Selasa, 25 Maret 2014

Santri Inayatullah

HEBOH, tanggal 22 Maret 2014 pondok Inayatullah dihebohkan dengan adanya ayat-ayat Al Qur'an dikurangi.

Al Qur'an adalah pedoman hidup bagi kaum muslimin muslimat yang sangat diyakini kebenarannya di akhirat nanti. Tetapi ada kejadian yang langka ketika santri Inayatullah sedang membaca Al Qur'an. memang benar seiring perkembangan zaman ini, mesin cetak atau pencetaknya menggunakan teknologii modern sehingga tidak sempat teliti dalam pengerjaan cetakan.

Pada malam sabtu, santri Inayatullah seperti biasanya mengaji di Aula bersama Pengasuh Pondok. Ketika membaca ayat-ayat Al Qur'an tiba-tiba para santri mendadak bingung dengan adanya ayat yang kurang pada Al Qur'an pengasuh pondok. Sejenak terhenti, santri saling tanya dan "melongo" lihat kanan kiri. Pak Kyai pun ikut berhenti menanyakan kenapa para santri terdiam saat membaca Al Qur'an, ketika ditanya apa ada yang salah, para santri menjawab "njeh ayatipun mlampahi 2 ayat", Pak Kyaipun sedikit bingung dan berfikir untuk mengecek kebenaran faktanya. 

Ironisnya, Al Qur'an milik Pak Kyai terbitan dari "Keraton Yogya", sehingga beliau memutuskan berhenti dan keesokan harinya mencoba mengkonfirmasi tentang hal tersebut. 
Sampai berita singkat ini ditulis belum juga ada utusan atau konfirmasi dari pihak keraton terkait kurangnya ayat-ayat Al Qur'an.

Untuk teman-teman yang merasa ada yag aneh dengan Al Qur'an yang dimiliki, sebaiknya jika kita mengaji hendaknya ada salah satu yang menyimak dan membenarkan bacaan ayat-ayatNya agar terkesan halus tidak asal-asalan.



Selasa, 21 Januari 2014

NEGARA ISLAM PADA PERIODE MODERN YANG MELIPUTI TURKI, MESIR, ASIA BARAT, IRAN, ANAK BENUA INDIA, EROPA DAN AMERIKA: KONDISI POLITIK, KEAGAMAAN, SOSIAL.
Oleh: Riyan Hidayat
NIM: 1123100029
10 Juni 2013 pukul 19:00


Abstrak
Disini hanya ada beberapa sumber yang dapat terangkum dalam pembahasan mengenai Negara Islam pada periode Modern. Pada masa Islam modern ini ada sebagian Negara yang memang dalam sejarah sering disebutkan dalam perkembangan peradaban, baik pasca runtuhnya Khalifah Utsmaniah ataupun sebelumnya. Seperti Turki itu sendiri, Masir Asia Barat, Iran, Anak Benua India, Eropa dan Amerika. Ada sebagian tokoh yang memang memberikan sebuah pernyataan akan adanya Islam modern melalui Negara yang dikuasainya. Mustafa Kemal, sosok ini tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan peradaban Islam yang berada di Turki. Dialah orang pertama kali yang memproklamasikan Turki sebagai sebuah Negara modern. Banyak tokoh lainnya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Islam modern ini. Di bagian Mesir, Asia barat, Iran, Anak Benua India, eropa dan Amerika. Negara ini sudah berang pasti memproklamasikan dirinya sebagai Negara modern.

    A.    PENDAHULUAN
Pembaruan dalam Islam yang timbul pada periode-periode sejarah Islam mempunyai sebuah tujuan yang pasti dan nyata, yakni membawa umat Islam pada fase-fase kemajuan yang abadi, baik dalam ilmu pengetahuan maupun kebudayaan Islam itu sendiri. Perkembangan Islam dalam sejarahnya mengalami kemajuan yang sangat pesat dan juga kemunduran yang sangat menyakitkan dan mengenaskan. Pada pembahasan ini akan menguraikan perkembangan Islam pada masa modern dengan melibatkan beberapa Negara yang memang sudah diakui sebagai Negara modern. Pada masa itu, Islam mampu menjadi pemimpin peradaban. Mungkinkah Islam mampu kembali menjadi pemimpin peradaban?

Dalam bahasa Indonesia, untuk merujuk suatu kemajuan selalu dipakai kata modern, modernisasi, atau modernisme. Masyarakat barat menggunakan istilah modernisme tersebut untuk sesuatu yang mengandung arti pikiran, aliran atau paradigma baru. Istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik oleh ilmu pengetahuan maupun tekhnologi.

Islam yang secara posisi garis besar adalah pencetus dari kecanggihan ilmu barat khususnya Eropa, tentu mempunyai hak untuk kembali merebut sejarah yang sebenarnya.

B.     ISLAM DI TURKI
Dalam kaca mata barat, hampir semua negara Muslim seringkali dilihat sebagai Negara modern yang belum berhasil. Deretan fakta tentang kekurangan mereka misalnya dalam mengatur hubungan pemerintahan dengan rakyat yang dipimpinnya dan manajemen dalam mengatur kekuasaannya. Sehingga kediktoratan, nepotisme, korupsi, kolusi, dan rendahnya penerapan hak asasi manusia menjadi catatan “pinggir” dari Dunia Barat untuk Negara-negara Muslim. Singkat kata, Negara-negara Muslim bagi sebagian masyarakat Barat mempunyai reputasi sejarahnya sebagai negara modern. Padahal Dunia Barat sendiri dalam praktek kesehariannya bisa jadi tidak lebih baik, termasuk Negara-negara modern di Timur seperti Jepang, Korea dan sebagainya. Yang jelas dalam praktiknya, penerapan sistem kenegaraan modern terutama dalam menerapkan praktik demokrasi sangat tergantung pada siapa yang sedang berkuasa. (Ajid Thohir, 2004;217)
Karen Amstrong menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Islam: A Short History”(2002;185). Pengalaman dijajah dan bentrokan dengan eropa telah menyebabkan umat Islam tercabut dari akarnya. Dunia selalu berubah. Muslim menemui kesulitan dalam menanggapi Barat karena tantangan ini belum pernah ada sebelumnya.
Kejadian seperti itu pernah terjadi di Turki, bukan hanya di Negara-negara yang sebelumnya dikuasai oleh khalifah-khalifah Umayyah ataupun Abbasiyah. Pada masa Utsmani Islam mengalami puncak kemenangan dengan kuatan militernya yang luar biasa, namun pada akhirnya, kekuatan militernya mampu dikalahkan dengan kemajuan-kemajuan teknologi yang terjadi di eropa, sehingga pada akhirnya Turki Utsmani kalah.
Turki adalah jantung tepat salah satu kekhalifahan terbesar Islam, yakni Turki Utsmani. Oleh karena itu, keterikatan bangsa Turki terhadap Islam berlangsung sangat kuat sebab mereka adalah bangsa terkemuka di Dunia Islam selama berates-ratus tahun lamanya. Ini merupakan suatu indikasi tentang betapa pentinya Islam dalam kehidupan nasional rakyat Turki. Secara politis, setiap orang yang bertempat tinggal di Turki adalah orang Turki, tetapi secara kebudayaan, orang Turki adalah hanya orang Muslim. (Ajid Thohir, 2004;218).
    C.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL TURKI PADA ISLAM MODERN

Untuk saat ini, apa saja yang terjadi dengan keadaan Islam yang terjadi di masa modern ini, khususnya di Negara yang sudah bertahun-memproklamasikan sebagai sebuah Negara modern? Tentunya pertanyaan seperti ini tidak akan lepas dari keadaan politik yang terjadi di Negara Turki di zaman modern ini.

Politik disini, selebihnya menjadi tangan basar untuk merangkul sebuah kepastian dari suatu keagamaan dan sosial yang terjadi pada fase-fase tertentu. Turki melalui politiknya, mampu membawa banyak perubahan yang baik terhadap dunia Islam, terutama melalui pertentangan dengan Mustafa Kemal.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Turki, golongan Islamis, sebagaimana diwakili oleh partai Refah (Kesejahteraan), meraih kemenangan besar politik ketika mereka menangguk lebih dari 21 persen suara rakyat dan 168 kursi dari 550 kursi di Majelis Nasional pada pemilu parlemen, Desember 1995. Semula, kedua partai secular kanan-tengah terbesar, Tanah Air dan dan Jalan Sejati, karena ditekan oleh militer yang kuat, tak mau memberi Refah buah kemenangannya dengan membentuk sebuah pemerintahan koalisi minoritas. Tapi setelah tiga bulan terjadi kelumpuhan politik, kawin paksa antara kedua pemimpin Tanah Air dan Jalan Sejati, masing-masing Mesut Yilmaz dan Tensu Ciller, ambruk pada Juni 1996, membukakan jalan bagi Refah guna membentuk pemerintahan gabungan bersama Jalan Sejati. Pemimpin Refah Necmettin Erbakan akhirnya bisa menduduki kursi perdana mentri. (Fawaz A. Gergez, 2002;249)
Hal yang mustahilpun terjadi: Negara paling Sekular di Timur Tengah dilanda oleh gelombang Islamis. Cita-cita Mustafa Kemal Ataturk tentang sebuah Negara modern dan secular berpola Barat dibayangi keruntuhan. Menengok kebelakang, seperti semua visioner, Ataturk gagal dalam ikhtiyarnya menciptakan seorang manusia baru yang tak dibayangi oleh warisan sejarah kekaisaran Ottoman yang berusia Lima ratus tahun. Rakyat Turki, meski terlambat, ternyata akhirnya bergabung juga dengan kerabat Arab dan Persia mereka yang relegius dalam upaya memadukan modernitas, agama dan keotentikan budaya. Tapi tak seperti para tetangga Muslim mereka, rakyat Turki melakukannya melalui institusi dan perangkat konstitusional yang dibangun oleh Negara Kemalis. Yang membedakan Turki dalam hal ini adalah Pluralismenya, yang membuat terpinggirnya kelompok-kelompok keras Islam di Turki, disbanding dengan oposisi Islamis bersenjata di Mesir dan Aljazair. (Fawaz A. Gergez, 2002;250)

Lalu apa saja yang menjadi pemicu, sehingga ti Turki ada Islamisasi yang membuat Mustafa Kemal resah dengan Ikhtiyarnya membuat manusia baru. Denny J.A., Fransiskus Surdiasis (2006;43) mencatat tiga kelompok utama yang menjadi pemicu islamisasi dalam dunia public di Turki. Pertama adalah kaum intelektual Islam yang banyak diinspirasi oleh pemikir Islam dunia seperti Mawdudi, Sayyid Qutub dan Ali Shariati. Para intelektual ini mempengaruhi opini umum melalui berbagai media tentang politik Islam sebagai altematif dari demokrasi Barat. Kedua, adalah para terdidik dari ilmu alam. Posisi mereka sangat penting dalam masyarakat karena merekalah yang menajadi tulang punggung perkembangan ekonomi dan industri. Ketiga, kaum wanita profisional. Melalui gerakan jilbab para wanita membawa symbol Islam ke dunia politik. Jibab yang mereka gunakan berfungsi sebagai penegasan identitas atas way of life masyarakat Turki yang semakin Barat dan Sekuler.

D.    ISLAM DI MESIR

Dalam catatan sejarah, Mesir pernah diduduki oleh beberapa kerajaan, yaitu dimulai daru masa firaun, Yunani, dan Romawi, khulfaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Mamlukiyah, dan Utsmaniyah. Menurut A.J. Butler, pendudukan Negara atau kerajaan tersebut telah menyebabkan Mesir jatuh dalam situasi yang tidak menguntungkan bahkan seluruh organisasi pemerintahan di Mesir diarahkan dengan tujuan memeras keuntungan bangsa terjajah untuk kepentingan penguasanya.  (Dedi Supriyadi, 2008;271)

Di satu sisi, banyaknya Negara yang menguasai Mesir membawa nilai-nilai positif, tetapi di pihak lain, mau tidak mau disitu telah terjadi asimilasi budaya dan politik. Lebih dahsyatnya lagi, asimilasi itu terjadi dalam aspek perundang-undangannya. Seperti yang dituturkan oleh Thaha Husainm, mereka yang berda dalam roda pemerintahan Mesir modern lebih cendrung mengikuti pola raja Louis di Perancis daripada mengikuti pola Abdul Hamid di Turki. Mereka membentuk pengadilan-pengadilan negeri dan memberlakukan hukum Barat daripada hukum Islam. (Dedi Supriyadi, 2008;271)

E.     POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN

Seperti digambarkan di atas, bahwa keagamaan dan kondisi sosial yang terjadi di suatu negara tidak terindikasi dari kondisi politik yang terjadi.
Di saat perhatian dunia terfokus pada konfontrasi yang berlarut-larut antara kelompok Islamis dan rezim Aljazair, para pengamat mengabaikan sebuah pertarungan yang lebih kuat memontumnya, yaitu antara pemerintah Mesir dan oposisi Islamis. Sejak awal era 90an, Mesir menyaksikan suatu perang skala kecil, pergesekan antara rezim dan kaum Islamis, yang memangsa lebih dari seribu nyawa dan menimbulkan kerugian miliaran dolar dari sektor pariwisata. Pada awal decade 1990an, para pejabat Amerika khawatir akan situasi keamanan Mesir yang makin rusak serta perbedaan kubu antara pemerintah dan masyarakat. Menurut sebuah laporan yang tidak dikonfirmasi, dimuat dalam harian Sunday Times Landon pada awal 1993, National Intelligence Estimate—yang merepresentasikan masukan kolektif dari semua dinas (agencies) amerika serikat—meramalkan bahwa “teroris-teroris fundamintalis Islam akan terus mengambil keuntungan diseluruh Mesir, dan mengarah ke penjatuhan pemerintahan Mubarak” (Fawaz A. Gergez, 2002;221)

Walaupun beberapa pejabat AS menampik penilaian itu, faktanya Amerika sangat khawatir akan perkembangan peristiwa di Kairo. Hanya di sedikit negara Timur Tengah  keterlibatan kepentingan Amerika sama seperti di Mesir. Mesir merupakan gerbang masuk ke dunia Arab dan jangkar dari kebijakan Amerika mengenai Timur Tengah karena kaitan eratnya dengan daerah Teluk penghasil minyak serta keterlibatan aktifnya dalam proses perdamaian Arab-Israel. Amerika telah menanam investasi besar-besaran di Mesir, memberinya bantuan ekonomi dan militer sebesar lebih dari US$ 2 miliar pertahun. Sejak 1979 Kairo telah menjadi sekutu dekat Washington—melalui proses perdamaian, memmfasilitasi negosiasi-negosiasi antara Arab dan Israel, meneguhkan koalisi pimpinan AS melawan Irak. Karena semua alasan ini, para petinggi Amerika berharap Mesir merupakan obor stabilitas di kawasan yang rawan itu. (Fawaz A. Gergez, 2002;222)
Kekhawatiran Amerika semakin berlarut-larut dengan adanya gerakan kelompok politik Islam yang sudah lama muncul dengan membawa misi dakwah Islam, yaitu Ikhwanul Muslimin. 

Di Mesir terdapat kelompok politik Islam Ikhwanul Muslimin dan di Paksitan terdapat Jamaat-i Islami. Gerakan politik Islam di Mesir hadir sebagai elternatif bagi warga Mesir, di mana pemerintah Mesir yang kerapkali memaksakan kebijakannya dengan cara-cara represif dan sangat korup, tidak popular dari sebagian warga Mesir. Gerakan politik Islam di Mesir menjadi semakin terargonisasi dan berkecimpung di bidang pendidikan, kesehatan dan gerakan sosial. Hal dapat dilakukan menjadi daya tarik bagi warga Mesir, karena pemerintah kadang kala tidak mampu untuk menyediakan sarana-sarana tersebut. Mubarak, seperti pemerintah-pemerintah lainnya di Timur Tengah, mengatakan bahwa tidak ada kelompok moderat di dalam gerakan politik Islam. Mubarok tidak segan-segan melakukan tindakan represif terhadap gerakan politik Islam. Lebih jauh lagi dia menyarankan agar kelompok intelektual-moderat Muslim untuk lebih menunjukkan gigi mereka. (Sihbudi, 2007;30)

Namun represif pemerintah itu musnah setelah adanya demontrasi besaran-besaran di Mesir, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2011. Para demontran menuntuk kepada Husni Mubarak untuk turun dari tahta kepresidenan dikarenakan dalam menjalani pemerintahan tidak pecus dan seringkali mencekal kondisi umat Islam di Mesir. Dengan terjadinya demontran dan tuntutan kepada Husni Mubarak untuk turun tahta akhirnya Mubarak jatuh kerezimannya terhadap masyarakat Mesir.

Pasca dari jatuhnya Mubarak, Ikhwanul Muslim tampil berani untuk menyerukan kepada masyarakat Mesir bagaimana Mesir dijalankan. Sehingga dari usaha itu mendapat banyak dukungan dari masyarakat Mesir dan akhirnya , pemerintahan Mesir dipimpin oleh Mohammed Morsi. Meskipun pada hakikatnya, tujuan dari menyerukan itu tiada lain hanya sekedar ingin berpartisipasi dalam demokrasi di Mesir bukan mendominasi dalam pemerintahan.

F.     ISLAM DI ASIA BARAT

Hampir semua negara di Asia Barat (kecuali Israel, Libanon, Cyprus) berpendudukan agama Islam. Di wilayah ini, Islam lahir pada abad ke-7 M, dan di sini pula dakwah Islam menyebar luas. Kawasan yang mayoritas terdiri atas bangsa Arab, memainkan peranan penting dalam segala peristiwa yang terkait sejarah dengan Islam. Karena itu, wilayah ini dikatakan sebagai “jantung dunia Islam”. (Dedi Supriyadi, 2008;276)

G.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL MESIR PADA ISLAM MODERN

Di Arab Saudi, tidak ada setu wilayah pun yang memiliki kedudukan khusus dan sejarah istimewa, kecuali setelah munculnya  Islam di Mekkah Al-Mukarramah. Raja-raja Islam secara bergantian telah menguasai Jazirah, sampai kemudian berakhir pada masa Saud.
Yaman, mayoritas beragama Islam (99%), hampir dari seperempatnya adalah pengikut Madzhab Syiah Az-Zaidiyah. Sejumlah revolusi telah terjadi di negeri ini. Pimpinannya Salim Rabi’ dicopot lalu di hukum mati. Seelah itu datang Abdul Fattah Ismail, yang dicopot dan di asingkan. Lalu, kekuasaan dipegang oleh Ali Nashir Muhammad. Kemudian kembali dipegang Abdul Fattah. Maka terjadi perang senjata antara kedua kekuatan ini pada tahun 1406-1407 H/1985-1986 M. Abdul Fattah terbunuh, sedangkan Ali Nashir melarikan diri.

Pada tahun 1994 M, telah disepakati undang-undang baru bagi Yaman  setelah dikembalikan lagi kesatuannya pada tahun 1420 H/1999 M. Pemilihan Presiden baru akan berlangsung, Yaman menderita karena hilangnya kekuasaan menyeluruh yang terlepas ke dalam kabilah-kabilah yang bersenjata. Saat ini, Yaman tengah menentukan garis batas dengan Saudi Arabia. Irak (negeri yang terletak di antara dua sungai) telah berdiri sejumlah peradaban kuno klasik. Irak tergabung masuk ke dalam pemerintahan Islamiah, setelah kemenangan besar Al-Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash pada tahun 14 H/635 M. Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja Islam (Umayyah dan Abbasiyah), lalu datang arus penyerbuan Monglia yang membumihanguskan negeri ini pada tahun 656 H/1258 M. Kemudian dikuasai oleh orang-orang Ustamaniyah pada masa antara tahun 941-1337 H/1534-1918 M. Pada tahun 1339 H/1920 M, wilayah ini berada di bawah otonomi Inggris. Pada tahun 1339 H/1921 M, Faisal bi Husein dinobatkan sebagai Raja Irak oleh Inggris dengan perdana mentrinya Nuri Kurdi pada tahun 1922-1932 M. Irak kemudian memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1531 H/1932 M.

Di Yordania mengalamai kekacauan setelah adanya rovolusi besar Arab  pada tahun 1335 H/1916 M dengan menyerang Ustamaniyah, setelah sebelumnya Yordania berada di bawah kekuasaam Utsmaniyah. Penyerangan ini di bawah pimpinan Husein Syarif yang berasal dari Mekkah dengan dukungan Inggris. Pada tahun 1340 H/1921 M. Yordania terbagi antara Perancis dan Inggris sehingga muncullah Yordania seperti wilayah merdeka, dikuasai oleh dua orang anak Asy-Syarif Husein Al-hasyimiyah yang memerintah di Yordania dan Irak.

Di daerah bagian Afganistan. Secara historis, diketahui bahwa nadir Shah setelah melakukan konslidasi di Persia, Nadr Quli Beg memusatkan perhatian ke wilayah timur untuk menyerang Heart (wilayah Afganistan). Pemimpin suku Abdali, Zulfikar Khan memohon bantuan kepada Kandahar, kemudian Saidal Khan, pemimpin suku Ghilzai mengirimkan bantuannya. Dalam peperangan di Kafir Kila, DEKAT PERBATAN Afghan, suku Afghan menderita kekalahan oleh penumpasan bangsa Persia pada tahun 1731. Nadir sendiri bersama pasukannya pada tahun 1732 menyerang kembali Heat. Ia menyerbun mati-matian, namun mengalami kekecewaan karena barisan kekuatan pasukan lawan memohon berdamai. Nadir dengan kesan penuh keberanian bicara kepada mereka dengan penuh rasa hormat, dan menarik pasukan tentara lawan menjadi barisan tentaranya. Ia terpilih menjadi Shah di Persia dengan nama Nadir Shah, pada tahun 1736. (Dedi Supriyadi,2008;283)

Sejak abad 16 sampai 18, Afghanistan tidak memiliki identitas politik dalam negeri dan merupakan bagian dari Kerajaan Mughal di India dan Kerajaan Safawi di Persia. Wilayahnya mencakup Kabul di utara sampai penugunangan Hindu Khus, Heart, dan Farah. Kandahar selama beberapa tahun diperselisihkan, namun suatu ketika Uzbek mampu mempengaruhi bagian utara dan barat. Secara berangsur-angsur mereka dapat mencapai tujuan kemerdekaan diikuti terbunuhnya penguasa Nadir Shah, yang memungkinkan tercapainya kemerdekaan di bawah penguasa Durani yang selanjutnya mendirikan kerajaan Durani pada tahun 1747. (Dedi Supriyadi, 2008;284)
Kebanyakan penduduk Afghanistan menganut agama Muhammad (Islam). Namun, mereka terbagi ke dalam beberapa suku yang berbeda, yang datang dari yemapt berbeda, serta memakai bahasa yang berbeda pula. Setelah melalui penaklukan, banyak tentara  yang menetap di sana dan melangsungkan pernikahan, selanjutnya membentuk suku-suku baru.

Walaupun Afghanistan merupakan salah satu pusat utama bagi penganut Budha, namun Islam telah menjadi dominasi sejak abad ke-10, bahkan Islam menjadi agama Negara yang dianut mayoritas penduduk. Muslim Afghanistan banyak menganut madzhab Hanafi atau termasuk sekte Sunni. Suku Hazzarat dan sebagian kecil penduduk lainnya menganut Sekte Syi’ah. Penduduk Nuristan tunduk terhadap Islam katika Amir Abdur Rahman Khan mengirim pasukan militer ke Gunung Valley pada tahun 1895. Sebelumnya, mereka termasuk kafir dan wilayahnya dinamakan Kafiristan.
      
     H.    ISLAM DI IRAN

Di Negara ini persentase pemeluk agama Islam sebesar + 98% (mayoritas adalah pengikut Syi’ah yang bermadzhab itsna Asyari atau Ja’fari) yang merupakan madzhab resmi negara. Di sana terdapt sedikit pengikut Sunni, Nasrani, Yahudi, dan Zoroaster yang jumlahnya tidak lebih dari 2%.
Iran muncul sebagai sebuah negara pada abad ke-10 H/16 M, dengan keluarga Syafawiyah sebagai penguasanya (907-1148 H/1502-1735 M) dengan mengumumkan madzhab Syi’ah sebagai madzhab Negara. Pada tahun 1135 H/1722 M. irna dikuasai oleh orang-orang Afghanistan. Kemudian dikuasai oleh Nadir Shah yang mengusir orang-orang Utsmaniyah dan Rusia.

I.       POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL IRAN PADA ISLAM MODERN

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah modern adalah Revolusi Islam di Iran. Revolusi ini penting dalam dua hal; pertama, ia adalah respons terbesar atas tantang hegemoni Barat;kedua, ia menyumbangkan sebuah model revolusi dalam sejarah dunia. Hassan Hanafi dengan tegas menyatakan bahwa kiri islam hasil yang nyata dari revolusi Islam Akbar di Iran. Yang menarik, ketika Hassan Hanafi menyebut revolusi Iran ia selalu menggunakan kata sifat “akbar”, yang dari situ kita dapat memperkirakan betapa besar dampak revolusi Islam itu ke dalam pemikiran Hassan Hanafi dan Intelektual Arab—muslim pada umumnya. Bagi Hassan Hanafi sendiri, Revolusi Iran adalah “Revolusi Islam yang terjadi di Iran.” Salah satu responsinya terhadap Barat adalah dengan cara memperkenalkan Revolusi Islam itu kepada khalayak muslim, namun  bukan berarti dengan demikian ia “menganjurkan” melakukan oposisi terhadap pemerintah, apalagi agitasi atau  pemberontakan di dalam suatu Negara. Kiri Islam sesungguhnya hanya melakukan investigasi terhadap gerakan revolusioneritu dan ingin melakukan teorisasi revolusi di kalangan muslim.  Revolusi yang dimaksud adalah Revolusi Tauhid. (Kazuo Shimogaki, 2003;51)

Revolusi Islam Iran dinilai sebagai kemenangan al-haq atas al-bhatil dan lambang kemenangan kaum tertindas (mustadh’afin) atas kaum penindas (mustakbirin), menimbulkan kepercayaan diri di kalangan gerakan Islam diberbagai negara Muslim, khususnya dikalangan Muslim Syi’ah yang tersebar diseluruh negara Arab . contohnya, kelompok Islam antimonarki di Arab Saudi (dikenal dengan nama “Gerakan Imam Mahdi”) pun berani unjuk kekuatan  dengan menduduki Majidil Haram Makkah (20 November 1979), disusul kemudian aksi demontrasi besar-besaran antimonarki di Hasa oleh kaum Syiah Saudi (29 November 1979). (Asep, 2000;98)

Diseluruh dunia Islam, revolusi Islam Iran menjadi model tentang apa yang mungkin dicapai oleh Islam politik. Pada revolusi itulah, pertama kalinya para pemimpin Islam mengambil alih kekuasaan di sebuah negara modern yang besar. Revolusi ini menjadi menjadi inspirasi bagi para aktivis politik Islam di mana-mana. Akan tetapi, apa yang didirikan di atas tradisi monarki  Iran tentu saja berbeda dari apa yang dapat didirikan di atas tradisi kesukuan Arab atau Afghanistan. (Antony Black, 2006;605)
Monarki Patrimonial di Iran, yang selamat dari Invasi Arab Muslim dan Mongol, runtuh pada abad ke-20. Setelah 1.300 tahun hidup berdampingan, Islam akhirnya menggantikannya dengan pranata politik-keagamaannya sendiri. Republik Islam Iran adalah sebuah fenomena unik. Bagaimana ia akan berkembang, mustahil diprediksi. Berkaca pada sejarah panjang naiknya Ulama’ Syiah ke panggung kekuasaan, tampaknya tidak mungkin mereka akan kehilangan kekuasaan dengan mudah. (Antony Black, 2006;605)

J.      ISLAM DI ANAK BENUA INDIA

Situasi India, secara kultural, saat Islam masuk sebeanranya sedang berada ddalam titik lemah, akibat konflik yang berkepanjangan antarkekuatan agama dan politik, yakni antara kasta Brahmanik-Hinduisme dan keyakinan Budha, serta munculnya berbagai elit politik, terutama dominannya elit Rajput dengan elit-elit politik Hindu. Dalam kondisi demikian, pemerintahan local mengambil peran yang lebih dominan dalam menanamkan pengaruhnya terhadap rakyatnya. Tidak hanya sebatas itu, berbagai kewenangan yang berlebihan dalam penggunaan kekuasaannya pun hampir mudah ditemukan di setiap wilayah. Anehnya, masyarakat India tetap saja setia pada kenyataan tersebut. (Dedi Supriyadi, 2008;301)

Gambaran umum tentang masyarakat India saat Islam memasuki wilayah ini, menunjukkan indikasi yang sangat sulit bagi proses Islamisasi. Ini menunjukkan bahwa betapa kuatnya pengaruh dan dominasi kultural yang telah dibentuk oleh pendahulu dan penguasanya dalam menciptakan ideology keagamaan dan sentiment kulturalnya. Melihat kondisi ini, seorang sejarawan Muslim terkemuka di Al-Baruni (wafat tahun 1048 di Ghazna, Afghanistan sekarang), dalam kapasitasnya sebagai pengamat sosial menjelaskan dalam karya Kitab Al-Hind yang ditulisnya pada tahun 1017, menyimpulkan bahwa ada lima hal penting yang menjadi titik perhatian pengamatannya, sekaligus menjadi cirri jhas masyarakt India, dalam menolak sesuatu yang dayang dari luar, yakni bahasa, agama, tradisi, dan kebencian terhadap orang asing, fanatisme, dan keangkuhan budaya. (Dedi Supriyadi, 2008; 301)

K.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL ANAK BENUA INDIA PADA ISLAM MODERN

Islam adalah agama monoritas di Anak Benua India sehingga kurang mempunyai ruang gerak  untuk membumikan dan mengukuhkan eksistensinya. Islam dan Hindu ibarat dua arus sungai yang mengalir dan bersumber dai muara yang berbeda. Walaupun penduduknya tetap hidup berdampingan bersama selama berbad-abad, namun pandangan mereka tetap hidup dan kehidupan merupakan batas pemisah yang tidak bisa dijembatani. (Zaenal Ali, 2008; 78)

Teori dua bangsa adalah konsep yang dirintis oleh Sayyed Ahmad  Khan, seorang tokoh Revivalis India. Teori ini berdasar pada realitas sejarah bahwa umat Islam dan Hindu merupakan dua bangsa dengan latar belakang budaya, beradaban, adat, literature, sejarah dan agama yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut telah memicu konflik internal antar-pemeluk agama yang sama-sama berusaha untuk menancapkan hegemoni politik di Anak Benua India. (Zaenal Ali, 2008; 78) Dengan bantuan dan dukungan dari Inggris, umat Hindu berhasil menggeser dan menyingkirkan umat Islam dari pos-pos penting pemerintahan sehingga mereka kehilangan hak-hak politik serta kebebasan dalam menjalankan perintah dan ajaran Islam. Kondisi ini semakin memburuk akibat dari sikap curiga pemerintah Inggris dan India terhadap umat Islam. (Zaenal Ali, 2008; 78)

Keterpurukan Umat Islam di India menjadi dampak yang sangat memprihatinkan dari ekonomi, pendidikan, dan politik. Dari kondisi inilah kemudian Umat Islam di India berkobar untuk memisahkan diri dari India dan membentuk sebuah negara yang melindungi identitas bangsa dan agama. Ini menjadi bukti bahwa Pakistan lahir dari sebuah komitmen ideologi yang berakar pada prinsip Islam.

L.     ISLAM DI EROPA

Secara historis, penyebaran imigran muslim di Eropa sekarang mencerminkan wilayah pengaruh penjajahan masa lalu. Kebanyakan imigran yang menetap di Perancis adalah orang Maroko, Aljazair, dan sejumlah muslim Afrika dari Selatan Sahara. Mereka semua, awalnya dijajah Perancis. Kebanyakan orang Indonesia menempati Belanda. Adapun Inggris banyak ditempati imigran dari Anak Benua India, Malaysia, dan sejumlah orang Yaman, Somalia, dan Afrika Utara. Sedangkan Jerman agak berbeda, imigran yang ada kebanyakan orang Turki, Maroko, dan yang lainnya tidak ada kaitan dengan pengaruh Jerman. Sekalipun mereka orang muslim, namun gaya hidup masing-masing sesuai dengan kebiasaan dan sikap hidup yang dibawa dari negeri asalnya menunjukkan perbedaan. (Dedi Suryadi, 2008; 308) Islam mempunyai banyak sumbangan atas kebudayaan Eropa. Mereka banyak menyimpan tulisan Yunani Kuno dan menerjemahkannya sehingga dapat dimamfaatkan oleh orang Eropa. Islam juga banyak memajukan bidang studi matematika dan kedokteran. System angka yang berasal dari Arab mulai diperkenalkan dan masih tetap dipakai hingga saat ini. (Dedi Suryadi, 2008; 308)

M.   POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL EROPA PADA ISLAM MODERN

Memprediksi jumlah penduduk Eropa sangatlah sukar sebab sangat sulit memperoleh data yang akurat. Tiap-tiap negara mempunyai catatan masing-masing yang sulit dipertanggungjawabkan nilai keakuratannya. Sebuah laporan penelitian menyebutkan, orang Muslim yang berada di Perancis [ada 1980-an ada sekitar 3 juta orang. Warga Muslim yang terdapat di Jerman Barat pada 1987 sekitar 1.650.000 orang. Sedangkan penduduk Muslim Inggris pada 1991 sekitar 1.200.000 orang. Kebenaran hasil sensus ini masih diragukan sebab mungkin sensus dilakukan berdasarkan negeri asal mereka, kemudian diinterpretasikan menjadi data yang menunjukkan penduduk Muslim mengingat semua imigran ti memeluk agama Islam. (Ajid Thohir, 2004;330)

Setelah para imigran Muslim terkonsentrasi pada daerah-daerah tertentu di suatu negara Eropa, mereka mulai merasa penting terhadap masjid dan organisasi sebagaimana mereka ketika berada di negara-negara asalnya. Jumlah masjid mulai berkembang. Di Inggris misalnya, pada akhir 1960, hanya tercatat Sembilan masjid sebagai tempat ibadah. Dan hanya bertambah empat masjid lagi selama lima tahun berikutnya, tetapi pada 1966, terdapat loncatan sehingga jumlah masjid terus bertambah delapan buah tiap tahunnya. (Ajid Thohir, 2004;331)

Setelah mereka berkenalan dengan proses birokrasi dari pemerintahan local, masjid baru bertambah terus sehingga tercatat penambahan sekitar 20 sampai 30 masjid tiap tahunnya. Pada akhir 1985, terdapat 329 masjid yang tercatat, dan diperkirakan banyak masjid yang didirikan tetapi tidak sempat tercatat. (Ajid Thohir, 2004;331)
Tantangan yang dihadapi umat Islam yang hidup di Eropa pada umumnya sama dengan mereka yang hidup di daerah-daerah lain sebagai kelompok minoritas. Tantangan ini ada yang datang dari luar dan ada yang datang dari dalam. (Dedi Supriyadi, 2008;314)
Politik, tentunya menjadi tantangan pertama dalam mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Eropa. Sebab kemajuan politik di sini, maka akan berpengaruh dengan perkembangan pendidikan dam ekonomi Islam di Eropa khususnya.

Tantangan dari luar adalah kondisi negara sekuler yang di satu pihak member kesempatan kepada setiap pemeluk agama untuk bebas menjalankan agamanya. Namun, di lain pihak segala sesuatu yang dapat merugikan umat Islam pun dapat berlangsung dengan bebas. Di Eropa Barat banyak para orientalis yang sering memutarbalikkan ajaran Islam sehingga citra Islam menjadi rusak. (Dedi Supriyadi, 2008;314)
Tantangan dari dalam berupa bagaimana menyatukan potensi yang dimiliki umat Islam, sehingga Islam tidak terkotak-kotak dalam aliran tertentu dan terlihat kompak dalam menghadapi segala problem dunia modern. Umat Islam harus mampu memberikan citra ideal pada bangs Eropa Barat, bukan sebaliknya, larut dalam kehidupan barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. (Dedi Supriyadi, 2008;315)

N.    ISLAM DI AMERIKA

Masuknya Islam ke Amerika masih bersifat spekulatif karena tidak ada teori yang tegas kedatangan Islam masuk ke Amerika. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa para pelaut muslim adalah orang-orang pertama yang menyeberangi samudra Atlantik dan tiba di pantai-pantai Amerika. Sebagian lain mengatakan, bahwa Cristoper Colombus telah dibimbing untuk mendarat di benua itu oleh navigator-navigator dan pembantu-pembantu muslim Andalusia atau Maroko yang jasa-jasanya telah dibayar oleh Colombus. (Dedi Supriyadi, 2008;315)

Adapun orang Amerika yang pertama sebagai pemeluk Islam yang tercatat adalah Reverend Norman, seorang misionaris gereja Methodisty di Turki yang memeluk Islam pada tahun 1970, pada decade berikutnya seorang Afro Amerika. Muhammad Alexandder Russel Webb yang masuk Islam ketika ia bertugas sebagai konsul jenderal AS di Filipina pada tahun 1887. Ia adalah pelopor yang pertama mendirikan organisasi Islam di negeri ini pada tahun 1893 dan menerbitkan The Muslim World sebagai sarana dakwahnya. (Dedi Supriyadi, 2008;317)

Memasuki abad ke-19, perdagangan budak diberhentikan, terutama setelah Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Emancipation Proklamation (Proklamasi kemerdekaan) tanggal 1 Januari 1863, yang menetapkan bahwa budak-budak di negara sebagian AS adalah merdeka. Dengan demikian, banyak orang Islam yang berasal dari Mesir, Yordania, Siria, Irak, Pakistan, India, Turki, Yugoslavia, Uni Soviet, dan Albania yang bermigrasi ke Amerika pada tahun itu kemudian disusul dengan gelombang imigrasi berikutnya. (Dedi Supriyadi, 2008;317)

O.    POLITIK, KEAGAMAAN DAN SOSIAL AMERIKA PADA ISLAM MODERN

Menurut cendikiawan terkemuka Prancis, Maxime Rodinson, “Umat Kristen di Barat mempersepsi Dunia Muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam dilihat sebagai masalah nyata.” Pandangan ini disepakati oleh sejarawan Inggris Albert Hourani, yang berpendapat bahwa Islam sejak awal kemunculannya merupakan masalah bagi Eropa yang Kristen. (Fawaz A. Gerges, 2002; 47)
Tidak seperti Eropa, Amerika tak terlibat dalam hubungan panjang dan berdarah dengan negara-negara manapun masyarakat Muslim. Amerika tidak pernah secara langsung menguasai tanah Arab dan muslim ataupun membentuk system rumit penjajahan seperti yang dilakukan Eropa.

Perkembangan politik Islam di kawasan Amerika semakin berkembang terutama di kawasan Meksiko, Negara yang berada di kawasan Benua Amerika itu sendiri. Sejarah perkembangan Islam di negeri ini tidak lepas dari masuknya pengaruh asing berupa penjajahan bangsa Barat yang didominasi Kristen. Di antara pergolakan politik, Islam di Meksiko mulai menjalar dalam nuansa damai dan kekeluargaan. Perlahan-lahan, perkembangan Islam di Meksiko pun mulai tampak sejak tahun 1993. Dengan didirikannya pusat Kebudayaan Islam Meksiko (Centro Cultural Islamico de Mexico atau CCIM) di tahun 1994, beberapa penduduk no Muslim mulai mengenal Islam. Secara umum, respon di semua tingkat sosial cukup baik dan mulai menerima keberadaan Islam.

Politik yang terjadi di Amerika semakin membuat beberapa negara Muslim geram. Hal yang menjadi pemicu kegeraman adalah bentuk pernyataan terorisme yang disodorkan oleh Amerika kepada public Islam. Terorisme muncul sebagai salah satu isu politik terpenting di Amerika Serikat. Sebagian pejabat dan pengamat di AS mengaitkannya dengan dengan Militan Islam, khususnya Iran. Mentri Luar Negeri AS Warren Christopher mengatakan, “Iran adalah negara sponsor terorisme nomor satu di Dunia.”
Gejolak politik di Amerika semakin memanas setalah tragedy pengeboman World Trade Center pada Februari 1993, yang menyebabkan sepuluh Muslim dituduh menjalankan “perang terorisme Urban” melawan Amerika dan merencanakan pembunuhan Presiden (Mesir Mubarak. Beberapa pengamat semakin memanas-manasi situasi dengan memperingatkan tentang adanya suatu jaringan internasional yang terkordinasi dari kelompok-kelompok “teroris Islam” di seluruh Amerika Serikat dengan senjata tertuju kea rah kepentingan-kepentingan Barat.

Dari tragedi 1993 itulah, pencekalan demi pencekalan terjadi di Amerika terhadap kaum Muslim yang berada di sana. Penindasan dan pelecehan terus terjadi, dan umat Islam terasa di asingkan dari kehidupan Amerika.

Kegeraman dunia Islam terhadap Amerika adalah sikap Amerika kepada Islam ketika terkuak pelecehan Amerika terhadap Alquran dengan membakarnya. Sebagaimana dilansir di Liputan6.com, Springfiled: Pembakaran Alquran yang sebelumnya akan dilakukan oleh pendeta dari Florida Terry Jones, pada peringatan tragedi 11 September, urung dilaksanakan karena mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Namun ternyata pembakaran dilakukan oleh pengikut Terry, pendeta Bob Old dan Danny Allen. Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat.
Bob Old dan rekannya Danny Allen berdiri bersama di halaman belakang rumah tua. Mereka menyebut tindakan itu sebagai panggilan dari Tuhan. Mereka membakar dua salinan Quran dan satu teks Islam lainnya di depan segelintir orang, yang sebagian besar dari media.

Namun seiring pekembangan Islam sekarang. Setelah naiknya Barrack Obama, Islam yang tinggal di Amerika ada di garis aman dan untuk sementara ini tidak ada gangguaan.
Menurut Ajid Thohir yang dilansir di http://www.rimanews.com/read/20130423/99918/perkembangan-islam-di-amerika-serikat-dari-masa-ke-masa, sejarah perkembangan Islam di Amerika dewasa ini terus mengalami peningkatan dengan adanya tiga faktor. Pertama, arus datangnya kaum imigran muslim semakin bertambah, dan keturunan mereka juga bertambah. Kedua, konversi agama di kalangan penduduk Amerika berkulit hitam. Ketiga, konversi agama di kalangan kulit putih.

P.       PENUTUP

Dari keterangan di atas diambil secara kesimpulan bahwa perkembangan Islam di masa modern ini masih belum bisa diunggulkan secara politik. Namun meskipun terbelakangnya sistem politik disini. Secara garis besar bahwa perkembangan Islam secara jumlah mulai meningkat dan terus meningkat dari setiap masa. Tidak kemungkinan, masa-masa selajutnya, dari jumlah yang mulai meningkat, mampu memenangkan panggung poltik yang sekarang belum begitu stabil.

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Supriyadi, M.Ag, Sejarah Peradaban Islam, Bandung, Pustaka Setia, 2008
Fawaz A. Gerges, Amerika dan Islam politik: benturan peradaban atau benturan kepentingan?, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2002
Denny J.A., Fransiskus Surdiasis, Catatan Politik, Yogyakarta; PT LKiS Pelangi Aksara, 2006
M. Riza Sihbudi, Menyendera Timur Tengah, Jakarta: Hikmah, 2007
Kazuo Shimogaki, Kiri islam: antara modernisme dan postmodernisme : telaah kritis pemikiran Hassan Hanafi, Yogyakarta; PT LKiS Pelangi Aksara, 2003
Asep Syamsul M. Romli, Demonologi Islam: upaya Barat membasmi kekuatan Islam Kajian politik. Jakarta; Gema Insani Press, 2000
Antony Black, Pemikiran politik Islam: dari masa Nabi hingga masa kini, Jakarta; PT Serambi Ilmu Semesta, 2006
Zaenal Ali, Tragedi Banazir Bhutto, Yogyakarta; Narasi, 2008
http://news.liputan6.com/read/296609/pembakaran-alquran-ternyata-jadi-dilakukan 08 Juni 2013


Rabu, 01 Januari 2014

Cara Memperoleh Ilmu

"Pertama kali ilmu ditangkap dengan sanubari, kemudian dengan hati, lalu dengan anggota badan. Bila hendak mengikutti majelisku, masuklah dengan memisahkan diri dari ilmu dan amalmu serta ucapan, keturunan, pangkatmu, serta melupakan keluarga dan hartamu. Datanglah dengan hati yang bersih dari selain Allah. Dengan begitu, hatimu akan terbungkus dengan kedekatan dan kemurahan-Nya. Jika itu kaulakukan, jadilah engkau laksana burung lapar yang terbang pada siang hari dan pulang pada sore hari.


Sumber: ibid, h. 18


Buah Wahyu


"Janganlah kalian meremehkan petuah ulama dan orang bijak
Petuah mereka adalah obat,
dan kata-kata mereka adalah buah wahyu Allah Azza wa Jalla

Gugatan Ilmu

"ilmu kalian akan berseru, "Aku akan menuntut kalian jika kalian tidak mengamalkanku. sebaliknya, aku akan membela kalian jika kalian mengamalkanku". Ilmu kalian berseru tetapi kalian tidak mendengarnya karena tak punya hati. Dengarkanlah seruan itu dengan telinga hati dan sanubari, serta penuhilah keinginannya. Dengan begitu, kalian akan memperoleh manfaat ilmu. Mengamalkan ilmu mendekatkan diri kalian kepada Yang Mahatahu. Kalian pun tidak dianggap mengikuti Rasul sebelum mengamalkan apa yang disabdakannya.

Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani
Sumber: Al Fatah Al Rabbani, h. 23

Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani

Makna Hadits "Allah tidak akan Menerima Doa yang Salah" 

syeikh ditanya tentang hadits nabi saw, "Laa yaqbalullohu du'aa an malhuunaan" (Allah tidak akan menerima doa yang salah)

Syeikh menjawab, "Makna hadits itu adalah bahwa Allah Swt. tidak akan menerima atau mengabulkan doa yang dibuat-buat, bersajak, dan penuh kepura-puraan. Nabi pernah menegaskan, "Aku dan orang-orang yang bertaqwa dari umatku terlepas dari kepura-puraan".





sumber: (Syeikh:126)

Sabtu, 28 Desember 2013

MAKALAH KONSEP PENDIDIKAN ISLAM TOKOH TIMUR TENGAH

MAKALAH

KONSEP MENDASAR PENDIDIKAN MENURUT PARA FILOSOF TIMUR TENGAH
Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Ali Priyono, S.Ag., M.Pd.I
Oleh:
Titis Mufatikhah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BAHRUL ‘ULUM
(STAI-BU)
TAMBAKBERAS JOMBANG
2013
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) dengan berbagai coraknya, berorientasi memberikan bekal kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan Islam selalu diperbaharui konsepnya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati, tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk dipecahkan Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam. Dewasa  ini,  pendidikan  Islam  di  seluruh  dunia  sedang  menghadapi tantangan yang sangat berat seiring dengan datangnya era globalisasi dan informasi.
Menyikapi persoalan di atas telah banyak melahirkan sejumlah tokoh di berbagai pelosok dunia islam seperti yang mewakili wilayah Timur Tengah serta Asia Tenggara. Misalnya: Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ikhwan Al-Shafa, Ibn Khaldun, Iqbal, Naquib al-Attas, Hasan Langgulung, Nur Cholis Madjid, dan Rahmah El-Yunusiyah. Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Bagitu juga dengan Al-Farabi. Al-Farabi adalah salah satu pemikir dalam pendidikan islam yang dikenal juga sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Dimana dalam kehidupannya Al-Farabi selalu menimba ilmu pengetahuan baik ilmu agama dan umum. Dengan berbagai ilmu yang diperolehnya, Al-Farabi menjadi seorang ahli filosof yang terkenal.
Al-Ghazali juga punya peran yang luar biasa, spesial dalam bidang tasawuf, tetapi juga tidak bisa terpisah dari keahliannya dalam berbagai ilmu. Tokoh lainnya seperti Ikhwan Al-Shafa adalah perkumpulan para mujtahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat.
Iqbal telah merekonstruksi sebuah bangunan filsafat Islam yang dapat menjadi bekal individu-individu muslim dalam mengantisipasi peradaban Barat yang materialistik ataupun tradisi Timur yang fatalistik. Jika diterapkan maka konsep-konsep filosofis Iqbal akan memiliki implikasi-implikasi kemanusiaan dan sosial yang luas. Naquib Al-Attas, juga termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya.
Hasan Langgulung, yang berupaya untuk memberikan kontribusinya dalam mengembangkan pemikiran pendidikan islam sebagai langkah konkrit dalam ikut menyelesaikan berbagai problematika sistem pendidikan islam dan menghendaki adanya keutuhan “sistem pendidikan islam modern”. Nurcholis Madjid adalah tokoh pembaharu yang tidak asing lagi untuk banyak orang. Pemikiran-pemikirannya tak luput dari sorotan banyak ahli baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tidak jarang banyak pemikirannya yang dijadikan sebagai rujukan dalam pembahasan terkait keIslaman, keIndonesiaan, Politik bahkan Pendidikan. Adapun filosof wanita yaitu Rahmah El-Yunusiyah dalam memajukan pendidikan, ia berpendapat bahwa pendidikan tidak diperuntukkan oleh orang laki-laki saja namun wanita juga mempunyai hal yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan sejajar dengan kaum laki-laki.
Berlandaskan dari penuturan di atas, maka makalah ini akan membahas pemikiran mendasar para filosof tentang konsep dasar pendidikan yang mewakili wilayah Timur Tengah dan Asia Tenggara.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Sina?
2.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Farabi?
3.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Ghazali?
4.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Ikhwan Al-Shafa?
5.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Khaldun?
6.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Iqbal?
7.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Naquib Al-Attas?
8.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Hasan Langgulung?
9.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Nur Cholis Madjid?
10.  Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Rahmah El-Yunusiyah?
C.     Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Sina.
2.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Farabi.
3.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Al-Ghazali.
4.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Ikhwan Al-Shafa.
5.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Ibn Khaldun.
6.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Iqbal.
7.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Naquib Al-Attas.
8.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Hasan Langgulung.
9.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Nur Cholis Madjid.
10.  Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Rahmah El-Yunusiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pendidikan Islam dalam Pemikiran Ibn Sina
1.      Riwayat Hidup Ibn Sina
Nama lengkapnya adalah Abu ’Ali al-Husyn ibn Abdullah. Penyebutan nama ini telah menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari bahasa latin, Avin Sina, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari kata Al-Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina. Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama tersebut dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Afshana.
Dalam sejarah pemikiran islam, Ibnu Sina di kenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Ia lahir pada tahun 370 H. Bertepatan dengan tahun 980 M, di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat bukhara, di kawasan Asia Tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Belkh, suatu kota yang termasyhur dikalangan orang-orang Yunani, kota tersebut sebagai pusat kegiatan polotik, juga sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan.
Adapun Ibu Ibnu Sina bernama Astarah, berasal dari Afshana yang termasuk wilayah Afganistan. Namun demikian, ia ada yang menyebutkan sebagai berkebangsaan Persia, karena pada abad ke-10 M, wilayah Afganistanini termasuk daerah Persia. Tampilnya Ibnu Sina selain sebagai ilmuwan yang terkenal didukung oleh tempat kelahirannya sebagai ibu kota kebudayaan, dan orang tuanya yang dikenal sebagai pejabat tinggi, juga karena kecerdasannya yang luar biasa. Sejarah mencatat, bahwa Ibnu Sina melalui pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali ia pelajari ialah membaca al-qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama islam seperti tafsir, fiqh, ushuluddin dan lain-lain. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-qur’an dan menguasai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.
Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Menurut Ibnu Sina terbagi menjadi 2, yaitu: ilmu yang tak kekal dan ilmu yang kekal. Ilmu yang kekal dari peranannya sebagai alat dapat disebut logika. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan ilmu yang teoritis. Sejarah mencatat sejumlah guru yang pernah mendidik Ibnu Sina diantaranya:
Mahmud al-Massah (ahli matematika). Abi Muhammad Ismail ibn al Husyaini (ahli fiqh). Abi Abdillah an-Natili (ahli manthiq dan falsafah). Selanjutnya dengan cara otodidak, ibnu sina mempelajari ilmu kedokteran secara mendalam, hingga ia menjadi seorang dokter yang termasyhur pada zamannya. Hal ini didukung oleh kesungguhannya melakukan penelitian dan praktek pengobatan. Berkenaan dengan ini sebagian para penerjemah menduga bahwa ibnu sina mempelajari ilmu kedokteran dari ‘Ali abi Sahl al-Masity dan Abi mansur al-Hasan ibn Nuh al-Qamary. Dengan cara demikian, ilmu kedokteran mengalami perkembangan yang didukung oleh keluasan teori dan praktek.
Karya Ibnu Sina dalam bidang kedokteran antara lain Al-Qanun fi Al-Thibb. Dalam bidang filsafat As-Syifa dan An-Najab. Dalam bidang fisika Fi Asam al-‘alum al-‘aqliyah. Bidang logika Al-Isaquji. Bidang bahasa Arab Lisan Al-‘Arab.
2.      Konsep Pendidikan Ibn Sina
a.    Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dilmilikinya.
Khusus pendidikan yang bersifat jasmani, ibnu sina mengatakan hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olahraga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan. Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan. Melalui pendidikan jasmani olahraga, seorang anak diarahkan agar terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan pendidikan budi pekerti di harapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya hayalnya.
Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dan sebagainya. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara professional.
Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi diinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di masyarakat.
b.    Kurikulum
Konsep Ibn Sina tentang kurikulum didasarkan pada perkembangan usia anak.
Ø  Untuk anak usia 3-5 tahun, menurut Ibn Sina perlu diberikan mata pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, kesenian.
Ø  Untuk anak usia 5-14 tahun, menurut Ibn Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an, pelajaran agama, pelajaran syair, dan pelajaran olah raga.
Ø  Untuk anak usia 14 tahun keatas, pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya tapi perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat anak.
c.    Metode Pengajaran
Suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibn Sina diantaranya talqin, demonstrasi, pembiasaan, teladan,magang dan penugasan.
d.      Konsep Guru
Guru yang baik ialah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan bermain-main di hadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, bersih, dan suci murni.
e.      Konsep Hukuman
Ibn Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya bolah dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal, sedangkan dalam keadaan normal hukuman tidak boleh dilakukan.
B.     Pendidikan Islam dalam Pemikiran Al-Farabi
1.      Riwayat Hidup Al-Farabi
AL-Farabi nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkan ibn Auzalagh. Dikalangan orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia lahir di Wasy, distrik Farab (sekarang dikenal dengan kota Atrar), Tukistan pada 257 H (870 M). Ayahnya seorang jendral berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki.
Beliau adalah seorang Tabib yang kenamaan, seorang ahli ilmu pasti dan seorang filsuf yang ulung. Ia juga terkenal sebagai ahli dalam bahasa Arab, Parsi, Suria, dan Turki. Beliau melebihi Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun dalam menerjemahkan dan menyusun kembali dari sisi kitab-kitab filsafat Yunani. Dengan demikian maka beliau dianggap sebagai yang paling terpelajar dan tajam diantara para komentator karya Aristoteles. Karangan beliau tidak kurang dari 128 kitab. Kemudian beliau wafat pada usia 80 tahun tepat 337 H (950 M).
2.      Konsep pendidikan Al-Farabi
Menurut Al-Farabi, pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai, pengetahuan, dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya tertentu guna membimbing individu menuju kesempurnaan. Karena manusia yang sempurna, menurut al-Farabi, sebagaimana dipaparkan Professor Ammar Al-Talbi dalam tulisannya yang berjudul “Al-Farabi’s Doctrine of Education: Between Philosophy and Sociological Theory”, adalah mereka yang telah mengetahui kebajikan secara teoretis dan menjalankannya dalam praktik keseharian. Pendidikan, menurut Al-Farabi, harus menggabungkan antara kemampuan teoretis dari belajar yang diaplikasikan dan tindakan praktis.
Kesempurnaan manusia, kata dia, terletak pada tindakannya yang sesuai dengan teori yang dipahaminya. Ilmu tidak akan mempunyai arti kecuali jika ilmu itu dapat diterapkan dalam kenyataan di masyarakat. Karena, jika tidak diterapkan, ilmu itu tak berguna. Penekanan pendidikan dalam pandangan Al-Farabi adalah akal budi. Ia menyarankan bahwa anak yang bertabiat jelek dapat diluruskan dengan cara penanaman pendidikan akhlak. Untuk anak yang tingkat inteligensinya rendah dapat dicerdaskan melalui metode keteladanan, yakni melalui contoh yang diberikan secara berulang-ulang. Sedangkan untuk anak yang cerdas dan bertabiat baik, kata Al-Farabi, hendaknya disikapi dengan penuh penghargaan. Karena bagaimanapun menurutnya, pelajaran yang harus diprioritaskan bagi setiap anak adalah pembinaan akhlak. Sebab, akhlak merupakan modal dasar untuk menguasai segala macam disiplin ilmu lainnya. Metode pembelajaran yang ditekankan Al-Farabi mengacu pada tujuan akhir pendidikan, yaitu untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan. Mengacu kepada tujuan akhir ini, metode pembelajaran yang paling baik untuk diterapkan kepada anak didik adalah metode instruksi. Namun, menurut dia, metode ini tidak begitu saja bisa diajarkan ke semua orang. Harus ada pembedaan kelompok, yakni kelompok orang-orang biasa dan kalangan elite. Bagi orang-orang biasa, dasar metodenya adalah persuasif dan bagi orang elite adalah demonstratif. Dalam metode demonstratif, anak didik diajak untuk mencapai nilai-nilai teoretis. Prosesnya dijalankan dengan melakukan instruksi oral (lisan), misalnya, melalui kegiatan pidato. Al-Farabi juga menekankan pentingnya diskusi dan dialog dalam metode instruksi agar anak didik mampu meraih pemahaman yang sebenarnya.
Pencapaian nilai-nilai seni dan moral merupakan ciri dari metode persuasif. Metode ini merupakan metode yang mengajak atau memengaruhi anak didik tanpa butuh kepastian pengetahuan atau tanpa ada bukti-bukti yang mendukung. Metode ini akan berjalan bila orang yang dipengaruhi merasa senang dan puas. Lebih jauh Al-Farabi menekankan metode instruksi yang digagasnya ini memiliki dua aspek, yaitu model audisi dan model imitasi. Dalam model audisi, anak didik belajar dengan didasarkan pada kemampuan berbicaranya yang disertai dengan pemahaman dan pengertiannya akan realitas. Sedangkan model imitasi adalah dengan terlebih dahulu mengamati gerak-gerik orang lain dan kemudian menirunya, tetapi dalam hal-hal yang baik saja. Untuk meraih kesempurnaan dari metode yang dibuatnya ini, Al-Farabi sangat menekankan kebiasaan. Kebiasaan yang mengakar, kata dia, akan menjadikan anak didik semakin mengerti akan isi pembelajaran yang diberikan oleh para gurunya. Nilai-nilai etis juga digapai dengan melakukan kebiasaan dan pengulangan sehingga nilai-nilai ini dapat tertanam dengan kuat di dalam pikiran anak. Dengan demikian, anak didik diharapkan dapat bertingkah laku baik.
C.     Pendidikan Islam dalam Pemikiran Al-Ghazali
1.      Riwayat Hidup Al-Ghazali
Imam Al Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
Al-Ghazali memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya, Tus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Selanjutnya ia pergi ke Nisyafur dan Khurasan yang pada waktu itu kedua kota tersebut terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan terpenting di dunia Islam. Di kota Nisyafur inilah al-Ghazali berguru kepada Imam al-Haramain Abi Al-Ma’ali al-Juwainy, seorang ulama’ yang bermazhab Syafi’i yang pada saat itu menjadi guru besar di Nisyafur.
Di antara mata pelajaran yang telah dipelajari al-Ghazali di kota tersebut adalah teologi, hokum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya di kemudian hari. Hal ini antara lain terlihat dari karya tulisnya yang dibuat dalam berbagai bidang dalam ilmu pengetahuan. Banyak buku yang di tulis oleh Al-Ghazali diantaranya, Ghayah Al Maram Fi Ilm Kalam (tujuan mulia dari ilmu kalam), Ihya’ Ulum Al Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), Al-Musytasyfa’ (yang menyembuhkan), Maqasidal Falasifah (tujuan dari filsafah), dan Tahafut Al-Falasifah (kehancuran dari filsafat).
Gelar yang disandang Al-Ghazali yaitu Hujjatul Islam (pembela Islam), Syaikh Al Sufiyyin (guru besar dalam tasawuf) dan Imam Al Murabin (pakar bidang pendidikan).
2.      Konsep pendidikan Al-Ghazali
a.      Peranan Pendidikan
Al-Ghazali menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan, karena pendidikanlah yang banyak menentukan corak kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya. Al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme, disebabkan ia sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Anak tergantung dari orang tua yang mendidiknya. Seorang anak hatinya bersih, murni laksana permata yang amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah yang artinya :
“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orangtualah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (H.R. Muslim).
Sejalan dengan hadits tersebut, Al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi baik. Sebaliknya jika anak itu dibiasakan kepada hal-hal yang jahat, maka anak itu akan berakhlak jelek. Pentingnya pendidikan ini didasarkan kepada pengalaman hidup al-Ghazali sendiri, yaitu sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama’ besar yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan, yang disebabkan karena pendidikan.
b.      Tujuan Pendidikan
Setelah menjelaskan peranan pendidikan sebagaimana diuraikan diatas, al-Ghazali lebih lanjut menjelaskan tujuan pendidikan. Menurutnya, tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian , kebencian dan permusuhan. Rumusan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT, tentang tujuan penciptaan manusia yaitu:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat:59)
      Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-Ghazali terhadap dunia, merasa Qanaah (merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia. Rumusan tujuan pendidikan al-Ghazali yang demikian itu juga karena al-Ghazali memandang dunia ini bukan merupakan hal yang pokok, tidak abadi dn akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal, dan maut senantiasa mengintai setiap saat.
            Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia itu hanya sebagai alat.
c.       Pendidik
Sejalan dengan pentingnya pendidikan untuk mencapai tujuan sebagaimana disebutkan diatas, al-Ghazali juga menjelaskan tentang ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan. Ciri-ciri tersebut adalah :
1.      Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sendiri.
2.      Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan upahnya adalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
3.       Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4.      Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang membawa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
5.      Di hadapan muridnya, guru harus memberikan contoh yang baik, seperti berjiwa halus, sopan, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya.
6.      Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan tingkat intelektual dan daya tangkap anak didiknya.
7.      Guru harus mengamalkan apa yang di ajarkannya, karena ia menjadi idola di mata anak muridnya.
8.      Guru harus memahami minat, bakat dan jiwa anak didiknya, sehingga di sampaing tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya.
9.      Guru harus dapat menanamkan keimanan kedalam pribadi anak didinya, sehingga akal pikiran anak didik tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.
Tipe ideal guru yang dikemukakan al-Ghazali yang demikian sarat dengan norma akhlak dan masih dianggap relevan, jika tidak dianggap hanya satu-satunya mode, melainkan jika dilengkapi dengan persyaratan yang lebih bersifat akademis dan profesi. Guru yang ideal di masa sekarang adalah guru yang memiliki persyaratan kepribadian sebagai mana yang dikemukakan al-Ghazali dan persyaratan akademis dan profesional.
d.      Murid
Sejalan dengan prinsip bahwa menuntut ilmu pengetahuan itu sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada allah, maka bagi murid dikehendaki hal-hal sebagai berikut.
1.      Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabur.
2.      Merasa satu bangunan dengan murid yang lain sehingga merupakan bangunan yang saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang.
3.      Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai mazhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran.
4.      Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat saja, melainkan berbagi ilmu dan berupaya bersungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan dari tiap ilmu tersebut.
e.      Kurikulum
Secara tradisional kurikulum dapat diartikan suatu mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Kurikulum disusun dengan sedemikian rupa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Pandangan al-Ghazali tentang kurikulum dapat dipahami dari pandangannya mengenai ilmu pengetahuan. Ia membagi ilmu pengetahuan kepada yang terlarang dan yang wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.      Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit ilmu ini tidak ada manfaatnya bagi manusia di dunia maupun diakhirat. Seperti ilmu sihir, ilmu nujun dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudarat dan akan meragukan terhadap adanya Tuhan. Oleh karena itu ilmu ini harus dijauhi.
2.      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, jika ilmu ini dipelajar akan membawa seseorang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah. Seperti Ilmu Tauhid dan Ilmu agama.
3.      Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman dan Ilhad (meniadakan Tuhan) seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok ilmu diatas, al-Ghazali membagi ilmu tersebut menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya, yaitu:
1.      Ilmu yang wajib (fardhu) yang diketahui oleh semua orang, yaitu ilmu agama, ilmu yang bersumber pada kitab Allah.
2.      Ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu kifayah, yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu kedokteran, ilmu teknik dan ilmu pertanian.
Sejalan dengan kategori diatas Imam al-Ghazali merinci lagi menjadi empat kelompok, dan inilah yang di usulkannya untuk dipelajri disekolah. Ilmu pengetahuan tersebut adalah:
1.      Ilmu al-Quran dan ilmu agama seperti fiqh, hadist dan tafsir.
2.      Ilmu-ilmu bahasa, seperti nahmu dan makhraj serta lafadz-lafadznya, karena hal ini berfungsi untuk membantu ilmu agama.
3.      Ilmu-ilmu fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, matematikan, teknologi yang beraneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
4.      Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa al-Ghazali menggunakan dua pendekatan dalam membagi ilmu pengetahuan. Pertama pendekatan fiqh yang melahirkan pembagian ilmu pada yang wajid dan fardhu kifayah. Kedua pendekatan tasawuf (akhlak) yang melahirkan pembagian ilmu pada yang terpuji dan tercela.
D.    Pendidikan Islam dalam Pemikiran Ikhwan Al-Shafa
1.      Riwayat Hidup Ikhwan Al-Shafa
Ikhwan al-Shafa adalah perkumpulan para mujahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Perkumpulan ini berkembang pada abad kedua hijriah di kota Bashrah, Irak. Organisasi ini antara lain mengajarkan tentang dasar-dasar agama Islam yang didaarkan pada persaudaraan islamiyah (ukhuwah islamiyah), yaitu suatu sikap yang memandang iman seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai sebuah organisasi ia memiliki semangat dakwah dan tabligh yang amat militant dan kepedulian yang tinggi terhadap orang lain. Semua anggota perkumpulan ini wajib menjadi guru dan mubaligh terhadap orang lain yang terdapat di masyarakat.di sinilah letak relevansinya berbicara Ikhwan al-Shafa dengan pendidikan.
2.      Konsep Pendidikan Ikhwan Al-Shafa
a.      Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
1.      Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2.      Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
3.      Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir. Konsep Imam ini disinyalir bahwa Ikhwan al-Shafa mengabdopsi konsep imam dalam pemahaman Syi’ah, yang lebih menekankan pada sikap eksklusif dalam memilih imam dari kelompoknya sendiri.
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Pandangan ini lebih dekat dengan teori Tabula Rasa John Locke (empirisme). Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.
Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Pandangan Ikhwan di atas berbeda dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, bahwa manusia sejak lahir telah membawa potensi dasar (kemampuan dasar untuk beragama) yang diberikan Allah. Jadi, sejak lahir manusia sudah punya modal ”fitrah” tidak layaknya kertas putih (kosong). Modal itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh orang tua, masyarakat, sekolah maupun lingkungan cyber universe yang diciptakan oleh kemajuan teknologi informasi (internet).
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.
b.      Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1.      Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2.      Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3.      Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4.      Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.
E.     Pendidikan Islam dalam Pemikiran Ibn Khaldun
1.      Riwayat Hidup Singkat
Sebuah ciri khas yang melatar belakangi kehidupan Ibnu Khaldun adalah ia berasal dari keluarga politisi, intelektual, dan aristocrat. Latar belakang kehidupan yang jarang dijumpai orang. Keluarganya, sebelum menyeberang ke Afrika, adalah para pemimpin politik di Moorish, Spanyol, selama beberapa abad. Ia lahir pada tanggal 7 Mei 1332 di Tunisi. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya, sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal Al-Quran, dan fasih dalam qira’at al-sab’ah, di samping dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir, hadits, fiqh (Maliki), gramatika bahasa arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. pendidikan formalnya dilaluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. dalam usia yang masih relatif muda ini ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, Khaldun juga tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. ketika usianya melewati 17 tahun ia kemudian belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya.
Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. adapun hasil karya-karyanya yang terkenal diantaranya adalah: Kitab Muqaddimah Buku pertama dari kitab al-‘ibar yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). Buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku ini juga yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum.
2.      Konsep pendidikan Ibnu Khaldun
a.      Pandangan tentang manusia didik
Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya. Menurut Khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya. Akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Pandangan Khaldun tentang manusia sebagai suatu makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya karena manusia mempunyai akal (Makhluk berfikir). Lewat kemampuan berfikirnya itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya sehingga mampu melahirkan ilmu (Pengetahuan) dan teknologi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makan hidup. Proses-proses semacam ini yang melahirkan peradaban.
Pada bagian lain, Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh – sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam – macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
b.      Pandangan tentang ilmu atau materi pendidikan
Ada dua yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pendidikan dan ilmu pengetahuan, yang pertama dipengaruhi oleh peradapan, misalnya sebuah sekolah yang didirikan didalam perkotaan yang disitu terdapat pertumbuhan ilmu, pabrik-pabrik dan pasar yang tersusun rapi, maka keadaan ini akan berpengaruh terhadap corak pendidikannya. Dan yang kedua karena adanya perbedaan lapisan sosial yang timbul dari hasil kecerdasannya yang diperoses melalui pengajaran. Hal ini berbeda dengan apa yang diduga oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa perbedaan ini bersumber pada perbedaan hakikat kemanusiaan. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan, ibnu khaldun membaginya menjadi tiga macam yaitu:
1.      Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu tentang tata bahasa (gramatika) sastra atau bahasa yang disusun secara puitis (syair).
2.      Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah nabi, ilmu ini berupa membaca kitab suci al-quran dan tafsirnya, sanad dan haditsdan pentashiannya serta istimbath tentang keadaan-keadaan fiqih. Dari al-quran itulah didapat ilmu-ilmu tafsir, ilmu usul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum allah itu melalui istimbath.
3.      Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat menunjukan manusia dengan daya fikir atau kecendrungan kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk didalam katagori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logika), ilmu alam, ilmu tehnik, ilmu hitung, ilmu tingkahlaku (behafior), termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan).
Mengenai ilmu nujum menurutnya adalah ilmu yang fasid karena ilmu dapat meramalkan segala kejadian yang belum terjadi, hal itu merupakan hal tercela. Dari beberapa cabang ilmu yang telah disebutkan diatas, ada tiga cabang ilmu yang harus diajarkan kepada peserta didik, yaitu:
a.       Ilmu syari’ah dengan segala jenisnya
b.      Ilmu filsafat seperti; ilmu alam dan ilmu ketuhanan.
c.       Ilmu alat, seperti ilmu bahasa (gramatika) ilmu filsafat (mantiq).
Dalam literatur yang lain ibnu khaldun menjelaskan tentang pentingnya nilai ilmu menulis dan berhitung karena kedua ilmu tersebut mempunyai lapangan yang lebih luas dari ilmu-ilmu lainnya dalam menambah akal. Selain itu ibnu khaldun berpendapat bahwa al-quran adalah ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak, karena mengajarkan al-quran pada anak termasuk syariat islam yang dipegang oleh para ahli agama dan dijunjung oleh setiap negara islam. Al-quran yang telah ditanamkan pada anak akan menjadi pegangan hidupnya.
c.       Metode Pengajaran
Pandangan Ibnu Khaldun tentang metode pengajaran yaitu di dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem-problem pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik. Setelah itu pendidik memberikan problem-problem yang umum dari pengetahuan tadi baru pendidik membahasnya secara lebih detail dan terperinci. Pada langkah selanjutnya, pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna. Itulah metode umum yang ditawarkan Ibnu Khaldun di dalam proses belajar mengajar.
Ibnu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, disamping mereka mempunyai kebebasan berfikir dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir lebih inovatif. Lain halnya dengan metode hafalan, yang menurutnya metode ini membuat anak didik kurang mendapatkan pemahaman yang benar. Dalam pandangan Ibnu Khaldun prinsip dari belajar bukanlah penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi. Karena menurutnya belajar dengan berdiskusi anak akan benar-benar mengerti dan paham terhadap apa yang dipelajarinya. Disamping metode yang sudah disebut di atas Ibnu Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik.
Demikianlah terlihat betapa besarnya  Ibnu Khaldun memberikan perhatiannya di bidang pendidikan. Dan jika diperhatikan dengan seksama secara umum Ibnu Khaldun menekankan pada proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Adapun beberapa prinsip dasar yang senantiasa harus diperhatikan oleh para pendidik yang akan dianalisa secara rinci pada point berikutnya.
d.      Spesialisasi
Menurut Ibnu Khaldun, orang yang mendspat keshlian dalam suatu pertukangan jarang sekalil yang ahli dalam pertukangan lainnya, misalnya tukang jahit. Hal ini disebabkan karena sekali seseorang telah menjadi ahli dalam menjahit hingga keahliannya itu hingga tertanam berurat berakar dalam jiwanya, maka setelah itu dia tidak akan ahli dalam pertukangan kayu dan batu, kecuali apabila keahlian yang pertama itu belum tertanam dengan kuat dan belum memberi corak terhadap pemikirannya. Hal ini juga didasarkan pada alasannya bahwa keahlian itu adalah sikap atau corak jiwa yang tidak dapat tumbuh serempak. Dan mereka yang pikirannya masih mentah, dan dalam keadaan masih kosong akan lebih mudah mendapatkan keahlian-keahlian baru yang dapat mereka peroleh dengan lebih mudah. Tetapi apabila jiwa itu telah bercorak dengan semacam keahlian tertentu dan tidak lagi dalam keadaan kosong, maka cetakan keahlian itu akan menjadikan jiwa itu kurang tertarik dan kurang bersedia menerima keahlian-keahlian baru.
F.      Pendidikan Islam dalam Pemikiran Iqbal
1.      Riwayat Hidup Iqbal
Lahir di Sialkot, kota peninggalan Dinasti Mughal India pada tanggal 22 Februari 1873. Ayahandanya Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan kalangan Sufi. Iqbal berasal dari keluarga miskin, dengan mendapatkan beasiswa dia mendapat pendidikan bagus. Keluarga Iqbal berasal dari keluarga Brahmana Kashmir yang telah memeluk agama Islam sejak tiga abad sebelum kelahiran Iqbal, dan menjadi penganut agama Islam yang taat. Pada tahun 1895 Iqbal menyelesaikan study di Scottish dan pergi ke Lahore. Salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan dan seni. Di kota Lahore ini, sambil melanjutkan pendidikan sarjananya ia mengajar filsafat di Government College. Pada tahun 1897 Iqbal memperoleh gelar B.A., kemudian ia mengambil program M.A. dalam bidang filsafat. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold. orientalis Inggris yang terkenal yang mengajarkan filsafat Islam di College tersebut. Dengan dorongan dan dukungan dari Arnold, Iqbal menjadi terkenal sebagai salah satu pengajar yang berbakat dan penyair di Lahor. Pada tahun 1905, ia belajar di Cambridge. Iqbal kemudian belajar di Heidilberg dan Munich. Di Munich ia menyelesaikan doktornya tahun 1908 dengan disertasi, The Development of Metaphysics in Persia. Ia kembali ke London untuk belajar di bidang keadvokatan sambil mengajar bahasa dan kesusastraan Arab di Universitas London.
2.      Konsep Pendidikan Iqbal
a.      Kurikulum
Kurikulum secara garis besar dapat diartikan dengan seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Adapun isi kurikulum pendidikan menurut Muhammad Iqbal adalah:
1.      Isi kurikulum pendidikan harus mencakup agama, sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada umumnya Muhammad Iqbal menggunakan kata “pengetahuan (knowledge) yang didasarkan pada panca indra. Pengetahuan dalam arti ini kepada manusia memberikan kekuasan yang harus ditempatkan di bawah agama. Muhammad Iqbal berpendapat bahwa agama adalah suatu kekuatan dari kepentingan besar dalam kehidupan individu juga masyarakat. Apabila pengetahuan dalam arti ini tidak ditempatkan dibawah agama, ia akan menjelma menjadi kekuatan syetan. Pengertian dalam arti ini dipandang berfungsi sebagai langkah pertama dalam rangka mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya. Oleh karenanya kitab merupakan sarana dalam penyampaian ilmu pengetahuan. Jadi menurut Muhammad Iqbal, antara agama dan ilmu pengetahuan harus berjalan secara selaras, karena agama mampu menyiapkan manusia modern untuk memikul tanggung jawab yang besar yang dimana ilmu pengetahuan juga pasti terlibat.
2.      Isi kurikulum pendidikan juga harus mencakup pembentukan kepribadian atau watak. Pendidikan watak menurut Muhammad Iqbal merupakan faktor yang penting dalam pendidikan. Untuk mengembangkan watak, menurut Muhammad Iqbal pendidikan hendaknya memupuk tiga sifat yang merupakan unsur-unsur utama dari pendidikan itu sendiri, yakni:
1.      Keberanian,
2.      Toleransi
3.      Faqir
b.      Tujuan Pendidikan
Pendidikan merupakan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan perorangan maupun kelompok masyarakat untuk membentuk manusia mukmin sejati atau yang biasa disebut dengan Insan Kamil. Iqbal menggambarkan manusia yang ideal atau sejati itu melalui hasil karya-karyanya. Dalam filsafatnya dijelaskan ada beberapa ciri manusia yang ideal, di antaranya:
1.    Hidup yang baik adalah hidup yang penuh usaha dan perjuangan, usaha itu tersebut hendaknya bersifat kreatif dan orisinil. Sebagaimana tertulis dalam syairnya :
Bila anda ingin melihat dunia sementara ini, Bila anda ingin beralih dari ketiadaan kepada keberadaan, Bertahanlah! Jangan mudah anda lenyap seperti kilatan cahaya sekejap! Pupuk keberanian bersusah payah agar berhasil meraih lumbung penuh melimpah. Bila anda memiliki sinar matahari Beranilah menjelajah langit lazuardi! Orang yang baik hendaknya belajar menerapkan intelegensinya secara meningkat terus dalam rangka penjelajahan dan pengendalian daya dan kekuatan alam, sambil menambah pengetahuan dan kekuatannya sendiri. Sebagaimana dalam syairnya : Intelek memerintah segala sesuatu yang terbuat dari cahaya maupun dari tanah liat dan tiada yang tak terjangkau karunia Illah ini Seluruh jagad tunduk merunduk pada keagungan yang abadi hanya hati yang berani menghadapi setiap derap langkahnya yang tegap.  Di samping itu, Muhammad Iqbal juga mengemukakan mengenai tujuan diselenggarakannya pendidikan Islam. Sebenarnya menurut dia pendidikan itu diawali dari adanya rasa ego. Ego akan mengalami proses evolusi dan selalu berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Ego yang sempurna itulah menurut M. Iqbal disebut sebagai insan kamil dan inilah yang menjadi tujuan pendidikan. Adapun rincian dari tujuan pendidikan itu, di antaranya: Pendidikan tidak semata-mata untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dalam pengenalan jiwa dengan Tuhan.
2.    Tujuan akhir dari pendidikan hendaknya dapat memperkokoh dan memperkuat individualitas dari semua pribadi, sehingga mereka dapat menyadari segala kemungkinan yang dapat saja menimpa mereka.
3.    Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus tertuju pada pengembangan keseluruhan potensi manusia yang mencangkup intelektual, fisik dan kemauan untuk maju. Dalam kaitanya dengan ini Muhammad Iqbal menjelaskan beberapa pemikiranya tentang kehendak kreatif. Hidup adalah kehendak kreatif yang oleh Muhammad Iqbal disebut dengan Soz . Yaitu diri yang selalu bergerak kesatu arah. Aktivitas kreatif, perjuangan tanpa henti dan partisipasi aktif dalam permasalahan dunia harus menjadi tujuan hidup. Berkat kreativitas itulah manusia telah berhasil mengubah dan menggubah yang belum tergarap dan belum terselesaikan dan mengisinya dengan aturan dan keindahan.
4.    Tujuan pendidikan harus mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam kondisi perorangan dan masyarakat atau menyesuaikan dengan kondisi masyarakat.
c.       Fungsi Pendidikan
Melahirkan melahirkan interaksi yang dinamis dan progesif agar saling bertautan secara serasi.
d.      Metode Pembelajaran
Dalam pengertian leterlijk, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari “meta” yang berarti” melalui “ dan “hodos” yang berarti” jalan yang dilalui” Metode pendidikan didasarkan pada tingkat usia anak didik berdasarkan pertimbangan periode perkembangan anak didik, Nabi mengemukakan cara mendidik yang baik. Beliau menyatakan didiklah anak-anakmu dengan cara bermain-main pada usia tujuh pertama dan tananamkanlah disiplin kepada mereka pada tujuh tahun berikutnya kemudian ajaklah mereka berdiskusi saat mereka mencapai periode usia tujuh tahun yang ketiga dan selanjutnya barulah mereka dapat di lepaskan untuk menentukan sikap hidupnya secara mandiri. Adapun metode pendidikan yang sesuai menurut Muhammad Iqbal adalah :
1.      Self activity
Metode ini di gunakan untuk mencari potensi diri atau mengembangkan potensi diri peserta didik dengan kebebasan mengembangkan kreativitas sesuai dengan yang di kehendaki
2.      Learning by doing.
Jenis pengajaran yang di kehendakinya adalah menghadapkan siswa pada situasi baru yang mengundang mereka untuk bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan yang di galinya dari sumber yang tersedia dalam lingkungan mereka.
3.      Tanya jawab.
Pendidikan harus mampu untuk mencetak pribadi yang kritis, yaitu terus bertanya dan tidak begitu saja menerima pandangan atas dasar kepercayaan belaka.
4.      Metode proyek atau unit
Adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari sesuatu masalah, kemudian di bahas dari segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Penggunaan metode ini bertitik tolak dari anggapan bahwa pemecahan masalah harus ditinjau dari berbagai macam segi agar tuntas dalam melibatkan mata pelajaran yang ada kaitannya sebagai sumber dari pemecahan masalah tersebut.
5.      Metode pemecahan masalah atau problem solving.
Bukan hanya sekedar metode berfikir sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainya yang di mulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
e.      Peranan peserta didik
Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadianya. Dilihat dari kedudukannya, peserta didik adalah mahluk yang sedang berada dalam proses perkembangan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya. Pemikiran Muhammad Iqbal tentang pendidikan khususnya pada peranan peserta didik adalah berpangkal pada kebebasan manusia. Manusia merupakan ego yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri dengan segala konsekuensinya. Dengan kebebasannya itu, peserta didik memungkinkan untuk diarahkan agar memiliki kreativitas berfikir tinggi sehingga dapat memunculkan inovasi-inovasi baru yang dapat dipergunakan untuk menjawab berbagai tantangan dimasa sekarang dan akan datang yang merupakan dampak negatif dari globalisasi dan industrialisasi. Muhammad Iqbal sepenuhnya meyakini besarnya nilai kebudayaan suatu masyarakat terhadap pendidikan serta terhadap hak pengembangan idividu. Muhammad Iqbal mengharap agar sekolah dapat membina dan mengembangkan pribadi-pribadi yang bebas, berani dan kreatif. Arti kebebasan mengandung arti yang besar. Kebebasan terkadang mengandung arti selain memilih sesuatu yang baik juga bebas untuk nenentukan pilihan yang jahat. Namun yang dimaksud kebebasan disini adalah tugas manusia untuk melaksanakan dan mewujudkan kepercayaan-Nya itu dengan jalan memanfaatkan karunia berupa kebebasan tersebut secara bijaksana dan konstruktif.
f.        Peranan pendidik
Pendidik dalam menggali dan mengembangkan konsep pendidikannya akan harus mengkaji dan meneliti hakikat individualitas dan lingkungan. Muhammad Iqbal berpendapat bahwa tumbuh kembangnya individualitas tidak mungkin terjadi tanpa kontak langsung dengan lingkungan yang konkrit dan dinamis.
Sikap pendidik yang baik menurut Muhammad Iqbal adalah dengan jalan membangkitkan kesadaran yang sungguh pada anak didiknya berkenaan dengan aneka ragam relasi dengan lingkungannya dan dengan jalan demikian merangsang pembentukan sasaran-sasaran baru secara kreatif. Muhammad Iqbal kurang menyetujui pendidikan sistem kelas, maksudnya guru yang mengurung siswanya diantara keempat dinding kelasnya. Hal ini dikarenakan bahwa anak perlu berhubungan dengan alam dalam setiap proses belajarnya, yaitu untuk menumbuhkan sikap keingintahuan serta untuk menumbuhkan kreativitasnya.
G.    Pendidikan Islam dalam Pemikiran Naquib Al-Attas
1.      Riwayat Hidup Naquib Al-Attas
Nama lengkap Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Beliau dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Pada waktu itu Indonesia berada dibawah kolonialisme Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntung secara inheren. Sebab dari kedua belah pihak,baik pihak ayah maupun pihak ibu merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli Bogor itu masih keturunan bangsawan Sunda. Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan di Johor. Bahkan mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad.
Pada usia lima tahun, Syed Muhammad Naquib dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Hang (1936-1941). Pada masa pendidikan Jepang, dia kembali ke Jawa  untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqa, Sukabumi (1941-1945). Setelah Perang Dunia II pada 1946, Syed Muhammad Naquib kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahra School kemudian di English College (1946-1951). Setelah itu, beliau mengikuti pendidikan militer, pertama di Erron Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Millitary Academy, Sandhurst, Inggris. Selain mengikuti  pendidikan militer, Al-Attas juga sering pergi ke Negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Setelah tamat dai Sandhurst, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor resimen tentara kerajaan Malaya. Al-Attas mendapatkan gelar M.A. pada 1962 dari Universitas McGill, Montreal. Sedangkan gelar Ph.D. diperoleh dari Universitas London 1965.
2.      Konsep Pendidikan Naquib Al-Attas
Syed  Muhammad  Naquib  al-Attas  adalah  salah  seorang  cendekiawan  dan filsuf muslim dari Malaysia yang menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah dan literatur. Kepakarannya dalam bidang-bidang tersebut tidak diragukan lagi dan sudah diakui oleh  berbagai  kalangan  intelektual.
Berikut  merupakan  sebagian  dari pemikiran-pemikiran yang beliau gagas.
1.      Makna dan Tujuan Pendidikan
Makna dan tujuan pendidikan adalah dua unsur yang saling berkaitan. Secara umum ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi kemayarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis, oligarkis maupun monarkis. Pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.
Ada  tiga  istilah  yang  dianggap  memiliki  arti  yang  dekat  dan  tepat  dengan makna pendidikan. Ketiga istilah itu adalah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib yang masing-masing  memiliki  karakteristik  makna  disamping  mempunyai  kesesuaian  dalam pengertian pendidikan Islam.
Ø Makna tarbiyah dalam rangka pendidikan Islam
Menurut Najib Khalid  al-Amir  ada  lima  sisi  dari  pengertian  tarbiyah  secara berkesinambungan  yang  satu  sama  lain  berbeda  sesuai  dengan  pembentukannya yaitu:
a.       Tarbiyah  adalah menyampaikan  sesuatu  untuk mencapai  kesempurnaan. Bentuk  penyampaian  satu  dengan  yang  lain  berbeda  sesuai  dengan  cara pembentukannya.
b.      Tarbiyah adalah menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.
c.       Tarbiyah adalah sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik (murabbi).
d.      Tarbiyah  dilakukan  secara  berkesinambungan.  Artinya  tahapan-tahapan sejalan  dengan  kehidupan,  tidak  berhenti  pada  batas  tertentu,  terhitung dari buaian sampai liang lahat.
e.       Tarbiyah  adalah  tujuan  terpenting dalam kehidupan baik  secara  individu maupun keseluruhan.
Ø  Makna ta’lim dalam rangka pendidikan Islam
Adapun al ta’lim secara etimologis berasal dari kata kerja “allama” yang berarti mengajar. Jadi makna ta’lim dapat diartikan “pengajaran” seperti dalam bahasa arab dinyatakan Tarbiyah wa ta’lim berarti “pendidikan  dan  pengajaran”. Sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya “al tarbiyah al Islamiyah”.
Ø  Makna ta’dib dalam rangka pendidikan Islam
Adapun ta’dib secara bahasa merupakan bentuk masdar dari kata “addaba” yang berarti memberi adab mendidik (Yunus, 1972: 37). Istilah ini dalam kaitan dengan arti pendidikan Islam telah dikemukakan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menyatakan bahwa istilah ta’dib merupakan istilah ynag dianggap tepat untuk menunjuk arti pendidikan Islam. Pengertian ini didasarkan bahwa arti pendidikan adalah meresapkan dan menambahkan adab pada manusia.
Dalam bukunya yang lain, beliau menyebutkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk menghasilkan manusia-manusia yang baik. Orang yang baik disini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.” Maka, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. Dalam pengertian yang asli adab adalah mengundang ke suatu perjamuan. Perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan terhormat dan banyak orang yang hadir. Ini juga berarti bahwa orang-orang yang hadir itu adalah mereka yang dalam penilaian tuan rumah patut mendapat atas undangan itu. Berdasarkan ini maka adab berarti juga disiplin terhadap pikiran dan jiwa, untuk menunjukkan tindakan yang betul melawan yang keliru, yang benar melawan yang salah, agar terluput dari noda dan cela.
Pendidikan menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang ini diebut ta’dib” al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad SAW. Yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal. Menurut Al-Attas, jika benar-benar dipahami dan dijelaskan dengan baik, sebagaimana telah dijelaskan diatas, konsep ta’adib adalah konsep paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Dia mengatakan, “Struktur konsep ta’adib sudah mencakup unsur-unsur ilmu, instruksi dan pembinaan yang baik sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib.”
2.      Kurikulum Dan Metode Pendidikan
Metode  merupakan  sarana  yang  bermakna  dan  faktor  yang  akan mengefektifkan  pelaksanaan  pendidikan.  Demikian  pentingnya  metode dalam pendidikan  Islam,  telah menempatkan  faktor  ini  sebagai  faktor yang esensial dalam pelaksanaan  pendidikan.
Ø  Persiapan Spiritual
Abu Sa’id Al-Kharraz , seorang sufi terkenal abad ke-9 M, mengatakan bahwa salah satu prinsip etika adalah keikhlasan, disamping kebenaran dan kesabaran. Disamping itu Al-Attas menekankan kejujuran dan keikhlasan dalam mencari ilmu dan mengajarkan ilmu.
Ø  Ketergantungan Pada Otoritas dan Peranan Guru
Al-Attas mengatakan bahwa otoritas tertinggi adalah al-Qur’an dan Nabi, yang diteruskan oleh para sahabat dan para ilmuwan laki-laki dan perempuan yang mengikuti sunahnya. Peranan guru dianggap sangat penting. Peserta didik diharapkan tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru.
Ø  Peranan Bahasa
Al-Attas selalu menganalisis dan menjelaskan konsep dan istilah kunci, serta menekankan pemakaian bahasa secara benar sehingga makna yang benar mengenai istilah dan komsep kunci yang termuat didalamnya tifak berubah atau dikacaukan. Mungkin Al-Attas adalah pemikir pertama di kalangan Muslim yang menyatakan bahwa sarana utama Islamisasi bangsa Arab pra-Islamadalah melalui Islamisasi bahasa Arab itu sendiri. Demikian pula de-Islamisasi atau sekulerisasi pemikiran Muslim juga berlangsung secara efektif melalui aspek linguistik.
Ø  Metode Tauhid
Metode tauhid ini menyelesaikan problematika dikotomi yang salah, seperti antara aspek objektif dan subjektif ilmu pengetahuan. Sayangnya apa yang dianggap objektif dianggap lebih nyata dan karena itu lebih valid daripada yang subjektif.
Ø  Pancaindra, Akal, dan Intuisi
Al-Attas membenarkan adanya kemampuan psikologis, yang dalam konsepsi Islam mengenai jiwa dan proses kognitif, kemampuan tersebu diletakkan sesuai dengan peranannya yang tepat. Sebab Islam mengakui kebenaran pelbagai saluran ilmu pengetahuan , seperti pancaindra, berita yang benar, akal sehat, dan intuisi yang digabung di dalam akidah.
Ø  Penggunaan Metafora dan Cerita
Ciri metode pendidikan A-Attas yang lain adalah penggunaan metafora dan cerita sebagai contoh atau perumpamaan, sebuah metode yang juga banyak digunakan dalam al-Qur’an dan hadis. Salah satu metafora yang sering digunakan adalah metafora papan penunjuk iklan (sign post). Kajian Al-Attas mengenai muatan pendidikan Islam berangkat dari pandangan bahwa karena manusia itu bersifat dualistis, ilmu pengetahuan yang dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik adalah yang memiliki dua aspek. Pertama, yang memenuhi kebutuhannya yang berdimensi permanen dan spiritual; dan kedua, yang memenuhi kebutuhan material dan emosional. Ia juga secara tegas mengusulkan pentingnya pemahaman dan aplikasi yang benar mengenai fardu ain dan fardu kifayah. Penekannanya pada kategorisasi ini mungkin juga karena perhatiannya terhadap kewajiban manusia dalam menuntut ilmu dan mengembangkan adab. Ilmu fardhu ’ain (ilmu-ilmu agama), yaitu :
v  Kitab suci Al-Qur’an.
v  Sunnah.
v  Syari’at.
v  Teologi.
v  Metafisika.
v  Ilmu Bahasa (bahasa Arab).
Ilmu fardhu kifayah, yaitu:
v  Ilmu Kemanusiaan
v  Ilmu Alam
v  Ilmu Terapan.
v  Ilmu Teknologi.
v  Perbandingan Agama.
v  Kebudayaan Barat.
v  Ilmu Linguistik: Bahasa Islam, dan
v  Sejarah Islam.
3.      Murid dan Guru Dalam Pandangan Syed M. Naquib Al-Attas
Peserta didik disarankan untuk tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru, sebaliknya peserta didik harus meluangkan waktu untuk mencari siapakah guru terbaik dalam bidang yang ia gemari. Adab guru dan peserta didik dalam filsafat pendidikan Al-Attas tampaknya diilhami oleh prinsip yang dipertahankan para ilmuwan Terkenal, khususnya Al-Ghazali. Selain persiapan spiritual, guru dan peserta didik harus mengamalkan adab, yaitu mendisiplinkan pikiran dan jiwa. Peserta didik harus menghormati dan percaya kepada guru; harus sabar dengan kekurangan gurunya dan menempatkannya dalam perspektif yang wajar.
Peserta didik seharusnya tidak menyibukkan diri pada opini yang bermacam-macam. Sebaliknya, ia meguasai materi sebaik penguasaannya dalam praktik. Tingkat ilmu seseorang yang bisa dibanggakan adalah yang memuaskan guru. Gurupun seharusnya tidak menafikan nasihat yang datang dari peserta didik dan harus membiarkannya berproses sesuai dengan kemammpuannya. Guru juga harus menghargai kemampuan peserta didik  dan mengoreksinya dengan penuh rasa simpati.
H.    Pendidikan Islam dalam Pemikiran Hasan Langgulung
1.      Riwayat Hidup Hasan Langgulung
Hasan Langgulung lahir pada tanggal 16 oktober 1934 , di Rappang, Sulawesi Selatan. Pendidikan Dasar yang ditempuhnya adalah SD Rappanbg ujung Pandang. Setelah itu melanjutkan studinya ke SMP dan Sekolah Menengah Islam di ujung Pandang yang berlangsung dari tahun 1949-1952. Setelah menyelesaikan sekolah menengah , Ia melanjutkan pendidkan ke B.I. Inggris di Ujung Pandang dan mendapat gelar M.A. dalam bidang psikologi dan mental Hygiene di Ein Shams University Kairo  pada tahun 1967. Sebagai puncak studinya , ia berhasil menyelesaikan program Doktor pada University of Georgia Amerika Serikat pada tahun 1971, dengan judul Disertasi: A. Cross Cultural Study of The Child Coneption of Situational  Causality in India, Westem Samao, Mexico, and the United States.     
Ia adalah salah sesorang pemikir Muslim Asia Tenggara  yang banyak mencurahkan perhatiannya pada Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terutama pada bidang pendidikan  dan Psikologi. Beliau berupaya untuk memadukan pemikiran-pemikiran barat modern dengan pemikiran Islam.
2.      Konsep Pendidikan Hasan Langgulung
Ada Beberapa pokok Pikiran Hasan Langgulung tentang Pendidikan Islam:
a.      Hakekat Pendidikan Islam
Menurut tokoh progrsivisme John Dewey, pendidikan merupakan keharusan dalam kehidupan manusia. Ini berarti bahwa pendidikan merupakan  kebutuhan hakiki, karena manusia tidak bisa hidup secara wajar tanpa adanya proses  pendidikan. Pada umumnya pendidikan diartikan sebagai pemberian bantuan orang dewasa kepada yang belum dewasa melalui pergaulan, dengan tujuan agar yng dipengaruhi kelak dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai manusia secara mandiri dan bertanggung jawab. Sehingga menurut Langgulung pendidikan dapat dilihat dari tiga segi. Pertama segi individu, kedua, masyarakat, dan ketiga individu dan masyarakat atau sebagai interaksi antara individu dan masyarakat . Dari segi individu, ia beranggapan bahwa manusia didunia ini mempunyai kemampuan yang bersifat umum, kemampuan melihat dan mendengar, berbeda beda sesuai derajat masing-masing. Dalam Pengertian ini Pendidkkan didefinisikan sebagai proses penemuan dan pengembangan kemampuan. Jadi pendidikan adalah proses menampakkan yang tersembunyi pada anak. Aspek yang tersembunyi tersebut adalah kecerdasan, pribadi, kreatifitas dan lain-lain.
Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam sebagai pengembangan potensi pada dasarnya telah diberikan oleh Allah kepada Manusia, sebagaimana firman Allah  yang artinya :
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh, (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.( Q.S. Al Hijr 29) 
Sifat sifat Tuhan yang disebut dalam Al Qur’an disimbulkan dengan nama-nama yang indah (al Asmaul Husna)  yang menyatakan Tuhan sebagai Maha Pengasih (al Rahman), Maha Penyayang (al Rahim), dan lain-lain. Bagi Hasan langgulung kalau sifat Tuhan yang berjumlah 99 itu diaktualisasikan pada diri manusia, ia merupakan potensi yang agung.
Sementara pendidikan Islam sebagai warisan budaya adalah suatu upaya bagaimana memindahkan unsur pokok peradaban dari suatu generasi ke generasi berikutnya supaya identitas umat tetap terpelihara. Sedangkan pendidikan Islam sebagai interaksi antara potensi dan budaya. Menurut Hasan Langgulung, sangat terkait dengan konsep fitrah. Fitrah dapat dipandang dari dua sisi yaitu fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia sejak lahir dan fitrah sebagai  din  yang menjadi tiang tegaknya peradaban Islam, kedua hal tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Langgulung menegaskan, jika pendidikan dianggap penting bagi individu dan masyarakat secara umum yang berlaku sepanjang zaman, maka masyarakat Islam berkewajiban memberi perhatian penuh pada pendidikan. Jadi, pendidikan Islam berusaha mengembangkan manusia seutuhnya, seperti yang berlaku pada sistem pendidikan lainnya.
b.      Tujuan Pendidikan Islam
Hasan Langgulung  menerjemahkan tujuan pendidikan islam kedalam tiga ketegori, yaitu tujuan tertinggi atau akhir (aim), tujuan umum (goals) dan tujuan khusus (objectives). Tujuan umum adalah perubahan yang dikehendaki, yang diusahakan oleh pendidikan untuk dicapai. Sedangkan yang dimaksud dengan tujuan khusus adalah perubahan yang diinginkan yang merupakan bagian tujuan umum. Tujuan khusus ini merupakan realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan umum. Menurut Hasan langgulung tujuan pendidikan baik akhir, umum, maupun khusus, semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, tetapi ia telah diungkapkan dalam bahasa dan istilah modern yang dapat dilaksanakan di bangku sekolah.
Dalam memperbincangkanm tujuan pendidikan Islam, Langgulung banyak menekankan pada tujuan akhir, karena tujuan ini tidak terbatas pada lembaga pendidikan tertentu, sehingga rumusannya terlihat sangat abstrak dan tidak operasional. Para pemikir Islam kontemporer, kurang memberikan perhatian pada tujuan khusus, bahkan menyerahkan kepada guru dan pemikir pendidikan lainnya.  Berbeda dengan pemikir Barat yang berusaha merumuskan secara jelas tujuan pendidikan khusus tersebut.
c.       Asas Pendidikan Islam
Asas pendidikan Islam menurut Hasan langgulung  memiliki nuansa yang distingtif dalam spektrum pemikiran pendidikan Islam. Dalam hal ini, ia berbeda dengan pemikir muslim lainnya. Pendidikan mempunyai asas yang merupakan tempat ia berpijak tegak dalam suatu materi, interaksi, inovasi dan cita-citanya. Adapun asas yang dimaksud adalah :
1.      Asas historis yang memberi bekal kepada pendidik pengalaman masa lalu.
2.      Asas sosial yang memberi kerangka budaya dari mana ia bergerak dan bertolak  dalam upaya memilih dan mengembangkannya.
3.      Asas ekonomi yang memberi prospek potensi manusia untuk mengatur keuangan dan bertanggungjawab terhadap anggaran belanjanya.
4.      Aspek politik  dan administrasi  yang memberi kemungkinan untuk memilih sistem, mengontrol, dan memberi arahan kepada semua asas yang lain.
d.      Kurikulum Pendidikan Islam
Hasan Langgulung dalam membahas kurikulum pendidikan Islam, memberikan definisi seperti pendapat Al-Syaibany yaitu; kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan , sosial, olah raga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah untuk murid, baik didalam maupun diluar sekolah  dengan maksud menolong perkembangan secara menyeluruh, dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.
Dari definisi diatas, Langgulung berkesimpulan bahwa kurikulum mempunyai empat unsur utama yaitu :
1.      Tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan, yaitu orang yang bagaimana yang ingin dibentuk melalui kurikulum tersebut.
2.      Pengetahuan ( knowledge), informasi, data aktifitas, dan pengalaman di mana kurikulum  terbentuk yang lazim disebut mata pelajaran.
3.      Metode dan cara mengajar yang dipakai oleh guru, untuk mendorong murid belajar dan membawa mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum.
4.      Metode dan cara penelitian yang digunakan untuk mengukur dan menilai kurikulum serta hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum.
e.      Evaluasi Pendidikan
Evaluasi pendidikan berusaha menentukan apakah tujuan pendidikan tercapai atau tidak. Evaluasi ini berkaitan dengan pertanyaan “Bagaimana efektifitas pengalaman belajar dapat dievaluasikan dengan menggunakan tes atau menggunakan prosedur pengumpulan data yang sistematik lainnya”.
Dengan demikian, evaluasi sangat penting unruk mengukur sejauh mana  keberhasilan siswa maupun guru dalam proses belajar mengajar. Menurut Hasan Langgulung, evaluasi dalam pendidikan Islam adalah mutlak adanya, karena tujuan pendidikan Islam berlaku untuk sepanjang hayat, maka kriteria penilaian  juga harus berlainan  dengan pendidikan  berasal dari falsafah lain. Bukan sekedar lulus ujian saja, namun harus dimasukkan juga kebijaksanaan (wisdom)  dan budi mulia (virtue) sebagai kriteria. Penilaian dalam pendidikan Islam, menurutnya tidak mesti bersifat materialistik,  kalaupun dipergunakan harus ditunjukkan bahwa ia hanyalah sebagai alat bukan tujuan.
I.       Pendidikan Islam dalam Pemikiran Nur Cholis Madjid
1.      Riwayat Hidup Nur Cholis Madjid
Nurcholish Madjid, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Ayahnya bernama H. Abdul Madjid, dan ibunya Hj. Fathonah, Pendidikan yang ditempuh: Sekolah Rakyat di Mojoanyar dan Bareng (pagi) dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore); Pesantren Darul 'Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul Mu'allimin al-Islamiyah) Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo; melanjutkan ke perguruan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra Arab, 1968), dan Universitas Chicago, Illinois, AS (Ph.D., Islamic Thought, 1984).
Aktif dalam gerakan kemahasiswaan. Ketua Umum PB HMI, 1966-1969 dan 1969-1971; Presiden (pertama) PEMIAT (Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara), 1967-1969; Wakil Sekjen I
IFSO (International Islamic Federation of Students Organizations), 1969-1971.
Mengajar di IAIN Syarif Hidayatullah, 1972-1976; dosen pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1985-sekarang; peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bersamaan dengan tugas-tugasnya itu, ia pernah juga berkesempatan menjadi dosen tamu pada universitas McGill, Montreal, Canada, pada tahun 1990 didampingi oleh istrinya yang mengikuti program Eisenhower Fellowship.
Ia banyak menulis makalah-makalah yang diterbitkan dalam berbagai majalah, surat kabar dan buku suntingan, beberapa diantaranya berbahasa Inggris. Buku-bukunya yang telah terbit ialah Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1984), Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung, Mizan, 1987), Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Krisis tentang Masalah Keimanan, Kemanusian dan Kemodernan, (Jakarta, yayasan wakaf paramadina, 1992).
Sejak 1986, bersama kawan-kawan di ibukota, mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Buku ini adalah salah satu hasil kegiatan itu. Dan sejak 1991 menjabat Wakil Ketua Dewan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI).
2.      Konsep Pendidikan  Nurcholish Madjid
Nurcholish Madjid dianggap sebagai ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Yang dapat ditelusuri dan dilacak gagasan dan konsep yang berkitan dengan pendidikan. Uraian berikut ini akan mencoba melihat dan menjajagi pemikiran dan gagasan Nurcholish Madjid dalam bidang pendidikan islam .
a.      Pembaruan pesantren.
Nurcholish Madjid sebagai seorang cendikiawan berpendapat bahwa pesantren berhak, malah lebih baik dan lebih berguna, mempertahankan pendidikan agama. Namun, mungkin diperlukan suatu tinajuan kembali sedemikian rupa, sehigga ajaran-ajaran agama yang diberikan kepada setiap pribadi meruapan jawaban yang komprehnesif dalam islam. Pelajaran yang dapat diberikan dalam membentuk pesantren diantaranya: (1). Mempelajari al-qur’an dengan cara yang lebih sungguh-sungguh daripada yang umumnya dilakukan orang sekarang, yaitu dengan menitiberatkan pada pemahaman makna dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. (2). Memanfaatkan mata pelajaran lain untuk disisipi pandangan-padangan keagamaan dan menanamkan kesadaran dan penghargaan yang lebih wajar pada hasilseni budaya islam atau menumbuh kepekaan rohani, termasuk kepekaan rasa ketuhanan yang menjadi keagamaan. (3). Mengadakan pengaturan kembali alokasi waktu dan tenaga pengajaran sehingga terjadi penghematan dan intensifikasi bagi pelajaran-pelajaran lainnya. (4). Memberikan pembekalan dan kemampuan yang nyata yang didapat melalui pendidikan atau pengajaran pengetahuan umum secara memadai dan menyediakan jurusan-jurusan alternatif bagi anak didik sesuai dengan potensi dan bakat mereka.   
Berdasarkan analisis di atas Nurcholish Madjid berkesimpulan bahwa tujuan pendidikan pesantren adalah membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran islam merupakan pembelajaran yang menyeluruh. Selain itu, produk pesantren ini diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk melakukan responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan-tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu yang ada (Indonesia dan dunia abad sekarang).
b.      Kebangkitan gerakan inteleqtual dikalangan ummat islam.
Pemikiran Nurcholish Madjid dalam bidang pendidikan juga terlihat dari upayanya membangkitkan rasa percaya diri pada umat islam. Caranya antara lain dengan menunjukkan bahwa ummat islam pernah tampil sebagai pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, serta tampil sebagai adikuasa. Untuk ini Nurcholish Madjid memperkenalkan pemikiran para tokoh filosof tingkat dunia, seperti al-kindi, al-asy’ari, al, Farabi, ibn. Sina, al-Ghazali. Gagasan dan pemikiran para tokoh tersebut dalam bidang teologi, filsafat, ilmu pengetahuan dan kedokteran diperkenalkan. Agar umat islam menggali khazanah intelektual islam di zaman klasik.
c.       Pendidikan akhlak.
Sejalan dengan pentingya pendidikan agama dalam lingkungan keluarga yang ditentangkan pada pengalaman agama yang terkait erat dan etika, moral dan akhlak. Untuk ini Nurcholish Madjid memiliki perhatian yang luar biasa, agar umat islam memiliki komitmen terhadap tegaknya etika, moral dan akhlak. Dalam berbagai kesempatan dalam tulisanya. Ia banyak menyinggung kehancuran suatu bangsa dari sejak zaman klasik yang penyebab utamanya adalah akhlak. Dalam berbagai kesempatan ia mengingatkan bahaya dengki yang dapat memakan segala kebaikan, dan merupakan pangkal kesengsaraan. Ia mengingatkan agar manusia menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu, taat karena benar, satu kata dan perbuatan, memperhatikan perkataan orang lain, hormat pada tua, dalam bekerja hendaknya berorientasi pada prestasi, bukan prestise, agak berfikir dan bertindak strategis, fitrah dan akhlak, akhlak dan kemajuan bangsa, hubungan amal saleh dan kesehatan jiwa, menjauhi kemewahan, mau mengatakan yang benar walaupun terasa pahit, mau berkorban, mau berderma bakti.
J.      Pendidikan Islam dalam Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah
1.      Riwayat Hidup Rahmah El-Yunusiyah
Rahmah El- Yunusiyah lahir pada hari jum’at, 1 Rajab 1318 H / 26 Oktober 1900 M, di Padang Panjang dan wafat pada hari rabu 9 Dzulhijah 1388 H / 26 Febuari 1969 M. Ia anak bungsu pasangan Syaikh Muhammad Yunus dan Rofiah. Ayahnya merupakan seorang ulama dan sekaligus Qodhi di pandai Sikat, Kakeknya bernama Imanuddin, seorang ulama ahli falak  dan pemimpin tarekat naqsabandiah di Minangkabau pada usia 16 tahun, ia dipersunting oleh Haji Baharuddin Lathif dari Sumpur Pandang Panjang. Namun demikian enam tahun kemudian (1922) ia bercerai dengan suaminya terlibat “ Islam Merah”.
2.      Konsep pendidikan Rahmah El- Yunusiyah
a.      Pendidikan Untuk Semua
Itu adalah konsepsi pendidikan yang mendasari Rahmah El- Yunusiyah, ini diangkat dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits yang memposisikan manusia pada posisi yang sama. Perbedaan diantara manusia yang satu dengan yang lainnya hanya terletak pada tingkat ketaqwaannya. Tujuan ideal ini menempatkan manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menuntut ilmu pengetahuan. Proses ini dilakukan sejak manusia berada dalam alam rahim sampai meninggal dunia.
b.      Mendirikan Madrasah li al- Banat
Ini untuk merealisasikan konsepsi yang ditawarkan Rahmah El- Yunusiyah dalam mewujudkan cita-citanya. Dengan nama madrasahnya yaitu Madrasah Diniyah Puteri Padang Panjang. Pendirian lembaga pendidikan ini memiliki tujuan untuk membentuk puteri yang berjiwa Islami, ibu (pendidik) yang cakap dan aktif, serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.
Tujuan Madrasah Diniyah puteri lainnya lebih menekankan urgensi pembentukan individu dalam hubungannya dengan tanggung jawab moral dan social, sementara di sisi lain, kelihatannya lembaga ini memiliki  konsistensi terhadap ajaran agama Islam, dalam hal ini pendidikan yang diterapkan berupaya membentuk pribadi-pribadi yang memiliki keterkaitan transenden (ruh Islam). Di samping itu, lembaga pendidikan ini juga berupaya memberikan latihan kecakapan (keterampilan) guna memunculkan kreatifitas dan realisasi peran kekhalifahan manusia di muka bumi.
c.       Pembaharuan Sistem Pendidikan
Untuk memperbaharui sistem pendidikan ia mengatakan beberapa studi banding di beberapa daerah untuk memperoleh masukan bagi menyempurnakan sistem pendidikan madrasahnya. Diantara hasil studi  banding ini, ia memandang perlu untuk melakukan medernisasi kurikulum, dengan memasukan mata pelajaran umum pada insitusi yang didirikannya.
d.      Pengembangan Aspek Kognitif, Efektif dan Psikomotorik
Dalam aktivitas proses pendidikannya, hal ini tampak pada usahanya untuk memberikan pendidikan ketrampilan praktis bagi kaum perempuan. Ketrampilan Praktik tersebut antara lain :
§  Ketrampilan Masak
§  Bertenun
§  Industri Rumah Tangga
§   Olahraga
§  Dan P3K kepada peserta didik
Jika pemikiran yang dilakukannya ini dilihat dari perspektif filsafat Islam.   Secara Komperhensif, pemikiran Rahmah El-Yunusiyah terlihat jelas pada kosep Tri Tunggal Pendidikan perempuan yaitu :
§  Pendidikan di sekolah
§  Pendidikan di asrama
§  Pendidikan di masyarakat
Ketika peta pendidikan Islam Indonesia mengarahkan orientasinya pada misi politik, megakibatkan pemerintah colonial menetapkan peraturan ordonansi sekolah liar. Peraturan ini bermaksud membatasi ruang gerak pelaksanaan pendidikan bumi putera dalam segala hal. Kondisi ini tidak membuat Rahmah El- Yunusiyah terwarnai dengan kondisi yang berkembang pada pendidikan waktu itu. Ia secara konsisten tetap mengacu pada tujuannya, tanpa mau terlibat dengan memasukan pelajaran polotik pada kurikulum lembaga pendidikannya.Sikap ini mendapat kritikan dari Rasuna Said. Menurut Rasuna Said politik sangat diperlukan bagi seseorang yang menginginkan perubahan dan pembaharuan dalam sebuah gerakan.
Kritik ini ditanggapi Rahmah El-Yunusiyah secara arif dan bijaksana. Menurutnya merujuk pada kondisi masa ini memberikan pendidikan agama yang kuat pada peserta didik lebih diperluka dari pada pendidikan politik. Politik tanpa didasari agama maka akan menjadi sebagai bumerang yang justru akan menghancurkan agama. Prinsip yang demikian konsisten ini tidak berubah, meskipun ada permintaan agar Diniyah puteri bergabung dengan anggota PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) yang mencoba mengimbangi politik Sukarno yang dilakukan melalui PNI.
Sikap konsisten yang diambil Rahmah El-Yunusiyah merupakan wujud komitmennya terhadap falsafah hidup Islam, yaitu : wujud tanggung jawab moral yang fundamental. Penekanan pada pelaksanaan pendidikan agama, merupakan upaya menanakam nilai-nilai absolute ilahi yang berfungsi sebagai control dan pemberi arah kehidupan ideal bagi umat manusia. Tatkala nilai-nilai Islam telah mampu tertanam dalam diri setiap individu dan social pada kehidupan yang baik dan sejahtera. Untuk merealisasikan ideanya in, ia memulaina dengan mendidik kaum perempuan berdasarkan bimbingan agama dengan berbagai variasi ketrampilan praktis yang berguna bagi kehidupan sehari-hari.
Upaya pembaharuan yang dilakukannya mulai Diniyah Putri akhirna dapat diterima, ini ditandai dengan semakin banyak permintaan dari masyarakat agar institusi ini mengirim outputnya mengajar di berbagai daerah, bahkan sampai ke Malaysia. Melalui para alumninya, ia berhasil mengembangkan institusi pendidikan yang didirikannya dengan mendirikan beberapa cabang madrasah Diniyah Puteri di Sumatera dan Jakarta.
Di samping ide-ide pembaharuan di atas, Rahmah El-Yunusiyah juga bercita-cita membangun rumah sakit dan mendirikan lenbaga pendidikan tinggi khusus bagi perempuan. Semua cita-citanya belum terealisasikan sampai meninggal.


BAB III
PENUTUP/KESIMPULAN
Kesimpulan :
v  Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu. Konsep pendidikannya yaitu tentang tujuan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran, konsep guru, dan konsep hukuman.
v  Selain Ibnu Sina, Al-farabi juga ada kaitannya dengan pendidikan. Beliau melebihi Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun dalam menerjemahkan dan menyusun kembali dari sisi kitab-kitab filsafat Yunani. Menurut Al-Farabi, pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai, pengetahuan, dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya tertentu guna membimbing individu menuju kesempurnaan. Penekanan pendidikan dalam pandangan Al-Farabi adalah akal budi.
v  Al-Ghazali adalah seorang ulama besar yang menaruh perhatian cukup tinggi terhadap pendidikan. Konsep pendidikan al-Ghazali adalah tentang peranan pendidikan, tujuan pendidikan, pendidik dan murid.
v  Selain itu al-Ghazali, Ikhwan al-Shafa adalah perkumpulan para mujahidin dalam bidang filsafat yang banyak memfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Konsep pendidikannya adalah tentang cara mendapatkan ilmu dan sosok ideal seorang guru.
v  Ibnu Khaldun juga seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.
v  Muhammad Iqbal sudah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam sebuah karya pemikirannya mengenai konsep paradigma pendidikan dan dapat dijadikan salah satu sumber referensi dalam upaya merekonstruksi pendidikan. Konsep peranan pendidik, peserta didik, kurikulum dan lingkungan yang dibangun oleh Muhammad Iqbal sangat sesuai dengan yang diharapkan oleh pendidikkan pada zaman sekarang secara ideal.
v  Penetapan konsep Naquib Al-Attas yang tepat untuk digunakan dalam pendidikan Islam sebagaimana didefinisikan, dalam hal ini adalah ta’dib, bukannya tarbiyah atau ta’lim. Hal ini dikarenakan dalam ta’dib itu sendiri sudah tercakup ketiga istilah tersebut. Tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan yang dimaksudkan al-Attas adalah insan kamil atau manusia universal. Hal ini merujuk pada pribadi Nabi SAW yang merupakan perwujudan manusia sempurna, sedangkan pendidikan diarahkan pada terwujudnya potensi dan bawaan manusia sehingga bisa sedekat mungkin menyerupai Nabi SAW.
v  Hasan Langgulung salah sesorang pemikir Muslim Asia Tenggara  yang banyak mencurahkan perhatiannya pada Islamisasi Ilmu Pengetahuan, terutama pada bidang pendidikan  dan Psikologi. Beliau berupaya untuk memadukan pemikiran-pemikiran barat modern dengan pemikiran Islam. Beberapa pokok Pikiran Hasan Langgulung tentang Pendidikan Islam yaitu, hakekat pendidikan islam, tujuan pendidikan islam, asas pendidikan islam, kurikulum pendidikan islam, dan evaluasi pendidikan islam.
v  Nurcholish Madjid, lahir di Jombang, 17 Maret 1939 (26 Muharram 1358), dari keluarga kalangan pesantren. Ayahnya bernama H. Abdul Madjid, dan ibunya Hj. Fathonah. Konsep pendidikan yang dilakukan oleh Nurcholish Madjid adalah pembaharuan pesantren, kebangkitan gerakan inteleqtual dikalangan ummat islam, pendidikan akhlak.
v  Rahmah el Yunusiyah  adalah  sosok  pembaharu dalam pendidikan Islam bagi kaum perempuan di Minangkabau. Ia dilahirkan pada tanggal 29 Desember 1900 M di kota Padang Panjang. Ia  menciptakan pendidikan modernis menurut modelnya sendiri, yang disesuaikan dengan kebutuhan kaum perempuan mencakup pendidikan formal umum dan agama, latihan berbagai keterampilan yang produktif, dan pendidikan akhlak yang secara eksplisit didasarkan pada agama Islam dan secara implisit kepada adat.
DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abuddin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:Ar-Ruzz Media.
http://alhafizh84.wordpress.com/2012/03/03/2123/
http://syamsul-arifin-pamekasan.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html