenal dengan kota Atrar), Tukistan
pada 257 H (870 M). Ayahnya seorang jendral berkebangsaan Persia dan ibunya
berkebangsaan Turki.
Beliau adalah
seorang Tabib yang kenamaan, seorang ahli ilmu pasti dan seorang filsuf yang
ulung. Ia juga terkenal sebagai ahli dalam bahasa Arab, Parsi, Suria, dan
Turki. Beliau melebihi Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun
dalam menerjemahkan dan menyusun kembali dari sisi kitab-kitab filsafat Yunani.
Dengan demikian maka beliau dianggap sebagai yang paling terpelajar dan tajam
diantara para komentator karya Aristoteles. Karangan beliau tidak kurang dari
128 kitab. Kemudian beliau wafat pada usia 80 tahun tepat 337 H (950 M).
2.
Konsep pendidikan Al-Farabi
Menurut
Al-Farabi, pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai,
pengetahuan, dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya
tertentu guna membimbing individu menuju kesempurnaan. Karena manusia yang
sempurna, menurut al-Farabi, sebagaimana dipaparkan Professor Ammar Al-Talbi
dalam tulisannya yang berjudul “Al-Farabi’s Doctrine of Education: Between
Philosophy and Sociological Theory”, adalah mereka yang telah mengetahui
kebajikan secara teoretis dan menjalankannya dalam praktik keseharian.
Pendidikan, menurut Al-Farabi, harus menggabungkan antara kemampuan teoretis
dari belajar yang diaplikasikan dan tindakan praktis.
Kesempurnaan
manusia, kata dia, terletak pada tindakannya yang sesuai dengan teori yang
dipahaminya. Ilmu tidak akan mempunyai arti kecuali jika ilmu itu dapat
diterapkan dalam kenyataan di masyarakat. Karena, jika tidak diterapkan, ilmu
itu tak berguna. Penekanan pendidikan dalam pandangan Al-Farabi adalah akal
budi. Ia menyarankan bahwa anak yang bertabiat jelek dapat diluruskan dengan
cara penanaman pendidikan akhlak. Untuk anak yang tingkat inteligensinya rendah
dapat dicerdaskan melalui metode keteladanan, yakni melalui contoh yang
diberikan secara berulang-ulang. Sedangkan untuk anak yang cerdas dan bertabiat
baik, kata Al-Farabi, hendaknya disikapi dengan penuh penghargaan. Karena
bagaimanapun menurutnya, pelajaran yang harus diprioritaskan bagi setiap anak
adalah pembinaan akhlak. Sebab, akhlak merupakan modal dasar untuk menguasai
segala macam disiplin ilmu lainnya. Metode pembelajaran yang ditekankan
Al-Farabi mengacu pada tujuan akhir pendidikan, yaitu untuk meraih kesempurnaan
dan kebahagiaan. Mengacu kepada tujuan akhir ini, metode pembelajaran yang
paling baik untuk diterapkan kepada anak didik adalah metode instruksi. Namun,
menurut dia, metode ini tidak begitu saja bisa diajarkan ke semua orang. Harus
ada pembedaan kelompok, yakni kelompok orang-orang biasa dan kalangan elite.
Bagi orang-orang biasa, dasar metodenya adalah persuasif dan bagi orang elite
adalah demonstratif. Dalam metode demonstratif, anak didik diajak untuk
mencapai nilai-nilai teoretis. Prosesnya dijalankan dengan melakukan instruksi
oral (lisan), misalnya, melalui kegiatan pidato. Al-Farabi juga menekankan
pentingnya diskusi dan dialog dalam metode instruksi agar anak didik mampu
meraih pemahaman yang sebenarnya.
Pencapaian
nilai-nilai seni dan moral merupakan ciri dari metode persuasif. Metode ini
merupakan metode yang mengajak atau memengaruhi anak didik tanpa butuh
kepastian pengetahuan atau tanpa ada bukti-bukti yang mendukung. Metode ini
akan berjalan bila orang yang dipengaruhi merasa senang dan puas. Lebih jauh
Al-Farabi menekankan metode instruksi yang digagasnya ini memiliki dua aspek,
yaitu model audisi dan model imitasi. Dalam model audisi, anak didik belajar
dengan didasarkan pada kemampuan berbicaranya yang disertai dengan pemahaman
dan pengertiannya akan realitas. Sedangkan model imitasi adalah dengan terlebih
dahulu mengamati gerak-gerik orang lain dan kemudian menirunya, tetapi dalam
hal-hal yang baik saja. Untuk meraih kesempurnaan dari metode yang dibuatnya
ini, Al-Farabi sangat menekankan kebiasaan. Kebiasaan yang mengakar, kata dia,
akan menjadikan anak didik semakin mengerti akan isi pembelajaran yang diberikan
oleh para gurunya. Nilai-nilai etis juga digapai dengan melakukan kebiasaan dan
pengulangan sehingga nilai-nilai ini dapat tertanam dengan kuat di dalam
pikiran anak. Dengan demikian, anak didik diharapkan dapat bertingkah laku
baik.
C.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Al-Ghazali
1.
Riwayat Hidup Al-Ghazali
Imam Al Ghazali
nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi
asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111,
Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai
Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Imam al-Ghazali
dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat
Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya
bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya
yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu
Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan
bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin.
Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim
dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat
Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan
manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah
Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia
pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di
Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
Al-Ghazali
memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya, Tus dengan mempelajari
dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia pergi ke Nisyafur dan Khurasan yang
pada waktu itu kedua kota tersebut terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan
terpenting di dunia Islam. Di kota Nisyafur inilah al-Ghazali berguru kepada
Imam al-Haramain Abi Al-Ma’ali al-Juwainy, seorang ulama’ yang bermazhab
Syafi’i yang pada saat itu menjadi guru besar di Nisyafur.
Di antara mata
pelajaran yang telah dipelajari al-Ghazali di kota tersebut adalah teologi,
hokum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu yang
dipelajarinya inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya
di kemudian hari. Hal ini antara lain terlihat dari karya tulisnya yang dibuat
dalam berbagai bidang dalam ilmu pengetahuan. Banyak buku yang di tulis oleh
Al-Ghazali diantaranya, Ghayah Al Maram Fi Ilm Kalam (tujuan mulia dari ilmu
kalam), Ihya’ Ulum Al Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama),
Al-Musytasyfa’ (yang menyembuhkan), Maqasidal Falasifah (tujuan dari filsafah),
dan Tahafut Al-Falasifah (kehancuran dari filsafat).
Gelar yang
disandang Al-Ghazali yaitu Hujjatul Islam (pembela Islam), Syaikh Al Sufiyyin
(guru besar dalam tasawuf) dan Imam Al Murabin (pakar bidang pendidikan).
2.
Konsep pendidikan Al-Ghazali
a.
Peranan Pendidikan
Al-Ghazali
menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang
banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Al-Ghazali
lebih cenderung berpaham empirisme, disebabkan ia sangat menekankan pengaruh
pendidikan terhadap anak didik. Anak tergantung dari orang tua yang
mendidiknya. Seorang anak hatinya bersih, murni laksana permata yang amat
berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun. Hal ini sejalan dengan
pesan Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah yang artinya :
“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan
bersih, kedua orangtualah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi,
Nasrani, atau Majusi”. (H.R. Muslim).
Sejalan dengan
hadits tersebut, Al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan
hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik. Sebaliknya jika anak itu
dibiasakan kepada hal-hal yang jahat, maka anak itu akan berakhlak jelek. Pentingnya
pendidikan ini didasarkan kepada pengalaman hidup al-Ghazali sendiri, yaitu
sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama’ besar yang menguasai berbagai ilmu
pengetahuan, yang disebabkan karena pendidikan.
b.
Tujuan Pendidikan
Setelah
menjelaskan peranan pendidikan sebagaimana diuraikan diatas, al-Ghazali lebih
lanjut menjelaskan tujuan pendidikan. Menurutnya, tujuan pendidikan adalah
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian ,
kebencian dan permusuhan. Rumusan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT,
tentang tujuan penciptaan manusia yaitu:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat:59)
Selain itu
rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-Ghazali terhadap dunia, merasa
Qanaah (merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan akhirat
dari pada kehidupan dunia. Rumusan tujuan pendidikan al-Ghazali yang demikian
itu juga karena al-Ghazali memandang dunia ini bukan merupakan hal yang pokok,
tidak abadi dn akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap
saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah
desa yang kekal, dan maut senantiasa mengintai setiap saat.
Lebih
lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang
dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan
pendidikan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan
dunia itu hanya sebagai alat.
c.
Pendidik
Sejalan dengan pentingnya pendidikan untuk
mencapai tujuan sebagaimana disebutkan diatas, al-Ghazali juga menjelaskan
tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri
tersebut adalah :
1.
Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai
anak kandungnya sendiri.
2.
Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai
tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang
diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan upahnya adalah terletak pada
terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
3.
Guru
harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk
kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri
kepada Allah.
4.
Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu
yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
5.
Di hadapan muridnya, guru harus memberikan
contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan
berakhlak terpuji lainnya.
6.
Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai
dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
7.
Guru harus mengamalkan apa yang di ajarkannya,
karena ia menjadi idola di mata anak muridnya.
8.
Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak
didiknya, sehingga di sampaing tidak akan salah dalam mendidik, juga akan
terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
9.
Guru harus dapat menanamkan keimanan kedalam
pribadi anak didinya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai
oleh keimanan itu.
Tipe ideal guru
yang dikemukakan al-Ghazali yang demikian sarat dengan norma akhlak dan masih
dianggap relevan, jika tidak dianggap hanya satu-satunya mode, melainkan jika
dilengkapi dengan persyaratan yang lebih bersifat akademis dan profesi. Guru
yang ideal di masa sekarang adalah guru yang memiliki persyaratan kepribadian
sebagai mana yang dikemukakan al-Ghazali dan persyaratan akademis dan
profesional.
d.
Murid
Sejalan dengan
prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri
kepada allah, maka bagi murid dikehendaki hal-hal sebagai berikut.
1.
Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau
tidak takabur.
2.
Merasa satu bangunan dengan murid yang lain
sehingga merupakan bangunan yang saling menyayangi dan menolong serta berkasih
sayang.
3.
Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai
mazhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran.
4.
Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang
bermanfaat saja, melainkan berbagi ilmu dan berupaya bersungguh-sungguh
sehingga mencapai tujuan dari tiap ilmu tersebut.
e.
Kurikulum
Secara
tradisional kurikulum dapat diartikan suatu mata pelajaran yang diberikan
kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah pengetahuan agar mampu beradaptasi
dengan lingkungannya. Kurikulum disusun dengan sedemikian rupa agar dapat
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pandangan al-Ghazali
tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan.
Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari
oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.
Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit ilmu ini
tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia maupun diakhirat. Seperti ilmu
sihir, ilmu nujun dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa
mudarat dan akan meragukan terhadap adanya Tuhan. Oleh karena itu ilmu ini
harus dijauhi.
2.
Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, jika
ilmu ini dipelajar akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dari
kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah. Seperti
Ilmu Tauhid dan Ilmu agama.
3.
Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang
tidak boleh diperdalam, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman
dan Ilhad (meniadakan Tuhan) seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok ilmu diatas, al-Ghazali
membagi ilmu tersebut menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi
kepentingannya, yaitu:
1.
Ilmu yang wajib (fardhu) yang diketahui oleh
semua orang, yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber pada kitab Allah.
2.
Ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah,
yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti ilmu hitung,
ilmu kedokteran, ilmu teknik dan ilmu pertanian.
Sejalan dengan kategori diatas Imam al-Ghazali
merinci lagi menjadi empat kelompok, dan inilah yang di usulkannya untuk
dipelajri disekolah. Ilmu
pengetahuan tersebut adalah:
1.
Ilmu al-Quran dan ilmu agama seperti fiqh,
hadist dan tafsir.
2.
Ilmu-ilmu bahasa, seperti nahmu dan makhraj
serta lafadz-lafadznya, karena hal ini berfungsi untuk membantu ilmu agama.
3.
Ilmu-ilmu fardhu kifayah, seperti ilmu
kedokteran, matematikan, teknologi yang beraneka macam jenisnya, termasuk juga
ilmu politik.
4.
Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan
beberapa cabang filsafat.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa al-Ghazali
menggunakan dua pendekatan dalam membagi ilmu pengetahuan. Pertama pendekatan
fiqh yang melahirkan pembagian ilmu pada yang wajid dan fardhu kifayah. Kedua
pendekatan tasawuf (akhlak) yang melahirkan pembagian ilmu pada yang terpuji
dan tercela.
D.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Ikhwan Al-Shafa
1.
Riwayat Hidup Ikhwan
Al-Shafa
Ikhwan al-Shafa adalah perkumpulan para mujahidin dalam bidang
filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan
pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua hijriah di kota Bashrah,
Irak. Organisasi ini antara lain mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam
yang didaarkan pada persaudaraan islamiyah (ukhuwah islamiyah), yaitu
suatu sikap yang memandang iman seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika
ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai sebuah
organisasi ia memiliki semangat dakwah dan tabligh yang amat militant dan
kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Semua anggota perkumpulan ini wajib
menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di masyarakat.di
sinilah letak relevansinya berbicara Ikhwan al-Shafa dengan pendidikan.
2.
Konsep
Pendidikan Ikhwan Al-Shafa
a.
Cara
Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan
tiga cara, yaitu:
1. Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan
tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita
ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2. Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus
dibantu oleh indera.
3. Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris
Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara
langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan
sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam
dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah,
sumber ilmu paling akhir. Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa
mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada
sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan
orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih,
belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas
tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Pandangan ini lebih
dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa
awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata.
Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat
pengetahuan apapun.
Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak
memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan
Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh).
Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs
al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui
proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi,
secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua
rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki
daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian
diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah
al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah
al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam
pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar
(kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir
manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong). Modal
itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah
maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh
kemajuan teknologi informasi (internet).
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan
(muktasabah),
bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera.
Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah
(harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran
idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini
ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi
pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan)
yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan
jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak
mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan
jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus
berhubungan dengan alam ide.
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba
meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan
jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu
agama (naqliyah)
semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama
tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah,
terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan
al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori,
yaitu; matematika,
fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi
tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan
menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut
Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui
pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan
akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal
memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena
ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.
b.
Sosok
Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim,
ustadz dan mu’addib. Guru ashhab
alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang
universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah
sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz, atau mu’addib
dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya
digambarkan sebagai berikut:
1.
Al-Abrar
dan al-Ruhama, yaitu orang yang
memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia
kira-kira 25 tahun.
2.
Al-Ru’asa
dan al-Malik, yaitu mereka yang
memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara
persaudaraan dan bersikap dermawan.
3.
Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki
kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4.
Tingkatan yang
mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah
dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi
setelah berusia 50 tahun.
E.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Ibn Khaldun
1.
Riwayat Hidup
Singkat
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan Ibnu Khaldun
adalah ia berasal dari keluarga politisi, intelektual, dan aristocrat. Latar
belakang kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya, sebelum menyeberang
ke Afrika, adalah para pemimpin politik di Moorish, Spanyol, selama beberapa
abad. Ia lahir pada tanggal 7 Mei 1332 di Tunisi. Oleh ayahnya ia diberi nama
Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya,
sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal Al-Quran, dan fasih dalam
qira’at al-sab’ah, di samping dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir,
hadits, fiqh (Maliki), gramatika bahasa arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan
sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. pendidikan formalnya dilaluinya hanya
sampai pada usia 17 tahun. dalam usia yang masih relatif muda ini ia telah
mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah
(ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, Khaldun juga
tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi
dan lain sebagainya. ketika usianya melewati 17 tahun ia kemudian belajar
sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan
formal sebelumnya.
Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis
menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan
kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan.
adapun hasil karya-karyanya yang terkenal diantaranya adalah: Kitab Muqaddimah
Buku pertama dari kitab al-‘ibar yang terdiri dari bagian muqaddimah
(pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari
seluruh persoalan, dan buku ini juga yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi
begitu harum.
2.
Konsep
pendidikan Ibnu Khaldun
a.
Pandangan
tentang manusia didik
Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi
kepribadiannya. Menurut Khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek
moyangnya. Akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat
istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan
sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Pandangan Khaldun tentang
manusia sebagai suatu makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya
karena manusia mempunyai akal (Makhluk berfikir). Lewat kemampuan berfikirnya
itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya sehingga mampu melahirkan ilmu
(Pengetahuan) dan teknologi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai
cara guna memperoleh makan hidup. Proses-proses semacam ini yang melahirkan
peradaban.
Pada bagian lain, Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar
atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh – sungguh juga
harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam –
macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat.
Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan
pengajaran.
b.
Pandangan
tentang ilmu atau materi pendidikan
Ada dua yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan, yang pertama
dipengaruhi oleh peradapan, misalnya sebuah sekolah yang didirikan didalam
perkotaan yang disitu terdapat pertumbuhan ilmu, pabrik-pabrik dan pasar yang
tersusun rapi, maka keadaan ini akan berpengaruh terhadap corak pendidikannya.
Dan yang kedua karena adanya perbedaan lapisan sosial yang timbul dari hasil
kecerdasannya yang diperoses melalui pengajaran. Hal ini berbeda dengan apa
yang diduga oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa perbedaan ini bersumber
pada perbedaan hakikat kemanusiaan. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, ibnu
khaldun membaginya menjadi tiga macam yaitu:
1. Ilmu lisan
(bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang
disusun secara puitis (syair).
2. Ilmu naqli
yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah nabi, ilmu ini berupa
membaca kitab suci al-quran dan tafsirnya, sanad dan haditsdan pentashiannya
serta istimbath tentang keadaan-keadaan fiqih. Dari al-quran itulah didapat
ilmu-ilmu tafsir, ilmu usul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum
allah itu melalui istimbath.
3. Ilmu aqli yaitu
ilmu yang dapat menunjukan manusia dengan daya fikir atau kecendrungan kepada
filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk didalam katagori ilmu ini adalah
ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu tehnik, ilmu hitung, ilmu tingkahlaku
(behafior), termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan).
Mengenai ilmu
nujum menurutnya adalah ilmu yang fasid karena ilmu dapat meramalkan segala
kejadian yang belum terjadi, hal itu merupakan hal tercela. Dari beberapa cabang
ilmu yang telah disebutkan diatas, ada tiga cabang ilmu yang harus diajarkan
kepada peserta didik, yaitu:
a.
Ilmu syari’ah dengan segala jenisnya
b.
Ilmu filsafat seperti; ilmu alam dan ilmu
ketuhanan.
c.
Ilmu alat, seperti ilmu bahasa (gramatika) ilmu
filsafat (mantiq).
Dalam literatur
yang lain ibnu khaldun menjelaskan tentang pentingnya nilai ilmu menulis dan
berhitung karena kedua ilmu tersebut mempunyai lapangan yang lebih luas dari
ilmu-ilmu lainnya dalam menambah akal. Selain itu ibnu khaldun berpendapat
bahwa al-quran adalah ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak, karena
mengajarkan al-quran pada anak termasuk syariat islam yang dipegang oleh para
ahli agama dan dijunjung oleh setiap negara islam. Al-quran yang telah
ditanamkan pada anak akan menjadi pegangan hidupnya.
c.
Metode
Pengajaran
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran yaitu di dalam
memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan
problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan
kemampuan akal anak didik. Setelah itu pendidik memberikan problem-problem yang
umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan
terperinci. Pada langkah selanjutnya, pendidik menyampaikan pengetahuan kepada
anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua
persoalan bagaimapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang
sempurna. Itulah metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses
belajar mengajar.
Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena
dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan
mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan
berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak
didik berfikir lebih inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang
menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang
benar. Dalam pandangan Ibnu Khaldun prinsip dari belajar bukanlah penghafalan
di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi.
Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan
paham terhadap apa yang dipelajarinya. Disamping metode yang sudah disebut di
atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini
proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat
ditangkap anak didik.
Demikianlah terlihat betapa besarnya Ibnu Khaldun memberikan
perhatiannya di bidang pendidikan. Dan jika diperhatikan dengan seksama secara
umum Ibnu Khaldun menekankan pada proses belajar mengajar yang dilakukan oleh
guru. Adapun beberapa prinsip dasar yang senantiasa harus diperhatikan oleh para
pendidik yang akan dianalisa secara rinci pada point berikutnya.
d.
Spesialisasi
Menurut Ibnu Khaldun, orang yang mendspat keshlian dalam suatu
pertukangan jarang sekalil yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang
jahit. Hal ini disebabkan karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam
menjahit hingga keahliannya itu hingga tertanam berurat berakar dalam jiwanya,
maka setelah itu dia tidak akan ahli dalam pertukangan kayu dan batu, kecuali
apabila keahlian yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi
corak terhadap pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa
keahlian itu adalah sikap atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak. Dan
mereka yang pikirannya masih mentah, dan dalam keadaan masih kosong akan lebih
mudah mendapatkan keahlian-keahlian baru yang dapat mereka peroleh dengan lebih
mudah. Tetapi apabila jiwa itu telah bercorak dengan semacam keahlian tertentu
dan tidak lagi dalam keadaan kosong, maka cetakan keahlian itu akan menjadikan
jiwa itu kurang tertarik dan kurang bersedia menerima keahlian-keahlian baru.
F.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Iqbal
1.
Riwayat Hidup Iqbal
Lahir di
Sialkot, kota peninggalan Dinasti Mughal India pada tanggal 22 Februari 1873.
Ayahandanya Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan kalangan Sufi. Iqbal
berasal dari keluarga miskin, dengan mendapatkan beasiswa dia mendapat
pendidikan bagus. Keluarga Iqbal berasal dari keluarga Brahmana Kashmir yang
telah memeluk agama Islam sejak tiga abad sebelum kelahiran Iqbal, dan menjadi
penganut agama Islam yang taat. Pada tahun 1895 Iqbal menyelesaikan study di
Scottish dan pergi ke Lahore. Salah satu kota di India yang menjadi pusat
kebudayaan, pengetahuan dan seni. Di kota Lahore ini, sambil melanjutkan
pendidikan sarjananya ia mengajar filsafat di Government College. Pada tahun
1897 Iqbal memperoleh gelar B.A., kemudian ia mengambil program M.A. dalam
bidang filsafat. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold.
orientalis Inggris yang terkenal yang mengajarkan filsafat Islam di College
tersebut. Dengan dorongan dan dukungan dari Arnold, Iqbal menjadi terkenal
sebagai salah satu pengajar yang berbakat dan penyair di Lahor. Pada tahun
1905, ia belajar di Cambridge. Iqbal kemudian belajar di Heidilberg dan Munich.
Di Munich ia menyelesaikan doktornya tahun 1908 dengan disertasi, The
Development of Metaphysics in Persia. Ia kembali ke London untuk belajar di
bidang keadvokatan sambil mengajar bahasa dan kesusastraan Arab di Universitas
London.
2.
Konsep Pendidikan Iqbal
a.
Kurikulum
Kurikulum
secara garis besar dapat diartikan dengan seperangkat materi pendidikan dan
pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang
akan dicapai. Adapun isi kurikulum pendidikan menurut Muhammad Iqbal adalah:
1.
Isi kurikulum pendidikan harus mencakup agama,
sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada umumnya Muhammad Iqbal
menggunakan kata “pengetahuan (knowledge) yang didasarkan pada panca indra.
Pengetahuan dalam arti ini kepada manusia memberikan kekuasan yang harus ditempatkan
di bawah agama. Muhammad Iqbal berpendapat bahwa agama adalah suatu kekuatan
dari kepentingan besar dalam kehidupan individu juga masyarakat. Apabila
pengetahuan dalam arti ini tidak ditempatkan dibawah agama, ia akan menjelma
menjadi kekuatan syetan. Pengertian dalam arti ini dipandang berfungsi sebagai
langkah pertama dalam rangka mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya. Oleh
karenanya kitab merupakan sarana dalam penyampaian ilmu pengetahuan. Jadi
menurut Muhammad Iqbal, antara agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan secara
selaras, karena agama mampu menyiapkan manusia modern untuk memikul tanggung
jawab yang besar yang dimana ilmu pengetahuan juga pasti terlibat.
2.
Isi kurikulum pendidikan juga harus mencakup
pembentukan kepribadian atau watak. Pendidikan watak menurut Muhammad Iqbal
merupakan faktor yang penting dalam pendidikan. Untuk mengembangkan watak,
menurut Muhammad Iqbal pendidikan hendaknya memupuk tiga sifat yang merupakan
unsur-unsur utama dari pendidikan itu sendiri, yakni:
1.
Keberanian,
2.
Toleransi
3.
Faqir
b.
Tujuan Pendidikan
Pendidikan
merupakan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan perorangan maupun kelompok
masyarakat untuk membentuk manusia mukmin sejati atau yang biasa disebut dengan
Insan Kamil. Iqbal menggambarkan manusia yang ideal atau sejati itu melalui
hasil karya-karyanya. Dalam filsafatnya dijelaskan ada beberapa ciri manusia
yang ideal, di antaranya:
1.
Hidup yang baik adalah hidup yang penuh usaha
dan perjuangan, usaha itu tersebut hendaknya bersifat kreatif dan orisinil. Sebagaimana
tertulis dalam syairnya :
Bila anda ingin
melihat dunia sementara ini, Bila anda ingin beralih dari ketiadaan kepada keberadaan,
Bertahanlah! Jangan mudah anda lenyap seperti kilatan cahaya sekejap! Pupuk
keberanian bersusah payah agar berhasil meraih lumbung penuh melimpah. Bila
anda memiliki sinar matahari Beranilah menjelajah langit lazuardi! Orang yang
baik hendaknya belajar menerapkan intelegensinya secara meningkat terus dalam
rangka penjelajahan dan pengendalian daya dan kekuatan alam, sambil menambah
pengetahuan dan kekuatannya sendiri. Sebagaimana dalam syairnya : Intelek memerintah
segala sesuatu yang terbuat dari cahaya maupun dari tanah liat dan tiada yang tak
terjangkau karunia Illah ini Seluruh jagad tunduk merunduk pada keagungan yang
abadi hanya hati yang berani menghadapi setiap derap langkahnya yang
tegap. Di samping itu, Muhammad Iqbal
juga mengemukakan mengenai tujuan diselenggarakannya pendidikan Islam.
Sebenarnya menurut dia pendidikan itu diawali dari adanya rasa ego. Ego akan
mengalami proses evolusi dan selalu berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Ego
yang sempurna itulah menurut M. Iqbal disebut sebagai insan kamil dan inilah
yang menjadi tujuan pendidikan. Adapun rincian dari tujuan pendidikan itu, di
antaranya: Pendidikan tidak semata-mata untuk mencapai kebahagiaan hidup di
akhirat dalam pengenalan jiwa dengan Tuhan.
2.
Tujuan akhir dari pendidikan hendaknya dapat
memperkokoh dan memperkuat individualitas dari semua pribadi, sehingga mereka
dapat menyadari segala kemungkinan yang dapat saja menimpa mereka.
3.
Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus
tertuju pada pengembangan keseluruhan potensi manusia yang mencangkup
intelektual, fisik dan kemauan untuk maju. Dalam kaitanya dengan ini Muhammad
Iqbal menjelaskan beberapa pemikiranya tentang kehendak kreatif. Hidup adalah
kehendak kreatif yang oleh Muhammad Iqbal disebut dengan Soz . Yaitu diri yang
selalu bergerak kesatu arah. Aktivitas kreatif, perjuangan tanpa henti dan
partisipasi aktif dalam permasalahan dunia harus menjadi tujuan hidup. Berkat
kreativitas itulah manusia telah berhasil mengubah dan menggubah yang belum
tergarap dan belum terselesaikan dan mengisinya dengan aturan dan keindahan.
4.
Tujuan pendidikan harus mampu memecahkan
masalah-masalah baru dalam kondisi perorangan dan masyarakat atau menyesuaikan
dengan kondisi masyarakat.
c.
Fungsi Pendidikan
Melahirkan
melahirkan interaksi yang dinamis dan progesif agar saling bertautan secara
serasi.
d.
Metode Pembelajaran
Dalam
pengertian leterlijk, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari
“meta” yang berarti” melalui “ dan “hodos” yang berarti” jalan yang dilalui”
Metode pendidikan didasarkan pada tingkat usia anak didik berdasarkan
pertimbangan periode perkembangan anak didik, Nabi mengemukakan cara mendidik
yang baik. Beliau menyatakan didiklah anak-anakmu dengan cara bermain-main pada
usia tujuh pertama dan tananamkanlah disiplin kepada mereka pada tujuh tahun
berikutnya kemudian ajaklah mereka berdiskusi saat mereka mencapai periode usia
tujuh tahun yang ketiga dan selanjutnya barulah mereka dapat di lepaskan untuk
menentukan sikap hidupnya secara mandiri. Adapun metode pendidikan yang sesuai
menurut Muhammad Iqbal adalah :
1.
Self activity
Metode ini di gunakan
untuk mencari potensi diri atau mengembangkan potensi diri peserta didik dengan
kebebasan mengembangkan kreativitas sesuai dengan yang di kehendaki
2.
Learning by doing.
Jenis
pengajaran yang di kehendakinya adalah menghadapkan siswa pada situasi baru
yang mengundang mereka untuk bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan yang di
galinya dari sumber yang tersedia dalam lingkungan mereka.
3.
Tanya jawab.
Pendidikan
harus mampu untuk mencetak pribadi yang kritis, yaitu terus bertanya dan tidak
begitu saja menerima pandangan atas dasar kepercayaan belaka.
4.
Metode proyek atau unit
Adalah cara
penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari sesuatu masalah, kemudian di bahas
dari segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan
bermakna. Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan
masalah harus ditinjau dari berbagai macam segi agar tuntas dalam melibatkan
mata pelajaran yang ada kaitannya sebagai sumber dari pemecahan masalah
tersebut.
5.
Metode pemecahan masalah atau problem solving.
Bukan hanya
sekedar metode berfikir sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode-metode lainya yang di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan.
e.
Peranan peserta didik
Peserta didik
bebas mengembangkan bakat dan kepribadianya. Dilihat dari kedudukannya, peserta
didik adalah mahluk yang sedang berada dalam proses perkembangan menurut
fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang
konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Pemikiran Muhammad
Iqbal tentang pendidikan khususnya pada peranan peserta didik adalah berpangkal
pada kebebasan manusia. Manusia merupakan ego yang memiliki kebebasan untuk
menentukan pilihan sendiri dengan segala konsekuensinya. Dengan kebebasannya
itu, peserta didik memungkinkan untuk diarahkan agar memiliki kreativitas
berfikir tinggi sehingga dapat memunculkan inovasi-inovasi baru yang dapat
dipergunakan untuk menjawab berbagai tantangan dimasa sekarang dan akan datang
yang merupakan dampak negatif dari globalisasi dan industrialisasi. Muhammad
Iqbal sepenuhnya meyakini besarnya nilai kebudayaan suatu masyarakat terhadap
pendidikan serta terhadap hak pengembangan idividu. Muhammad Iqbal mengharap
agar sekolah dapat membina dan mengembangkan pribadi-pribadi yang bebas, berani
dan kreatif. Arti kebebasan mengandung arti yang besar. Kebebasan terkadang
mengandung arti selain memilih sesuatu yang baik juga bebas untuk nenentukan
pilihan yang jahat. Namun yang dimaksud kebebasan disini adalah tugas manusia
untuk melaksanakan dan mewujudkan kepercayaan-Nya itu dengan jalan memanfaatkan
karunia berupa kebebasan tersebut secara bijaksana dan konstruktif.
f.
Peranan pendidik
Pendidik dalam
menggali dan mengembangkan konsep pendidikannya akan harus mengkaji dan
meneliti hakikat individualitas dan lingkungan. Muhammad Iqbal berpendapat
bahwa tumbuh kembangnya individualitas tidak mungkin terjadi tanpa kontak
langsung dengan lingkungan yang konkrit dan dinamis.
Sikap pendidik yang baik menurut Muhammad Iqbal adalah dengan jalan membangkitkan kesadaran yang sungguh pada anak didiknya berkenaan dengan aneka ragam relasi dengan lingkungannya dan dengan jalan demikian merangsang pembentukan sasaran-sasaran baru secara kreatif. Muhammad Iqbal kurang menyetujui pendidikan sistem kelas, maksudnya guru yang mengurung siswanya diantara keempat dinding kelasnya. Hal ini dikarenakan bahwa anak perlu berhubungan dengan alam dalam setiap proses belajarnya, yaitu untuk menumbuhkan sikap keingintahuan serta untuk menumbuhkan kreativitasnya.
Sikap pendidik yang baik menurut Muhammad Iqbal adalah dengan jalan membangkitkan kesadaran yang sungguh pada anak didiknya berkenaan dengan aneka ragam relasi dengan lingkungannya dan dengan jalan demikian merangsang pembentukan sasaran-sasaran baru secara kreatif. Muhammad Iqbal kurang menyetujui pendidikan sistem kelas, maksudnya guru yang mengurung siswanya diantara keempat dinding kelasnya. Hal ini dikarenakan bahwa anak perlu berhubungan dengan alam dalam setiap proses belajarnya, yaitu untuk menumbuhkan sikap keingintahuan serta untuk menumbuhkan kreativitasnya.
G.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Naquib Al-Attas
1.
Riwayat Hidup Naquib
Al-Attas
Nama lengkap
Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah
bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Beliau dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada
tanggal 5 September 1931. Pada waktu itu Indonesia berada dibawah kolonialisme
Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang
beruntung secara inheren. Sebab dari kedua belah pihak,baik pihak ayah maupun
pihak ibu merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli Bogor itu
masih keturunan bangsawan Sunda. Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan
di Johor. Bahkan mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang
mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad.
Pada usia lima
tahun, Syed Muhammad Naquib dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar
Ngee Hang (1936-1941). Pada masa pendidikan Jepang, dia kembali ke Jawa
untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqa, Sukabumi
(1941-1945). Setelah Perang Dunia II pada 1946, Syed Muhammad Naquib kembali ke
Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahra School
kemudian di English College (1946-1951). Setelah itu, beliau mengikuti
pendidikan militer, pertama di Erron Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal
Millitary Academy, Sandhurst, Inggris. Selain mengikuti pendidikan
militer, Al-Attas juga sering pergi ke Negara-negara Eropa lainnya (terutama
Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan
tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Setelah tamat dai
Sandhurst, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor resimen tentara kerajaan
Malaya. Al-Attas mendapatkan gelar M.A. pada 1962 dari Universitas McGill,
Montreal. Sedangkan gelar Ph.D. diperoleh dari Universitas London 1965.
2.
Konsep Pendidikan Naquib Al-Attas
Syed
Muhammad Naquib al-Attas adalah salah
seorang cendekiawan dan filsuf muslim dari Malaysia yang menguasai
teologi, filsafat, metafisika, sejarah dan literatur. Kepakarannya dalam
bidang-bidang tersebut tidak diragukan lagi dan sudah diakui oleh
berbagai kalangan intelektual.
Berikut
merupakan sebagian dari pemikiran-pemikiran yang beliau gagas.
1.
Makna dan Tujuan Pendidikan
Makna dan
tujuan pendidikan adalah dua unsur yang saling berkaitan. Secara umum ada dua pandangan
teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya
tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi kemayarakatan, yaitu
pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan
rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis, oligarkis maupun
monarkis. Pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi kepada individu,
yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.
Ada
tiga istilah yang dianggap memiliki arti
yang dekat dan tepat dengan makna pendidikan. Ketiga
istilah itu adalah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib yang masing-masing memiliki
karakteristik makna disamping mempunyai
kesesuaian dalam pengertian pendidikan Islam.
Ø Makna tarbiyah dalam
rangka pendidikan Islam
Menurut Najib
Khalid al-Amir ada lima sisi dari
pengertian tarbiyah secara berkesinambungan yang
satu sama lain berbeda sesuai dengan pembentukannya
yaitu:
a.
Tarbiyah adalah menyampaikan
sesuatu untuk mencapai kesempurnaan. Bentuk penyampaian
satu dengan yang lain berbeda sesuai
dengan cara pembentukannya.
b.
Tarbiyah adalah menentukan tujuan melalui
persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.
c.
Tarbiyah adalah sesuatu yang dilakukan secara
bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik (murabbi).
d.
Tarbiyah dilakukan secara
berkesinambungan. Artinya tahapan-tahapan sejalan
dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas
tertentu, terhitung dari buaian sampai liang lahat.
e.
Tarbiyah adalah tujuan
terpenting dalam kehidupan baik secara individu maupun keseluruhan.
Ø Makna ta’lim
dalam rangka pendidikan Islam
Adapun al
ta’lim secara etimologis berasal dari kata kerja “allama” yang berarti
mengajar. Jadi makna ta’lim dapat diartikan “pengajaran” seperti dalam bahasa
arab dinyatakan Tarbiyah wa ta’lim berarti “pendidikan dan
pengajaran”. Sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya “al tarbiyah al
Islamiyah”.
Ø Makna ta’dib
dalam rangka pendidikan Islam
Adapun ta’dib
secara bahasa merupakan bentuk masdar dari kata “addaba” yang berarti memberi
adab mendidik (Yunus, 1972: 37). Istilah ini dalam kaitan dengan
arti pendidikan Islam telah dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas yang
menyatakan bahwa istilah ta’dib merupakan istilah ynag dianggap tepat untuk
menunjuk arti pendidikan Islam. Pengertian ini didasarkan bahwa arti pendidikan
adalah meresapkan dan menambahkan adab pada manusia.
Dalam bukunya
yang lain, beliau menyebutkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk
menghasilkan manusia-manusia yang baik. Orang yang baik disini adalah adab
dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan
material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang
diterimanya.” Maka, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam
didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. Dalam pengertian yang asli
adab adalah mengundang ke suatu perjamuan. Perjamuan menyiratkan bahwa tuan
rumah adalah seorang yang mulia dan terhormat dan banyak orang yang hadir. Ini
juga berarti bahwa orang-orang yang hadir itu adalah mereka yang dalam
penilaian tuan rumah patut mendapat atas undangan itu. Berdasarkan ini maka
adab berarti juga disiplin terhadap pikiran dan jiwa, untuk menunjukkan
tindakan yang betul melawan yang keliru, yang benar melawan yang salah, agar
terluput dari noda dan cela.
Pendidikan
menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang ini
diebut ta’dib” al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab
adalah Nabi Muhammad SAW. Yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai
Manusia Sempurna atau Manusia Universal. Menurut Al-Attas, jika benar-benar
dipahami dan dijelaskan dengan baik, sebagaimana telah dijelaskan diatas,
konsep ta’adib adalah konsep paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya
tarbiyah ataupun ta’lim. Dia mengatakan, “Struktur konsep ta’adib sudah mencakup
unsur-unsur ilmu, instruksi dan pembinaan yang baik sehingga tidak perlu lagi
dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga
serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib.”
2.
Kurikulum Dan Metode Pendidikan
Metode
merupakan sarana yang bermakna dan faktor
yang akan mengefektifkan pelaksanaan pendidikan.
Demikian pentingnya metode dalam pendidikan Islam,
telah menempatkan faktor ini sebagai faktor yang
esensial dalam pelaksanaan pendidikan.
Ø Persiapan Spiritual
Abu Sa’id
Al-Kharraz , seorang sufi terkenal abad ke-9 M, mengatakan bahwa salah satu
prinsip etika adalah keikhlasan, disamping kebenaran dan kesabaran. Disamping
itu Al-Attas menekankan kejujuran dan keikhlasan dalam mencari ilmu dan
mengajarkan ilmu.
Ø Ketergantungan
Pada Otoritas dan Peranan Guru
Al-Attas
mengatakan bahwa otoritas tertinggi adalah al-Qur’an dan Nabi, yang diteruskan
oleh para sahabat dan para ilmuwan laki-laki dan perempuan yang mengikuti
sunahnya. Peranan guru dianggap sangat penting. Peserta didik diharapkan tidak
tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru.
Ø Peranan Bahasa
Al-Attas selalu
menganalisis dan menjelaskan konsep dan istilah kunci, serta menekankan
pemakaian bahasa secara benar sehingga makna yang benar mengenai istilah dan
komsep kunci yang termuat didalamnya tifak berubah atau dikacaukan. Mungkin
Al-Attas adalah pemikir pertama di kalangan Muslim yang menyatakan bahwa sarana
utama Islamisasi bangsa Arab pra-Islamadalah melalui Islamisasi bahasa Arab itu
sendiri. Demikian pula de-Islamisasi atau sekulerisasi pemikiran Muslim juga
berlangsung secara efektif melalui aspek linguistik.
Ø Metode Tauhid
Metode tauhid
ini menyelesaikan problematika dikotomi yang salah, seperti antara aspek
objektif dan subjektif ilmu pengetahuan. Sayangnya apa yang dianggap objektif
dianggap lebih nyata dan karena itu lebih valid daripada yang subjektif.
Ø Pancaindra,
Akal, dan Intuisi
Al-Attas
membenarkan adanya kemampuan psikologis, yang dalam konsepsi Islam mengenai
jiwa dan proses kognitif, kemampuan tersebu diletakkan sesuai dengan peranannya
yang tepat. Sebab Islam mengakui kebenaran pelbagai saluran ilmu pengetahuan ,
seperti pancaindra, berita yang benar, akal sehat, dan intuisi yang digabung di
dalam akidah.
Ø Penggunaan
Metafora dan Cerita
Ciri metode
pendidikan A-Attas yang lain adalah penggunaan metafora dan cerita sebagai
contoh atau perumpamaan, sebuah metode yang juga banyak digunakan dalam
al-Qur’an dan hadis. Salah satu metafora yang sering digunakan adalah metafora
papan penunjuk iklan (sign post). Kajian Al-Attas mengenai muatan pendidikan
Islam berangkat dari pandangan bahwa karena manusia itu bersifat dualistis,
ilmu pengetahuan yang dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik adalah yang
memiliki dua aspek. Pertama, yang memenuhi kebutuhannya yang berdimensi
permanen dan spiritual; dan kedua, yang memenuhi kebutuhan material dan
emosional. Ia juga secara tegas mengusulkan pentingnya pemahaman dan aplikasi
yang benar mengenai fardu ain dan fardu kifayah. Penekannanya pada kategorisasi
ini mungkin juga karena perhatiannya terhadap kewajiban manusia dalam menuntut
ilmu dan mengembangkan adab. Ilmu fardhu ’ain (ilmu-ilmu agama), yaitu :
v Kitab suci
Al-Qur’an.
v Sunnah.
v Syari’at.
v Teologi.
v Metafisika.
v Ilmu Bahasa
(bahasa Arab).
Ilmu fardhu
kifayah, yaitu:
v Ilmu
Kemanusiaan
v Ilmu Alam
v Ilmu Terapan.
v Ilmu Teknologi.
v Perbandingan
Agama.
v Kebudayaan
Barat.
v Ilmu
Linguistik: Bahasa Islam, dan
v Sejarah Islam.
3.
Murid dan Guru Dalam Pandangan Syed M. Naquib
Al-Attas
Peserta didik
disarankan untuk tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru, sebaliknya
peserta didik harus meluangkan waktu untuk mencari siapakah guru terbaik dalam
bidang yang ia gemari. Adab guru dan peserta didik dalam filsafat pendidikan
Al-Attas tampaknya diilhami oleh prinsip yang dipertahankan para ilmuwan
Terkenal, khususnya Al-Ghazali. Selain persiapan spiritual, guru dan peserta
didik harus mengamalkan adab, yaitu mendisiplinkan pikiran dan jiwa. Peserta
didik harus menghormati dan percaya kepada guru; harus sabar dengan kekurangan
gurunya dan menempatkannya dalam perspektif yang wajar.
Peserta didik
seharusnya tidak menyibukkan diri pada opini yang bermacam-macam. Sebaliknya,
ia meguasai materi sebaik penguasaannya dalam praktik. Tingkat ilmu seseorang
yang bisa dibanggakan adalah yang memuaskan guru. Gurupun seharusnya tidak
menafikan nasihat yang datang dari peserta didik dan harus membiarkannya
berproses sesuai dengan kemammpuannya. Guru juga harus menghargai kemampuan
peserta didik dan mengoreksinya dengan penuh rasa simpati.
H.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Hasan Langgulung
1.
Riwayat Hidup Hasan
Langgulung
Hasan Langgulung lahir pada tanggal 16 oktober
1934 , di Rappang, Sulawesi Selatan. Pendidikan Dasar yang ditempuhnya adalah
SD Rappanbg ujung Pandang. Setelah itu melanjutkan studinya ke SMP dan Sekolah
Menengah Islam di ujung Pandang yang berlangsung dari tahun 1949-1952. Setelah
menyelesaikan sekolah menengah , Ia melanjutkan pendidkan ke B.I. Inggris di
Ujung Pandang dan mendapat gelar M.A. dalam bidang psikologi dan mental Hygiene
di Ein Shams University Kairo pada tahun 1967. Sebagai puncak studinya , ia berhasil menyelesaikan program Doktor
pada University of Georgia Amerika Serikat pada tahun 1971, dengan judul
Disertasi: A. Cross Cultural Study of The Child Coneption of
Situational Causality in India, Westem Samao, Mexico, and the United
States.
Ia adalah salah sesorang pemikir Muslim Asia Tenggara yang
banyak mencurahkan perhatiannya pada Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terutama pada
bidang pendidikan dan Psikologi. Beliau berupaya untuk memadukan
pemikiran-pemikiran barat modern dengan pemikiran Islam.
2.
Konsep
Pendidikan Hasan Langgulung
Ada Beberapa pokok Pikiran Hasan Langgulung tentang Pendidikan
Islam:
a.
Hakekat
Pendidikan Islam
Menurut tokoh progrsivisme John Dewey, pendidikan merupakan
keharusan dalam kehidupan manusia. Ini berarti bahwa pendidikan merupakan
kebutuhan hakiki, karena manusia tidak bisa hidup secara wajar tanpa adanya
proses pendidikan. Pada umumnya pendidikan diartikan sebagai pemberian
bantuan orang dewasa kepada yang belum dewasa melalui pergaulan, dengan tujuan
agar yng dipengaruhi kelak dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai manusia
secara mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga menurut Langgulung pendidikan
dapat dilihat dari tiga segi. Pertama segi individu, kedua, masyarakat, dan
ketiga individu dan masyarakat atau sebagai interaksi antara individu dan
masyarakat . Dari segi individu, ia beranggapan bahwa manusia didunia ini
mempunyai kemampuan yang bersifat umum, kemampuan melihat dan mendengar,
berbeda beda sesuai derajat masing-masing. Dalam Pengertian ini Pendidkkan
didefinisikan sebagai proses penemuan dan pengembangan kemampuan. Jadi
pendidikan adalah proses menampakkan yang tersembunyi pada anak. Aspek yang
tersembunyi tersebut adalah kecerdasan, pribadi, kreatifitas dan lain-lain.
Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam sebagai pengembangan
potensi pada dasarnya telah diberikan oleh Allah kepada Manusia, sebagaimana
firman Allah yang artinya :
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh, (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud”.( Q.S. Al Hijr 29)
Sifat sifat Tuhan yang disebut dalam Al Qur’an disimbulkan dengan
nama-nama yang indah (al Asmaul Husna) yang menyatakan Tuhan sebagai Maha
Pengasih (al Rahman), Maha Penyayang (al Rahim), dan lain-lain. Bagi Hasan
langgulung kalau sifat Tuhan yang berjumlah 99 itu diaktualisasikan pada diri
manusia, ia merupakan potensi yang agung.
Sementara pendidikan Islam sebagai warisan budaya adalah suatu upaya
bagaimana memindahkan unsur pokok peradaban dari suatu generasi ke generasi
berikutnya supaya identitas umat tetap terpelihara. Sedangkan pendidikan Islam
sebagai interaksi antara potensi dan budaya. Menurut Hasan Langgulung, sangat
terkait dengan konsep fitrah. Fitrah dapat dipandang dari dua sisi yaitu fitrah
sebagai potensi yang melengkapi manusia sejak lahir dan fitrah sebagai
din yang menjadi tiang tegaknya peradaban Islam, kedua hal tersebut
bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Langgulung menegaskan, jika pendidikan dianggap penting bagi
individu dan masyarakat secara umum yang berlaku sepanjang zaman, maka
masyarakat Islam berkewajiban memberi perhatian penuh pada pendidikan. Jadi,
pendidikan Islam berusaha mengembangkan manusia seutuhnya, seperti yang berlaku
pada sistem pendidikan lainnya.
b.
Tujuan
Pendidikan Islam
Hasan Langgulung menerjemahkan tujuan pendidikan islam
kedalam tiga ketegori, yaitu tujuan tertinggi atau akhir (aim), tujuan umum (goals)
dan tujuan khusus (objectives). Tujuan umum adalah perubahan yang dikehendaki,
yang diusahakan oleh pendidikan untuk dicapai. Sedangkan yang dimaksud dengan
tujuan khusus adalah perubahan yang diinginkan yang merupakan bagian tujuan
umum. Tujuan khusus ini merupakan realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah
laku, sikap dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan umum. Menurut
Hasan langgulung tujuan pendidikan baik akhir, umum, maupun khusus, semuanya
bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, tetapi ia telah diungkapkan dalam bahasa
dan istilah modern yang dapat dilaksanakan di bangku sekolah.
Dalam memperbincangkanm tujuan pendidikan Islam, Langgulung banyak
menekankan pada tujuan akhir, karena tujuan ini tidak terbatas pada lembaga
pendidikan tertentu, sehingga rumusannya terlihat sangat abstrak dan tidak
operasional. Para pemikir Islam kontemporer, kurang memberikan perhatian pada
tujuan khusus, bahkan menyerahkan kepada guru dan pemikir pendidikan lainnya.
Berbeda dengan pemikir Barat yang berusaha merumuskan secara jelas tujuan
pendidikan khusus tersebut.
c.
Asas Pendidikan
Islam
Asas pendidikan Islam menurut Hasan langgulung memiliki
nuansa yang distingtif dalam spektrum pemikiran pendidikan Islam. Dalam hal ini,
ia berbeda dengan pemikir muslim lainnya. Pendidikan mempunyai asas yang
merupakan tempat ia berpijak tegak dalam suatu materi, interaksi, inovasi dan
cita-citanya. Adapun asas yang dimaksud adalah :
1.
Asas historis
yang memberi bekal kepada pendidik pengalaman masa lalu.
2.
Asas sosial
yang memberi kerangka budaya dari mana ia bergerak dan bertolak dalam
upaya memilih dan mengembangkannya.
3.
Asas ekonomi
yang memberi prospek potensi manusia untuk mengatur keuangan dan
bertanggungjawab terhadap anggaran belanjanya.
4.
Aspek
politik dan administrasi yang memberi kemungkinan untuk memilih
sistem, mengontrol, dan memberi arahan kepada semua asas yang lain.
d.
Kurikulum Pendidikan Islam
Hasan Langgulung dalam membahas kurikulum
pendidikan Islam, memberikan definisi seperti pendapat Al-Syaibany yaitu; kurikulum
adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan , sosial, olah raga, dan
kesenian yang disediakan oleh sekolah untuk murid, baik didalam maupun diluar
sekolah dengan maksud menolong perkembangan secara menyeluruh, dan
merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dari definisi diatas, Langgulung berkesimpulan bahwa kurikulum
mempunyai empat unsur utama yaitu :
1.
Tujuan yang
ingin dicapai oleh pendidikan, yaitu orang yang bagaimana yang ingin dibentuk
melalui kurikulum tersebut.
2.
Pengetahuan (
knowledge), informasi, data aktifitas, dan pengalaman di mana kurikulum
terbentuk yang lazim disebut mata pelajaran.
3.
Metode dan cara
mengajar yang dipakai oleh guru, untuk mendorong murid belajar dan membawa
mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum.
4.
Metode dan cara
penelitian yang digunakan untuk mengukur dan menilai kurikulum serta hasil
proses pendidikan yang direncanakan kurikulum.
e.
Evaluasi
Pendidikan
Evaluasi pendidikan berusaha menentukan apakah
tujuan pendidikan tercapai atau tidak. Evaluasi ini berkaitan dengan pertanyaan
“Bagaimana efektifitas pengalaman belajar dapat dievaluasikan dengan
menggunakan tes atau menggunakan prosedur pengumpulan data yang sistematik
lainnya”.
Dengan demikian, evaluasi sangat penting unruk mengukur sejauh mana
keberhasilan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar. Menurut Hasan
Langgulung, evaluasi dalam pendidikan Islam adalah mutlak adanya, karena tujuan
pendidikan Islam berlaku untuk sepanjang hayat, maka kriteria penilaian
juga harus berlainan dengan pendidikan berasal dari falsafah lain.
Bukan sekedar lulus ujian saja, namun harus dimasukkan juga kebijaksanaan
(wisdom) dan budi mulia (virtue) sebagai kriteria. Penilaian dalam
pendidikan Islam, menurutnya tidak mesti bersifat materialistik, kalaupun
dipergunakan harus ditunjukkan bahwa ia hanyalah sebagai alat bukan tujuan.
I.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Nur Cholis Madjid
1.
Riwayat Hidup Nur
Cholis Madjid
Nurcholish Madjid, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram
1358), dari keluarga kalangan pesantren. Ayahnya bernama H. Abdul Madjid, dan
ibunya Hj. Fathonah, Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan
Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul
'Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah) Pesantren
Darus Salam di Gontor, Ponorogo; melanjutkan ke perguruan tinggi di IAIN Syarif
Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago,
Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).
Aktif dalam gerakan kemahasiswaan. Ketua Umum PB HMI, 1966-1969 dan
1969-1971; Presiden (pertama) PEMIAT (Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara),
1967-1969; Wakil Sekjen I
IFSO (International Islamic Federation of Students Organizations),
1969-1971.
Mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah, 1972-1976; dosen pascasarjana
IAIN Syarif Hidayatullah, 1985-sekarang; peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), bersamaan dengan tugas-tugasnya itu, ia pernah juga
berkesempatan menjadi dosen tamu pada universitas McGill, Montreal, Canada, pada
tahun 1990 didampingi oleh istrinya yang mengikuti program Eisenhower
Fellowship.
Ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai
majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa diantaranya berbahasa
Inggris. Buku-bukunya yang telah terbit ialah Khazanah Intelektual Islam
(Jakarta, Bulan Bintang, 1984), Islam Kemodernan dan Keindonesiaan,
(Bandung, Mizan, 1987), Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah
Krisis tentang Masalah Keimanan, Kemanusian dan Kemodernan, (Jakarta, yayasan
wakaf paramadina, 1992).
Sejak 1986, bersama kawan-kawan di ibukota, mendirikan dan memimpin
Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada gerakan
intelektual Islam di Indonesia. Buku ini adalah salah satu hasil kegiatan itu.
Dan sejak 1991 menjabat Wakil Ketua Dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se
Indonesia (ICMI).
2.
Konsep
Pendidikan Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan
gerakan Islam di Indonesia. Yang dapat ditelusuri dan dilacak gagasan dan
konsep yang berkitan dengan pendidikan. Uraian berikut ini akan mencoba melihat
dan menjajagi pemikiran dan gagasan Nurcholish Madjid dalam bidang pendidikan
islam .
a.
Pembaruan pesantren.
Nurcholish Madjid sebagai seorang cendikiawan berpendapat bahwa
pesantren berhak, malah lebih baik dan lebih berguna, mempertahankan pendidikan
agama. Namun, mungkin diperlukan suatu tinajuan kembali sedemikian rupa,
sehigga ajaran-ajaran agama yang diberikan kepada setiap pribadi meruapan
jawaban yang komprehnesif dalam islam. Pelajaran yang dapat diberikan dalam
membentuk pesantren diantaranya: (1). Mempelajari al-qur’an dengan cara yang
lebih sungguh-sungguh daripada yang umumnya dilakukan orang sekarang, yaitu
dengan menitiberatkan pada pemahaman makna dan ajaran-ajaran yang terkandung di
dalamnya. (2). Memanfaatkan mata pelajaran lain untuk disisipi
pandangan-padangan keagamaan dan menanamkan kesadaran dan penghargaan yang
lebih wajar pada hasilseni budaya islam atau menumbuh kepekaan rohani, termasuk
kepekaan rasa ketuhanan yang menjadi keagamaan. (3). Mengadakan pengaturan
kembali alokasi waktu dan tenaga pengajaran sehingga terjadi penghematan dan
intensifikasi bagi pelajaran-pelajaran lainnya. (4). Memberikan pembekalan dan
kemampuan yang nyata yang didapat melalui pendidikan atau pengajaran
pengetahuan umum secara memadai dan menyediakan jurusan-jurusan alternatif bagi
anak didik sesuai dengan potensi dan bakat mereka.
Berdasarkan analisis di atas Nurcholish Madjid berkesimpulan bahwa
tujuan pendidikan pesantren adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran
tinggi bahwa ajaran islam merupakan pembelajaran yang menyeluruh. Selain itu,
produk pesantren ini diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk melakukan
responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks
ruang dan waktu yang ada (Indonesia dan dunia abad sekarang).
b.
Kebangkitan
gerakan inteleqtual dikalangan ummat islam.
Pemikiran Nurcholish Madjid dalam bidang pendidikan juga terlihat
dari upayanya membangkitkan rasa percaya diri pada umat islam. Caranya antara
lain dengan menunjukkan bahwa ummat islam pernah tampil sebagai pelopor dalam
bidang ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, serta tampil sebagai adikuasa.
Untuk ini Nurcholish Madjid memperkenalkan pemikiran para tokoh filosof tingkat
dunia, seperti al-kindi, al-asy’ari, al, Farabi, ibn. Sina, al-Ghazali. Gagasan
dan pemikiran para tokoh tersebut dalam bidang teologi, filsafat, ilmu
pengetahuan dan kedokteran diperkenalkan. Agar umat islam menggali khazanah intelektual
islam di zaman klasik.
c.
Pendidikan
akhlak.
Sejalan dengan pentingya pendidikan agama dalam lingkungan keluarga
yang ditentangkan pada pengalaman agama yang terkait erat dan etika, moral dan
akhlak. Untuk ini Nurcholish Madjid memiliki perhatian yang luar biasa, agar umat
islam memiliki komitmen terhadap tegaknya etika, moral dan akhlak. Dalam
berbagai kesempatan dalam tulisanya. Ia banyak menyinggung kehancuran suatu
bangsa dari sejak zaman klasik yang penyebab utamanya adalah akhlak. Dalam berbagai
kesempatan ia mengingatkan bahaya dengki yang dapat memakan segala kebaikan,
dan merupakan pangkal kesengsaraan. Ia mengingatkan agar manusia menahan
amarah, mengendalikan hawa nafsu, taat karena benar, satu kata dan perbuatan,
memperhatikan perkataan orang lain, hormat pada tua, dalam bekerja hendaknya
berorientasi pada prestasi, bukan prestise, agak berfikir dan bertindak
strategis, fitrah dan akhlak, akhlak dan kemajuan bangsa, hubungan amal saleh
dan kesehatan jiwa, menjauhi kemewahan, mau mengatakan yang benar walaupun
terasa pahit, mau berkorban, mau berderma bakti.
J.
Pendidikan
Islam dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah
1.
Riwayat Hidup
Rahmah El-Yunusiyah
Rahmah El-
Yunusiyah lahir pada hari jum’at, 1 Rajab 1318 H / 26 Oktober 1900 M, di Padang
Panjang dan wafat pada hari rabu 9 Dzulhijah 1388 H / 26 Febuari 1969 M. Ia
anak bungsu pasangan Syaikh Muhammad Yunus dan Rofiah. Ayahnya merupakan
seorang ulama dan sekaligus Qodhi di pandai Sikat, Kakeknya bernama Imanuddin,
seorang ulama ahli falak dan pemimpin tarekat naqsabandiah di Minangkabau
pada usia 16 tahun, ia dipersunting oleh Haji Baharuddin Lathif dari Sumpur
Pandang Panjang. Namun demikian enam tahun kemudian (1922) ia bercerai dengan
suaminya terlibat “ Islam Merah”.
2.
Konsep pendidikan Rahmah El- Yunusiyah
a.
Pendidikan Untuk Semua
Itu adalah
konsepsi pendidikan yang mendasari Rahmah El- Yunusiyah, ini diangkat dari prinsip-prinsip
yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits yang memposisikan manusia pada posisi
yang sama. Perbedaan diantara manusia yang satu dengan yang lainnya hanya
terletak pada tingkat ketaqwaannya. Tujuan ideal ini menempatkan manusia, baik
laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu
pengetahuan. Proses ini dilakukan sejak manusia berada dalam alam rahim sampai
meninggal dunia.
b.
Mendirikan Madrasah li al- Banat
Ini untuk
merealisasikan konsepsi yang ditawarkan Rahmah El- Yunusiyah dalam mewujudkan
cita-citanya. Dengan nama madrasahnya yaitu Madrasah Diniyah Puteri Padang
Panjang. Pendirian lembaga pendidikan ini memiliki tujuan untuk membentuk
puteri yang berjiwa Islami, ibu (pendidik) yang cakap dan aktif, serta
bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar
pengabdian kepada Allah SWT.
Tujuan Madrasah
Diniyah puteri lainnya lebih menekankan urgensi pembentukan individu dalam
hubungannya dengan tanggung jawab moral dan social, sementara di sisi lain,
kelihatannya lembaga ini memiliki konsistensi terhadap ajaran agama
Islam, dalam hal ini pendidikan yang diterapkan berupaya membentuk
pribadi-pribadi yang memiliki keterkaitan transenden (ruh Islam). Di samping
itu, lembaga pendidikan ini juga berupaya memberikan latihan kecakapan
(keterampilan) guna memunculkan kreatifitas dan realisasi peran kekhalifahan manusia
di muka bumi.
c.
Pembaharuan Sistem Pendidikan
Untuk
memperbaharui sistem pendidikan ia mengatakan beberapa studi banding di
beberapa daerah untuk memperoleh masukan bagi menyempurnakan sistem pendidikan
madrasahnya. Diantara hasil studi banding ini, ia memandang perlu untuk
melakukan medernisasi kurikulum, dengan memasukan mata pelajaran umum pada
insitusi yang didirikannya.
d.
Pengembangan Aspek Kognitif, Efektif dan
Psikomotorik
Dalam aktivitas
proses pendidikannya, hal ini tampak pada usahanya untuk memberikan pendidikan
ketrampilan praktis bagi kaum perempuan. Ketrampilan Praktik tersebut antara
lain :
§ Ketrampilan
Masak
§ Bertenun
§ Industri Rumah
Tangga
§ Olahraga
§ Dan P3K kepada
peserta didik
Jika pemikiran
yang dilakukannya ini dilihat dari perspektif filsafat Islam. Secara Komperhensif, pemikiran Rahmah
El-Yunusiyah terlihat jelas pada kosep Tri Tunggal Pendidikan perempuan yaitu :
§ Pendidikan di
sekolah
§ Pendidikan di
asrama
§ Pendidikan di
masyarakat
Ketika peta
pendidikan Islam Indonesia mengarahkan orientasinya pada misi politik,
megakibatkan pemerintah colonial menetapkan peraturan ordonansi sekolah liar.
Peraturan ini bermaksud membatasi ruang gerak pelaksanaan pendidikan bumi
putera dalam segala hal. Kondisi ini tidak membuat Rahmah El- Yunusiyah
terwarnai dengan kondisi yang berkembang pada pendidikan waktu itu. Ia secara
konsisten tetap mengacu pada tujuannya, tanpa mau terlibat dengan memasukan
pelajaran polotik pada kurikulum lembaga pendidikannya.Sikap ini mendapat
kritikan dari Rasuna Said. Menurut Rasuna Said politik sangat diperlukan bagi
seseorang yang menginginkan perubahan dan pembaharuan dalam sebuah gerakan.
Kritik ini
ditanggapi Rahmah El-Yunusiyah secara arif dan bijaksana. Menurutnya merujuk
pada kondisi masa ini memberikan pendidikan agama yang kuat pada peserta didik
lebih diperluka dari pada pendidikan politik. Politik tanpa didasari agama maka
akan menjadi sebagai bumerang yang justru akan menghancurkan agama. Prinsip
yang demikian konsisten ini tidak berubah, meskipun ada permintaan agar Diniyah
puteri bergabung dengan anggota PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) yang mencoba
mengimbangi politik Sukarno yang dilakukan melalui PNI.
Sikap konsisten
yang diambil Rahmah El-Yunusiyah merupakan wujud komitmennya terhadap falsafah
hidup Islam, yaitu : wujud tanggung jawab moral yang fundamental. Penekanan
pada pelaksanaan pendidikan agama, merupakan upaya menanakam nilai-nilai
absolute ilahi yang berfungsi sebagai control dan pemberi arah kehidupan ideal
bagi umat manusia. Tatkala nilai-nilai Islam telah mampu tertanam dalam diri
setiap individu dan social pada kehidupan yang baik dan sejahtera. Untuk
merealisasikan ideanya in, ia memulaina dengan mendidik kaum perempuan
berdasarkan bimbingan agama dengan berbagai variasi ketrampilan praktis yang
berguna bagi kehidupan sehari-hari.
Upaya
pembaharuan yang dilakukannya mulai Diniyah Putri akhirna dapat diterima, ini
ditandai dengan semakin banyak permintaan dari masyarakat agar institusi ini
mengirim outputnya mengajar di berbagai daerah, bahkan sampai ke Malaysia.
Melalui para alumninya, ia berhasil mengembangkan institusi pendidikan yang
didirikannya dengan mendirikan beberapa cabang madrasah Diniyah Puteri di
Sumatera dan Jakarta.
Di samping
ide-ide pembaharuan di atas, Rahmah El-Yunusiyah juga bercita-cita membangun
rumah sakit dan mendirikan lenbaga pendidikan tinggi khusus bagi perempuan.
Semua cita-citanya belum terealisasikan sampai meninggal.
BAB
III
PENUTUP/KESIMPULAN
Kesimpulan :
v Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut
pemikirannya tentang falsafat ilmu. Konsep pendidikannya yaitu tentang tujuan
pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, konsep guru, dan konsep hukuman.
v Selain Ibnu Sina, Al-farabi juga ada kaitannya dengan pendidikan. Beliau melebihi
Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun dalam menerjemahkan dan
menyusun kembali dari sisi kitab-kitab filsafat Yunani. Menurut Al-Farabi,
pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai, pengetahuan,
dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya tertentu guna
membimbing individu menuju kesempurnaan. Penekanan pendidikan dalam pandangan
Al-Farabi adalah akal budi.
v Al-Ghazali
adalah seorang ulama besar yang menaruh perhatian cukup tinggi terhadap pendidikan.
Konsep pendidikan al-Ghazali adalah tentang peranan pendidikan, tujuan
pendidikan, pendidik dan murid.
v Selain itu
al-Ghazali, Ikhwan al-Shafa adalah perkumpulan
para mujahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada
bidang dakwah dan pendidikan. Konsep pendidikannya adalah tentang cara
mendapatkan ilmu dan sosok ideal seorang guru.
v Ibnu Khaldun
juga seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan.
Konsep pendidikan yang dikemukakannya tampak sangat dipengaruhi oleh
pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka
menjalankan fungsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat
untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.
v Muhammad Iqbal
sudah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam sebuah karya pemikirannya
mengenai konsep paradigma pendidikan dan dapat dijadikan salah satu sumber
referensi dalam upaya merekonstruksi pendidikan. Konsep peranan pendidik,
peserta didik, kurikulum dan lingkungan yang dibangun oleh Muhammad Iqbal
sangat sesuai dengan yang diharapkan oleh pendidikkan pada zaman sekarang
secara ideal.
v Penetapan
konsep Naquib Al-Attas yang tepat untuk digunakan dalam pendidikan Islam
sebagaimana didefinisikan, dalam hal ini adalah ta’dib, bukannya tarbiyah atau
ta’lim. Hal ini dikarenakan dalam ta’dib itu sendiri sudah tercakup ketiga
istilah tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan yang dimaksudkan
al-Attas adalah insan kamil atau manusia universal. Hal ini merujuk pada
pribadi Nabi SAW yang merupakan perwujudan manusia sempurna, sedangkan
pendidikan diarahkan pada terwujudnya potensi dan bawaan manusia sehingga bisa
sedekat mungkin menyerupai Nabi SAW.
v Hasan
Langgulung salah sesorang pemikir Muslim Asia
Tenggara yang banyak mencurahkan perhatiannya pada Islamisasi Ilmu
Pengetahuan, terutama pada bidang pendidikan dan Psikologi. Beliau
berupaya untuk memadukan pemikiran-pemikiran barat modern dengan pemikiran
Islam. Beberapa pokok Pikiran Hasan Langgulung tentang Pendidikan Islam yaitu,
hakekat pendidikan islam, tujuan pendidikan islam, asas pendidikan islam,
kurikulum pendidikan islam, dan evaluasi pendidikan islam.
v Nurcholish Madjid, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram
1358), dari keluarga kalangan pesantren. Ayahnya bernama H. Abdul Madjid, dan
ibunya Hj. Fathonah. Konsep pendidikan yang dilakukan oleh Nurcholish Madjid
adalah pembaharuan pesantren, kebangkitan gerakan inteleqtual dikalangan ummat
islam, pendidikan akhlak.
v Rahmah el Yunusiyah
adalah sosok pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan
di Minangkabau. Ia dilahirkan pada tanggal 29 Desember 1900 M di kota Padang
Panjang. Ia menciptakan pendidikan
modernis menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum
perempuan mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai
keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan
pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin.
2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Suharto, Toto.
2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:Ar-Ruzz Media.
http://alhafizh84.wordpress.com/2012/03/03/2123/
http://syamsul-arifin-pamekasan.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://agungsusiloprayoga.blogspot.com/2013/15.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar